Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menelisik Konsep Rezeki dalam Al-Qur’an

konsep rezeki
Sumber: https://mawdoo3.com

Pada zaman sekarang ini banyak di temukan pada diri manusia adanya rasa kekhawatiran terhadap rezeki yang berlebihan. Padahal kita tak perlu khawatir tentang persoalan rezeki itu, karena dalam Al-Qur’an banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil. Seperti salah satu yang di bahas pada artikel ini, yaitu konsep rezeki dalam perspektif QS.Hud ayat 6. Di antaranya untuk menjawab kekhawatiran atau kerisauan mengenai rezeki. Berbicara konsep rezeki kita tidak perlu khawatir mengenai rezeki, karena semua itu sudah diatur oleh Allah Swt jauh sebelum kita ada di muka bumi ini.

Konsep Rezeki dalam Al-Qur’an

Dan itu sudah tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuz). Seperti yang terdapat pada penjelasan Surah Hud ayat 6, kita sebagai makhluknya Allah Swt yang bernyawa harus bergerak, berusaha, berdo’a. Agar tercapai sebuah konsep rezeki yang diinginkan, semua itu tidak akan tercapai jika kita tidak mau bergerak, berusaha, serta berdo’a kita tidak akan memperoleh rezeki itu. Seperti yang terdapat pada firman Allah QS. Hud:6 diantara Nya sebagai berikut:

                                      ۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ          

Artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya di jamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kita yang nyata (lauh mahfuz)”. QS. Hud ayat 6

Dalam penafsiran Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir yaitu: bahwa dalam ayat ini Allah menerangkan bahwasannya. Dialah yang menjamin rezeki seluruh makhluk, segala macam binatang yang ada di bumi, yang kecil atau yang besar, yang ada di laut atau di darat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tempat tinggal dan tempat menyimpan mereka. Yakni, Allah Maha Mengetahui Akhir perjalanannya di bumi, dan kemana dia setelah itu akan pergi.

Baca Juga  Hak Asasi Hewan dan Kisah Burung Hud Hud dalam Al-Quran

Demikian juga Allah Maha Mengetahui tempat menyimpan mereka. Ali bin Abi Thalhah dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang Firman Allah Swt, وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّ “Dan Dia mengetahui tempat berdiam (tempat tinggal) binatang itu,” yakni dimana dia tinggal. وَمُسْتَوْدَعَهَا “ Dan tempat penyimpanannya,” yakni tempat matinya. Mujahid berkata tentang ayat, مُسْتَقَرَّهَا “Tempat tinggal” bahwa ia adalah Rahim. وَمُسْتَوْدَعَهَا “Dan tempat penyimpanannya,” yakni dalam tulang sulbi (tulang punggung) seperti yang terdapat pada binatang.

Memperoleh Rezeki dengan Baik

Setelah memahami konsep rezeki, lalu bagaimana kita memperolehnya dengan baik serta menghilangkan kekhawatiran? Berikut 5 hal penting yang memandu manusia untuk mencari rezeki yang baik:

1. Bekerja Untuk Allah

Selama hidup di dunia kita wajib bekerja sebagai ikhtiar kita untuk menggapai rezeki dan penghidupan. Tidak boleh menggantungkan nasib dengan berpangku tangan dan mengharap-harap pemberian orang lain. Seperti dalam Sabda Rasulullah  Saw yang artinya:

“Sesungguhnya seseorang tidak akan mendapatkan makanan yang lebih baik dari pada yang didapatnya dari hasil kerjanya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah Daud a.s makan dari hasil kerja tangannya sendiri”.[HR.Bukhari]

Rasulullah saw, menegaskan pentingnya mencari penghidupan sendiri dengan bekerja, juga menekankan bahwa para nabi bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, apalagi kita sebagai manusia biasa ketika ingin memperoleh sesuatu harus bekerja.

2. Bukanlah Pekerjaan Yang Menjadi Penentu Rezeki

Pekerjaan hanya ikhtiar manusiawi yang bisa kita lakukan sebelum bertawakal kepada Allah Swt. Maka, kita harus berniat melakukan pekerjaan itu untuk Allah. Kelak Allah akan memberikan rezeki yang jauh lebih baik dari ekspektasi kita ketika bekerja. Seperti terdapat QS  Adz- Dzariyat ayat 58 yang artinya: “Sungguh Allah, dialah pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh”.

Bila kita menyadari bahwa rezeki datangnya  dari Allah Swt, bukan dari pekerjaan tangan kita, maka apapun yang kita peroleh itu akan menjadi kebaikan. Sebab jika kita tau semuanya merupakan karunia dari Allah, kita akan memiliki rasa syukur di hati. Seperti  yang di jelaskan  oleh Nabi Sulaiman a.s mengenai kekuasaanya, “Inilah karunia rabbku, untuk menguji apakah aku bersyukur atau ingkar”.

3. Memperhatikan Halal dan Haram

Tidak mungkin Allah memberikan karunia-Nya yang penuh berkah kepada orang-orang yang meniti jalan haram. Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia! Orang yang paling kaya bukanlah orang yang punya banyak harta, melainkan orang yang kaya hati. Sesungguhnya, Allah memberikan rezeki kepada hamba-Nya sesuai yang sudah ditetapkan untuknya. Maka, perbaguslah cara kalian menjemput rezeki. Ambillah yang halal. Tinggalkan yang haram”. [HR. Abu Ya’la]

Saat ini banyak yang mengeluh sulitnya mendapatkan rezeki dari jalan yang halal. Itu karena di berbagai tempat, untuk mendapatkan pekerjaan harus menyogok terlebih dahulu. Atau bisa juga bekerja tanpa menyogok, tetapi pekerjaan yang didapatkan itu posisinya rendah dan penghasilannya kecil. Adapun kesulitan yang kita dapatkan justu Allah menguji kita. Apakah kita bertahan di jalan yang halal ataukah melebur sikap menempuh jalan yang haram?

Baca Juga  Fatherless Perspektif Islam: Menilik Peran Ayah dalam Al-Qur'an

Jalan yang haram memang bisa saja tampak lebih mudah dan praktis untuk dilalui, tetapi nilai yang kita dapatkan darinya tentu berbeda dengan yang bisa kita dapatkan dari  jalan yang halal. Janganlah pernah tergoda untuk menempuh jalan yang haram karena Allah Swt tentu tidak akan mengecewakan siapa saja yang berpegang teguh di jalan-Nya.

4. Bertawakal Kepada Allah

Termasuk syarat untuk meraih rezeki yang terbaik.  Bertawakal artinya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah hasil dari setiap usaha yang dilakukan. Jadi, bukanlah tawakal namanya jika kita memaksakan kepada Allah agar menjadikan keinginan kita terwujud. Cukuplah bagi kita meminta kepada Allah di berikan hasil yang terbaik. Pasti Allah akan memberikannya baik itu sesuai dengan apa yang kita harapkan maupun tidak. Allah lebih tau mana yang terbaik untuk kita.“….Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluanya)….” [QS. Ath-Thalaq:3]

5. Uang Bukan Satu-Satunya konsep Rezeki

Uang dan materi bukan menjadi satu-satunya konsep rezeki dan simbol kekayaan. Ada banyak hal lainya yang lebih bernilai dari pada harta, seperti kesehatan, waktu yang berkualitas bersama-sama dengan keluarga, rasa aman, cinta, kedamaian, kepercayaan dari orang lain, dan kebermanfaatan yang bisa di tebarkan kepada sesama manusia. Itu semua rezeki dan tidak bisa di beli dengan uang.