Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Tafsir Tematik: Iblis dalam Al-Qur’an

Sumber: https://pwmu.co/

Dalam bahasa Arab, Iblis berasal dari kata Ablasa-Yublisu-Iblis yang berarti putus asa, frustasi, atau berduka cita. Sedangkan dalam Bahasa Yunani Iblis dari kata diabolos yang berarti pemfitnah dan pembuat tipu daya (Sketsa Al-Qur’an, 47). Lafazh ini adalah sesuai dengan wazan ifil, diambil dari kata alablas, yakni putus asa dari rahmat Allah.

Kata Iblis dalam bahasa Persi berarti “putus asa dan jauh dari kebenaran”. Oleh karena itu, ia disebut dengan panggilan Abu Murrah, yang artinya bapak kemungkaran, atau sering disebut dengan biangkerok. Iblis juga dijuluki yang terlaknat. Sebab dia tidak mau bertaubat dengan kesalahannya dan tetap melakukan kemungkaran (Kejujuran Iblis Kepada Rasulullah SAW, 30).

Konon makhluk yang bernama Iblis ini, pada mulanya bernama Azazil adalah nama asli dari Iblis (Kisah para Nabi dan Rasul, 26). Sebelum diciptakannya Adam, Azazil pernah menjadi imam para Malaikat dan khazin al-Jannah. Kata Azazil merupakan bahasa Arab kuno yang terdiri dari dua suku kata yaitu Aziz yang berarti terhormat, berharga, sangat kuat dan Eil yang merupakan penamaan Allah di zaman Arab Kuno.

Azazil secara harfiah berarti makhluk kuat Allah atau makhluk terhormat Allah. Azazil sangat banyak memiliki nama panggilan, Abu Kurdus, Sayid al-Malaikat dan Khazin al-Janah. Di setiap langit ia memiliki julukan yang sangat bagus, sampai akhirnya dipanggil Iblis oleh Allah, ketika ia tidak mau menghormati Adam. (Menyibak Tabir Alam Ghaib, 26).

Nama-Nama Iblis Beserta Tugasnya

Berikut nama-nama Iblis yang dikatakan oleh Umar bin khathab yang bertugas menyesatkan manusia untuk dijerumuskan ke dalam kefasikan, kemaksiatan, kemusyrikan dan kekufuran, yang nanti menjadi temannya di dalam neraka (Wajah-Wajah Iblis, 3-19):

Baca Juga  Penafsiran Khalifah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30: Perspektif Abduh

Zaylatun bertugas menjerumuskan para pedagang di pasar agar berdust. Mau mengurangi timbangan, membuat onar diantara para pedagang, dan melakukan bujuk rayu kepada para pedagang agar melakukan penyimpangan dan kecurangan dalam akad jual beli, dengan diiming-imingi agar cepat kaya.

Wâwâthîn bertugas menggoda orang yang beriman agar tidak sabar dan tidak ikhlas. Cara Iblis ini, menjerumuskan orang yang beriman adalah dengan menanamkan rasa ketidak-puasan terhadap takdir Allah, mempengaruhi jiwanya agar memberontak ketika menerima musibah, membakar emosinya dan menghilangkan sifat sabarnya.

Akwan bertugas mempengaruhi para remaja dan pimpinan umat supaya selalu berbuat zhalim. Sedangkan Iblis Hafaf bertugas melakukan tipu daya agar kaum muslim melanggengkan minum khamer. Sebab jika seorang sudah minum khamer dan mabuk, maka segala bentuk kemungkaran yang lain dengan mudah ia laksanakan.

Wâmurah ini bertugas menjerumuskan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, mengajak berbuat munkar, serta lagu-lagu yang bersyair kebebasan tanpa etika. Juga menjerumuskan para penyanyi agar berpenampilan seronok, yang dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat. Lalu Iblis Laqwâs adalah Iblis yang bertugas mempengaruhi manusia agar tetap kafir, tetap musyrik dan tetap menyembah berhala atau sesembahan lainnya selain Allah.

Awâr bertugas untuk mempengaruhi dan menggoda laki-laki dan wanita untuk melakukan perbuatan zina, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya. Kemudian al-Wasnân ini tugasnya mengencingi orang supaya malas bangun untuk beribadah.

Dâsim bertugas untuk mempengaruhi, menggoda dan mendorong suami istri untuk melakukan penyelewengan. Dengan terjadinya penyelewengan, maka sudah barang tentu rumah tangganya akan menjadi berantakan, tidak harmonis, jauh dari kebahagiaan yang pada akhirnya nanti akan terjadi perceraian.

Ayat-Ayat Mengenai Iblis

Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat mengenai pembahasan iblis, yaitu pada surat Al-Baqarah:34, Al-A’raf:11, Al-Hijr:31-32, Al-Isra’:61, Al-Kahfi:50, As-Syu’ara:95, Saba’:20, dan Shad:74-75. Namun hanya dua saja yang dicantumkan dalam artikel ini yaitu Al-Baqarah:34, dan Al-Kahfi:50.

Baca Juga  Mengambil Pelajaran Rasa Kepo Kisah Nabi Adam dan Hawa di Surga

Q.S Al-Baqarah 2:34

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ٣٤

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.

Q.S Al-Kahfi 18: 50

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَه وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا ٥٠

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia termasuk (golongan) jin, kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai penolong selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Dia (Iblis) seburuk-buruk pengganti Allah bagi orang-orang zalim.

Penafsiran Ar-Razi Tentang Q.S Al-Baqarah 2: 34.

Pada ayat ke ini, Ar-Razi menafsirkan mengenai pemaparan derajat manusia dibandingkan malaikat. Menyebutkan Adam dengan kekhalifahan terlebih dahulu, kemudian mengangkatnya dengan banyak ilmu, sampai para malaikat tidak mampu mencapai derajatnya dalam ilmu, dan kemudian penyebutan sujudnya malaikat kepada Adam atas perintah Allah.

Dalam tafsirnya Ar-Razi juga menjelaskan bahwa ayat ini memiliki beberapa masalah. Namun penulis akan merangkumkan penafsiran Ar-Razi secara singkat dan jelas. Pada beberapa masalah tersebut ia menjelaskan bahwa arti perintah bersujud disini menurut iblis adalah karena Adam dianggap lebih mulia daripada iblis jika ia mau bersujud pada Adam. Sehingga ia menolak karena ia merasa lebih angkuh daripada hanya makhluk yang tercipta dari tanah. Namun dalam tafsirnya diklarifikasi bahwasannya sujud sebenarnya bisa bermakna sebuah pengagungan saja bukan penyembahan, sujud adalah sebuah kerendahan hati dan bentuk penghormatan.

Baca Juga  Isyarat Berfikir Kritis Perspektif al-Qur’an

Penafsiran Jalalain tentang Q.S al-Kahfi 18: 50

Pada ayat ini Jalalain menafsirkan bahwa lafal Idz dinashabkan oleh lafal Udzkur; yang tidak disebutkan dengan cara membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepadanya. Bukan dengan cara; meletakkan kening (maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah segolongan dari jin) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa makhluk itu adalah sejenis malaikat.

Berdasarkan pengertian ini maka istitsnanya adalah Muttashil. Menurut pendapat yang lain Istitsna ini adalah Munqathi’. Berdasarkan pengertian ini maka iblis adalah biang jin, ia mempunyai keturunan yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan Malaikat tidak mempunyai keturunan artinya, iblis itu membangkang tidak mau taat kepada-Nya, karena ia tidak mau bersujud kepada Nabi Adam.

(Patutkah Engkau mengambil dia dan turunan-turunannya) pembicaraan ini ditujukan kepada Nabi Adam dan keturunannya. Dan Dhamir Ha pada dua tempat kembali kepada iblis yang kemudian kalian taati mereka sedangkan mereka adalah musuh kalian. Lafal ‘Aduwwun berkedudukan menjadi Hal karena bermakna A’daa-an. (Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti Allah bagi orang-orang yang lalim) yakni iblis dan keturunannya untuk ditaati sebagai pengganti taat kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al-sawab.

Editor: An-Najmi