Siapa yang tidak ingin hidup dengan damai? Pastinya, semua makhluk hidup yang terhampar di muka bumi ini ingin merasakan hidup yang layak serta damai. Mencari kebutuhan fisik dengan damai, mencapai keinginan mental secara damai, dan segala aspek kehidupannya dirasakan dengan kedamaian. Jika dalam personalitas seseorang yang tersaji hanya kekerasan, konflik, sengketa, atau apapun itu, maka hal itu akan memengaruhi seseorang physically maupun mentally.
Emile Durkheim, seorang tokoh sosiolog yang fenomenal, memberikan perspeksi terhadap kajian kehidupan sosial dan keagamaan. Salah satu kajian terbesarnya adalah mengenai agama yang menjadi dasar seseorang memiliki solidaritas yang tinggi. Al-Qur’an sendiri menegaskan dalam QS. al-Anfal: 61,
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Selain ayat di atas, masih terdapat beberapa ayat terkait perdamaian sebagai ujung tombak agama Islam. Untuk itu, mari kita simak uraian berikut ini!
Biografi Emile Durkheim
Di kota Epinal, kota berdekatan dengan Strasbourg daerah timur laut Perancis, Emile Durkheim dilahirkan. Ayahnya adalah seorang Rabbi Yahudi, sehingga ia sejak muda sudah dikenalkan dengan nuansa keagamaan yang tinggi. Selain aahnya, ia juga diajar oleh guru-guru sekaligus tokoh Katholik. Akan tetapi, hal itu tidak mampu membuat Durkheim muda mengikrarkan keimanannya. Ia menegaskan dirinya sebagai seorang agnostik
Dengan kecerdasan yang ia miliki sejak kecil, umur 21 tahun ia menyelesaikan studinya di Ecole Normale Superiure Perancis dengan studi Filsafat dan Sejarah. Pada umur 44 tahun ia mendapatkan gelar professor di Paris, serta menandai puncak karir intelektualnya. Salh satu karya fenomenalnya adalah “The Elementary of Religious Life”, buku ini merupakan hasil penelitannya selama bertahun-tahun yang terfokuskan pada kajian sosial, budaya, dan agama. Karya lain yang tidak kalah fenomenal adalah The Rule of Sociological Method. Buku ini sekaligus menetapkan sosiologi sebagai ilmu sosial positivis dan juga sebagai fakta sosial (Adi Susanto, dkk, Biografi Tokho-Tokoh Sosiologi Klasik sampai Postmodern, 17).
Agama dalam Pandangan Durkheim
Emile Durkheim merupakan seorang agnostik. Walaupun begitu, ia memberikan perpeksinya sendiri perihal agama. Durkeim tidak meyakini kebenaran tertinggi terhadap sesuatu, termasuk Tuhan. Jika terminologi agama yang berkembang selama ini adalah datang dari kekuatan Ilahi, ataupun wahyu Tuhan, maka Durkheim memberi penegasan bahwa agama merupakan representasi kolektif dari masyarakat yang menjadi satu.
Penyatuan kekuatan tersebut membentuk suatu anonym, kekuatan yang impersonal. Kekuatan impersonal tersebut yang menggiring masyarakat kepada kehidupan religious, yaitu agama. Sehingga, Durkheim menyimpulka bahwa agama bukanlah titah Tuhan, melainkan kekuatan pemikiran kolektif masyarakat yang menjadi satu, serta kekuatan moral dan kemudian direpresentasikan ke dalam bentuk agama (Daniel L. Pals, Seven Theories of Relgion, 194).
Kendati demikian, ide yang ditawarkan Durkheim menarik untuk diinterpretasikan dan diimplementasikan di ranah Islam. kesadaran kolektif masyarakat yang membentuk sakralitas agama, terbesit nilai-nilai ukhuwah yang tinggi. Nilai ukhuwah inilah yang menjadi pondasi fundamental untuk suatu agama bisa bertahan dan meregulasikan nilai-nilainya.
Pentingnya Membentuk Solidaritas Dalam Islam
Bagaimana Islam mampu menginternalisasi nilai-nilai yang ditawarkan Durkheim dalam idenya terkait solidaritas? Islam memiliki term khusus perihal solidaritas, yaitu ukhuwah. Secara terminologi sama, yaitu perasan saling percaya antar para anggota, kelompok, atau koumintas. Kekuatan saling percaya menggiring manusia kepada rasa menghormati, bertanggung jawab, dan melihat kepentingan sesamanya (Soedijati, Solidaritas dan masalah Sosial Kelompok Waria, 25).
Salah satu representasi nilai solidaritas atau dalam Islam terccermin dalam QS. al-Nisa’: 86 yang berbunyi,
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا.
Artinya: Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.
Secara tekstual, ayat tersebut secara gamblang menjelaskan keindahan ukhuwah dengan simbol menghormati satu sama lain. Rasulullah juga memberikan tuntunan kepada umatnya untuk senantiasa menerapkan etika dalam pergaulannya. Dalam hadits yang diriwaytkan oleh Imam Ahmad, Rasul bersabda, “Orang mukmin itu akrab dan bersatu. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersatu dan tidak akrab”.
Maka dari itu, yang semestinya terepresentasi dalam wajah Islam, khususnya di Indonesia yang notabene sebagai negara multi-kultural, adalah rasa menghormati antar satu sama lain dengan tidak menjatuhkan dan mendiskriminasi komunitas lainnya. Karena, seperti yang diuraikan Durkheim, kebersamaan akan membawa satu peradaban ke pintu kemakmuran dan keabadian.
Ayat-Ayat Perdamaian dalam Al-Qur’an
Selain beberapa ayat yang sudah tertera diatas, masih terdapat ragam ayat yang mengindikasikan pentingnya menjaga ukhuwah dalam proses beragama. Dalam QS al-Hujurat: 9 Allah berfirman,
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ
“Dan apabila terdapat dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya”.
Islam tersimbolisasi dengan variasi ideologi di dalamnya. Sehingga, hal itu berpotensi untuk menciptakan keterseinggungan antar dua kelompok. Walaupun pada konteks ayat tersebut yang dimaksudkan adalah perdamaian dalam konteks perang, hal itu tidak menutup kemungkinan perselisihan antar golongan Islan tetap ada pada zaman ini, namun dengan nuansa yang berbeda. Memang secara faktual, perselisihan dalam Islam tidak bisa kita tutupi adanya. Perbedaan pendapat, ideologi, budaya menjadi penyebabnya. Untuk itu, perdamaian menjadi satu-satunya kunci untuk mengeratkan hubungan antar muslim.
Dalam QS. al-Anfal: 1. Juga termaktub ayat-ayat perdamaian, yaitu sebagai berikut,
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu!”
Memperbaiki hubungan antar muslim, diwajibkan oleh Imam al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghayb. Suatu relasi inter-personal yang baik dan berkualitas, akan menghasilkan peradaban yang berkualitas pula. Jika umat muslim secara keseluruhan bisa membangun relasi yang baik disamping perbedaan ideologi yang dimiliki, maka hal ini merupakan benar-benar merpresentasikan peradaban yang maju dan unggul. Karena tidak mudah untuk berjalan seiringan diatas konstruksi ideologi yang berbeda
Kesimpulan
Walaupun Emile Durkheim tidak mempercayai sakralitas wahyu ilahi sebagai instrument awal terbentuknya agama, akan tetapi ia telah memberikan nilai-nilai agung terhadap ruh keagamaan. Islam semestinya harus secara reguler menjaga hubungan antar anggota dan golongannya. Karena, hal itu mempengaruhi perkembangan Islam ke depannya. Lebih-lebih, di era modern ini, Islam harus bersaing dengan budaya-budaya asing yang berpotensi meruntuhkan tatanan Islam yang telah terbangun berabad-abad lamanya. Untuk itu, kaum muslim harus lebih kukuh untuk merapatkan barisan, menciptakan kedamaian di dalamnya, sehingga mampu mempertahankan nilai-nilai Islam yang sudah ada.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.