Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Islam dan Al-Qur’an dalam Potret Pemikiran Abraham Geiger

abraham geiger
Sumber: https://m.facebook.com/

Kajian tentang kebaratan sudah ada dari zaman dulu. Kajian-kajian Barat yang meliputi kajian intelektual Islam selalu menjadi topik pembahasan yang menarik untuk dikaji dan dibahas. Meskipun dari beberapa sisi ada banyak masalah yang cukup kontroversial dalam dunia Islam. Tetapi kajian-kajian tersebut juga memberikan sumbangsih pengetahuan bagi orang-orang Timur sebagai bentuk kajian terbaru. Tulisan ini akan mengkaji Abraham Geiger.

Ada berbagai banyak faktor yang dilakukan oleh orang-orang orientalis dalam mengkaji Islam. Dari semua faktor-faktor yang ada, yang paling banyak dan mendominasi semua faktor-faktor ialah kajian yang ditujukan sebagai bentuk teologis. Hal ini untuk menunjukkan hegemoni Kristen terhadap Islam.

Perkembangan kajian Islam masa ke masa semakin banyak dan populer. Isu-isu yang hanya menjadi polemik berubah menjadi kajian akademik. Kajian yang berbasis akademik ini mulai muncul dan bisa dijadikan sebagai kajian pertama dalam dunia akademik. Yaitu ketika Abraham Geiger mulai mengkaji dunia Islam.

Perjalanan Intelektual Abraham Geiger

Abraham Geiger yang dilahirkan pada 24 Mei 1810 merupakan salah satu sejarawan dan sekaligus merupakan tokoh reformis di Agama Yahudi yang sangat berpengaruh di agamanya. Geiger memulai  gerakan reformasinya dari Breslau, Berlin dan juga Frankfurt yang merupakan daerah kelahirannya sendiri.

Pada tahun 1829 Geiger mulai terjun dalam dunia akademik perkuliahan di University of Heidelberg. Di sana Geiger belajar filologi, filsafat dan juga Bible. Namun, setelah satu semester di University of Heidelberg, Geiger pindah ke University of Bonn. Ia memang dipersiapkan untuk menjadi seorang Rabbi atau guru yang menguasai hukum-hukum Agama Yahudi.

Dengan semangat dan intensifnya dalam mengkaji dunia Timur yang akhirnya dituangkan dalam bentuk essai yang berjudul Was Hat Mohammed Aus Dem Judenthume Aufgenommen? berhasil menarik perhatian dunia Timur, sehingga namanya sangat populer sebagai pakar dunia Timur. Dengan essay itu juga, Geiger berhasil mendapatkan gelar Ph.D di Univeristy of Marburg.

Baca Juga  Tanggapan Mustafa Azami Terhadap Orientalis yang Meragukan Otentisitas Al-Quran

Karya-karya Abraham Geiger

Dengan semua usaha, semangat dan antusias dalam dunia akademik. Geiger berhasil menulis beberapa karya yang dinilai cukup menuai polemik dan kontroversial dalam kajian intelektual Islam. Geiger yang memang dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan dalam berpikir yang di atas rata-rata berhasil memenangkan lomba yang diadakan University of Bonn tahun 1832 yang kemudian diterbitkan dengan judul Was Hat Mohammed Aus Dem Judenthume Aufgenommen? di Jerman tahun 1833.

Tulisan Geiger tersebut berisi elaborasi hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan tradisi orang-orang Yahudi. Geiger mencoba membuktikan adanya ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan ajaran-ajaran yang ada dalam Al-Qur’an mirip dengan tradisi Yahudi dan juga Kristen.

Karya Geiger yang tidak kalah menarik dan juga menjadi kontroversi adalah buku yang berjudul Judaism and Islam. Dalam karya tersebut, Geiger melontarkan pendapat dengan mengatakan bahwa kosa kata yang ada dalam Al-Qur’an banyak mengadopsi dari bahasa Ibrani. Serta kisah-kisah yang diceritakan juga banyak terpengaruh dari Agama Yahudi.

Potret Pemikiran Abraham Geiger

Abraham Geiger yang mencoba merekonstruksi Islam dengan pemikirannya yang dinilai terpengaruh dari kajian antropologi, dengan menganggap tidak agama baru di dunia ini. Dengan hasil analisis yang diperoleh, sehingga pada akhirnya Geiger mengimitasi Islam. Pemikiran Geiger diawali dari kajian influence and borrowing (pengaruh dan pinjaman).

Potret analisis yang dilakukan oleh Geiger dalam menempatkan Islam dan Al-Qur’an dengan pendekatan metode analisis komparatif. Serta menggunakan sejarah yang terdapat dalam Islam dan Yahudi. Sejarah yang diambil oleh Geiger lebih disandarkan pada letak geografis dan budaya saat Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad. Geiger menganggap ajaran yang dibawa oleh Nabi merupakan hasil adopsi atau mengambil (borrowed) dari ajaran Agama Yahudi.

Baca Juga  4 Bentuk Larangan Terperdaya dalam Al-Qur'an

Selain itu, Geiger juga menempatkan bahasa Al-Qur’an sebagai bentuk adopsi dari Yahudi. Karena banyak mengandung bahasa-bahasa Ibrani dan juga sangat berpengaru. Seperti bahasa Tabut, Taurat, Jannatu ‘Adn, Jahannam, Darasa, Robbani, Sabt, Ahbar, Furqan, Ma’un, Taghut, Malakut dan Mathani (Judaism and Islam, 31).

Geiger menilai kosa kata yang terdapat dalam Al-Qur’an menyangkut dengan masalah keimanan, doktrin keagamaan dan juga beberapa hukum lainnya. Agama Yahudi diposisikan sebagai otoritas yang lebih tinggi untuk menilai Islam. Sehingga doktrin-doktrin yang ada di Agama Islam mengenai Yahudi merupakan sebuah penyimpangan.

Kajian antropologi yang mempengaruhi Geiger seharusnya tidak mengimitasi Islam secara keseluruhan. Karena bisa saja ajaran-ajaran yang ada dalam Islam sudah ada dari sebelum-sebelumnya, atau memang ada beberapa ajaran memodifikasi ajaran Agama sebelumnya juga. Seperti puasa yang memang dalam Al-Qur’an sendiri sudah menyatakan jika puasa itu adalah ajaran yang diwajibkan untuk umat-umat sebelum Nabi Muhammad.

Penyunting: Ahmed Zaranggi