Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

‘Abduh dan Ṭāhir al-Jazā`irī: Tokoh yang Menghidupkan Literatur Islam Klasik

islam klasik
Sumber: https://brewminate.com

Ahmad El Shamsy dalam bukunya Rediscovering The Islamic Classics: How Editors and Print Culture Transformed an Intellectual Tradition menyebutkan dua tokoh pembaharu Islam yang berpengaruh di abad ke-20, Muḥammad ‘Abduh asal Mesir dan Ṭāhir al-Jazā`irī asal Suriah. Kedua tokoh tersebut memiliki sumbangsih besar dalam menghidupkan kembali literatur Islam klasik yang sempat terlupakan. Mereka mengumpulkan manuskrip, menyalin, menyebarluaskan, dan mengajarkannya ke murid-murid mereka, sehingga menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi seluruh masyarakat Islam hingga sekarang.

Muḥammad ‘Abduh (1849–1905)

Muḥammad ‘Abduh adalah penduduk asli delta sungai Nil dan pindah ke Mesir pada tahun 1866. ‘Abduh menyebutkan bahwa pada masanya terjadi reduksi terhadap studi bahasa Arab karena hanya berkisar pada analisis formalistik makna leksikal serta status kedudukan gramatikanya. Hal ini merupakan suatu kelesuan dan kekakuan (jumūd) dalam studi bahasa Arab di mata ‘Abduh.

Pada tahun 1877, ‘Abduh mulai mengajar di al-Azhar. Dia membatasi diri pada kurikulum tradisional di kelas tetapi menawarkan kelas tambahan di rumahnya. Di rumahnya inilah dia mengajar buku-buku yang berada di luar kurikulum al-Azhar dan mencerminkan tujuan reformisnya. Daftar bacaan ‘Abduh mencakup karya-karya modern dan klasik, seperti terjemahan Ḥunayn al-Khūrī berjudul al-Tuḥfat al-Adabiyyah fī Tārīkh Tamaddun al-Mamālik al-Urubāwiyyah atas karya François Guizot tahun 1846 berjudul Histoire de la civilisation en Europe, dan karya berjudul Tahdhīb al-Akhlāq berisikan tentang etika oleh filsuf abad kesepuluh, Ibn Miskawayh.

Pada tahun 1878, ʿAbduh ditunjuk untuk mengajar sastra dan sejarah Arab di Madrasat al-Alsun (Sekolah Bahasa) dan di perguruan tinggi Dār al-ʿUlūm, yang memberinya kebebasan lebih besar untuk menentukan kurikulum yang dia ajarkan dan metode yang digunakannya. Salah satu karya yang dia ajarkan kepada siswanya adalah Muqaddimah karya Ibn Khaldūn.

Baca Juga  Hamid Algar tentang Wahhabisme (2): Mengapa Wahhabi Begitu Berkembang?

Pada tahun 1880, ‘Abduh menjadi editor surat kabar negara bernama al-Waqā`i’ al-Miṣriyyah. Di bawah arahan ‘Abduh, surat kabar tersebut meningkatkan standar editorialnya sendiri dengan mempekerjakan para editor yang kompeten. ‘Abduh kemudian pindah ke Beirut, di mana dia mengajar di sekolah inovatif Sulṭāniyyah dari tahun 1885 hingga 1888. Selama waktu ini, dia menemukan beberapa teks Islam klasik dan dia ajarkan di kelasnya. Di antaranya ialah Maqāmāt oleh Badī’ al-Zamān al-Hamadhānī pada akhir abad kesepuluh, salah satu karya sastra prosa Arab klasik terbesar. Karya sastra lainnya yang ia sunting adalah Nahj al-Balāghah, sebuah karya yang disusun oleh al-Sharīf al-Raḍī.

Karir Keilmuan

Pada tahun 1888, ‘Abduh kembali ke Mesir. Karir ʿAbduh semakin berkembang dan pada tahun 1899, dia diangkat menjadi mufti agung Mesir. ‘Abduh juga menjadi pendorong di balik pengenalan sastra Arab sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di al-Azhar.

‘Abduh kemudian mempekerjakan dua tokoh profesor sastra Arab di al-Azhar. Tokoh pertama ialah Sayyid ibn ‘Alī al-Marṣafī, seorang guru inspirasional yang mendorong murid-muridnya untuk memiliki sikap kritis terhadap karya-karya yang mereka baca. Tokoh kedua ialah Muḥammad Maḥmūd al-Shinqīṭī al-Turkuzī yang berperan di dalam Jam’iyyat Iḥyā` al-‘Ulūm al-‘Arabiyyah, sebuah organisasi yang didirikan oleh ‘Abduh pada tahun 1899 untuk mengedit dan membiayai penerbitan karya-karya klasik.

Salah satu karya terakhir yang terbitkan oleh ‘Abduh adalah Mudawwanah karya Saḥnūn, berupa kumpulan multivolume dari pendapat hukum Mālik ibn Anas yang merupakan salah satu karya penalaran hukum Islam yang paling awal dan merupakan teks dasar bagi mazhab pemikiran hukum Mālikī. Namun, ʿAbduh meninggal pada Juli 1905, sebelum pengeditan selesai, dan proyek tersebut diselesaikan oleh sekelompok ulama al-Azhar.

Baca Juga  Hadis Andalus: Wacana Perkembangan Hadis di Wilayah Periferal Islam

Ṭāhir al-Jazā`irī (1852–1920)

Ṭāhir al-Jazā`irī merupakan seorang pembaharu yang disebut-sebut sebagai “Muḥammad ‘Abduh dari Suriah”. Dia merupakan sosok yang mendorong pendirian perpustakaan manuskrip di Damaskus dan kota-kota Levantine lainnya. Selain itu, koleksi manuskrip pribadinya, catatannya di Perpustakaan Ẓāhiriyyah, dan perannya dalam penerbitan beberapa karya klasik penting telah meninggalkan jejak abadi pada lanskap sastra Arab-Islam klasik.

Al-Jazā`irī lahir di Damaskus pada tahun 1852. Ayahnya merupakan tokoh terkemuka di Damaskus dan bertugas sebagai hakim. Pendidikan formalnya mencakup disiplin ilmu Islam, Arab, Turki, dan Persia, serta ilmu alam. Adapun pengetahuan teks klasik yang dimiliki oleh al-Jazā`irī berasal dari pengalamannya sebagai penjual buku. Sejak menjadi siswa sekolah dasar, al-Jazā`irī telah mulai menjual manuskrip, dan dengan membaca karya yang dia jual memperluas minatnya untuk karya klasik yang bersifat religius, sejarah, dan sastra.

Pada tahun 1878, al-Jazā`irī yang saat itu telah menjadi seorang pengajar di Madrasah Ẓāhiriyyah, menjadi tokoh sentral dalam gerakan reformasi pendidikan. Al-Jazā`irī juga menjabat sebagai kepala inspektur sekolah, dan menulis buku teks untuk digunakan di Madrasah tersebut. Dia mendorong siswa-siswanya untuk mengejar berbagai bidang intelektual, mulai dari studi agama, sastra, dan filsafat hingga ilmu alam dan sosial modern.

Karir Akademik

Pada tahun 1890-an, al-Jazā`irī mulai menyunting karya klasik pemikiran dan sastra Islam. Proyek pertamanya ialah kumpulan khotbah klasik Ibn Nubāta. Proyek keduanya ialah risalah filosofis dari Ibn al-Akfānī  tentang klasifikasi ilmu. Adapun proyek penting ketiga oleh al-Jazā`irī ialah mencetak karya al-Rāghib al-Iṣfahānī abad kesebelas tentang etika. Al-Jazā`irī juga mengedit dan menerbitkan risalah etis yang signifikan karya ‘Abd Allāh Ibn al-Muqaffa’ berjudul al-Adab al-Ṣaghīr.

Selain penyuntingan buku, al-Jazā`irī juga memiliki banyak koleksi tulisan para ulama klasik. Di antara karya koleksi penting al-Jazā`irī ialah karya abad kesembilan Ibn al-Kalbī tentang agama-agama pra-Islam di Arab berjudul Kitāb al-Aṣnām, serta manuskrip tentang polemik teologis abad ke-10 karya al-Khayyāṭ berjudul Kitāb al-Intiṣār. Karya penting lainnya dari koleksi al-Jazā`irī adalah kompilasi dari tiga surat filosofis dan teologis karya Averroes.

Baca Juga  Mengenal Kitab Raudhatu Al-’Irfan, Tafsir Berbahasa Sunda

Pada tahun 1920 al-Jazā`irī kembali ke kampung halamannya Damaskus. Dia kemudian diangkat menjadi anggota kehormatan Akademi Bahasa Arab, tetapi tidak lama berselang dia meninggal dunia karena kanker paru-paru.

Penutup

Muḥmmad ‘Abduh dan Ṭāhir al-Jazā`irī merupakan tokoh pembaru abad ke-20. Mereka berdua memiliki kesadaran yang tajam pentingnya untuk menyebarkan karya-karya klasik Islam. Penemuan kembali literatur yang terlupakan adalah bagian dari agenda reformasi mereka untuk pengembangan masyarakat Muslim.

Selain itu, baik ‘Abduh dan al-Jazā`irī adalah pendidik yang menghabiskan banyak waktu dan energinya untuk mengajar siswa, mendirikan lembaga pembelajaran, dan mereformasi lembaga yang sudah ada, serta menulis buku teks untuk digunakan dalam pengajaran. Peran langsung ini memungkinkan mereka untuk mempromosikan karya klasik yang baru ditemukan dan menyebarkan pelajaran mereka tentang bahasa dan etika.

Penyunting: Ahmed Zaranggi