Kurang dari sepekan lagi menuju puncak perhelatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah yang akan dilaksanakan di Surakarta. Riuh kemeriahan acara-acara pra muktamar sudah kerap kita dengar dan saksikan melalui media-media pemberitaan persyarikatan. Dari sekian banyak pemberitaan itu tak lepas juga pembahasan mengenai tokoh-tokoh yang dianggap cocok untuk memimpin Muhammadiyah periode mendatang. Namun sebelum jauh menuju tokoh tentu lebih elok jika kita menentukan kriteria yang dibutuhkan dalam menahkodai kapal besar bernama Muhammadiyah ini.
Salah satu yang menjadi perhatian tataran grassroot adalah kurangnya tokoh dengan kriteria ulama atau dapat juga disebut kyai. Walaupun secara istilah menurut Prof. Syafiq Mughni ulama dan kyai merupakan hal berbeda, beliau menerangkan bahwa kyai adalah gelar antropologis yang diberikan oleh komunitas masyarakat sementara ulama merupakan gelar teologis yang berarti orang berilmu atau pakar di bidang agama dan membawa misi Nabi (al-ulama’ waratsatul anbiya’) . Akan tetapi secara esensi yang dirasakan umat akar rumput yaitu minimnya sosok kharismatik yang mengayomi dan berbaur di tengah masyarakat terlepas apapun penyebutannya.
Menyoal minimnya sosok ulama berikut merupakan beberapa hal yang bisa dijadikan catatan bahwa Muhammadiyah kering sosok dengan karakter ulama sebagai berikut:
- Karakter Kepemimpinan Muhammadiyah
Melihat pada sejarah karakter tokoh pimpinan Muhammadiyah dapat diklasifikasikan pada dua pola kepemimpinan yakni ulama-intelek dan intelektual-ulama.(Asep Daud Kosasih, 2010). Pada periode awal persyarikatan berdiri ketika pucuk pimpinannya Ahmad Dahlan hingga pada masa pimpinan A.R. Fachruddin yang pola kepemimpinannya cenderung ulama-intelek. Pada masa itu tokoh yang diamanahi sebagai pimpinan lebih didasarkan karena dianggap memiliki karakter bersifat kharismatik dan memiliki kewibawaan personal. Kewibawaan ini muncul berkenaan karena faktor sebagai pendiri organisasi, peran selama di organisasi serta penguasaan ilmu agama.
Keadaan itu berbeda dengan dua dekade terakhir ini lebih cenderung berpola intelektual-ulama yang artinya Muhammadiyah dipimpin oleh para tokoh berbasis akademisi yang memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni. Bahkan empat periode terakhir yang mengemban pucuk pimpinan bergelar Profesor, keempat sosok itu adalah Amien Rais, Syafii Maarif, Din Syamsuddin dan Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini Haedar Nashir. Maka dapat dikatakan pula bahwa era ini menjadi pimpinan lebih didasarkan karena faktor keahlian atau skill dan manajerial.
- Kaderisasi Lebih Membentuk Kader Intelektual
Selain dari fakta bahwa empat tokoh terakhir yang menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah sosok intelek bergelar Profesor. Tokoh-tokoh lain yang muncul juga kebanyakan merupakan akademisi yang tidak hanya fokus terhadap bidang keilmuan yang menjadi garapannya. Fenomena ini tentu tidak ujuk-ujuk terjadi begitu saja, namun dapat kita telusuri dari pola perkaderan secara luas. Satu hal yang menjadi faktornya yakni Muhammadiyah lebih banyak memiliki sekolah umum dibanding pondok pesantren. Tidak ada yang salah dengan hal ini, tapi tampaknya perlu diakui juga bahwa pendidikan di pesantren Muhammadiyah tidak lagi fokus mempelajari ilmu agama akan tetapi mendalami ilmu umum dan sains.
Sehingga makna pesantren saat ini meluas bukan sebatas lembaga pendidikan agama tapi lebih ke pendidikan berasrama yang melahap berbagai macam jenis keilmuan. Hal ini dapat menjadi positif karena bisa mencetak santri dengan dengan kemampuan yang beragam. Namun disisi lain santri lulusan pesantren menjadi bias dan bukan tak mungkin justru tidak menguasai ilmu agama seperti yang diharapkan. Pada ujungnya menyebabkan keringnya sosok ulama pengayom yang kompeten memahami ideologi dan manhaj gerakan Muhammadiyah sendiri.
- Pandangan Masyarakat Umum
Merupakan hal yang wajar jika pandangan masyarakat secara umum (diluar warga persyarikatan) juga memandang bahwa tokoh Muhammadiyah lebih cenderung intelektual-ulama daripada ulama-intelektual. Mengenai hal ini bisa dilihat pada acara rangkaian Muktamar 48 yang berkolaborasi dengan Mata Najwa. Pada acara ini menghadirkan Sekretaris PP Muhammadiyah Prof. Abdul Mu’ti dan Wakil Ketua Umum PBNU K.H Zulfa Mustofa. Jika dilihat dari jabatan di masing-masing organisasi, maka keduanya layak dijadikan representasi dari organisasinya. Kemudian yang menarik adalah ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Najwa Shihab, keduanya memiliki gaya pembicaraan yang berbeda.
Abe Mukti kerap kali menerangkan dan menjawab pertanyaan dari putri Quraish Shihab itu dengan istilah-istilah berbahasa inggris dan sesekali tafsir ayat sedangkan Zulfa Mustofa lebih banyak membawakan pembicaraan menggunakan istilah dalam kitab kuning dan Sholawat yang barangkali sudah akrab di telinga penonton dan masyarakat luas. Selain dari karena latar belakang pendidikan, mungkin dari hal yang seperti inilah yang membuat tokoh Muhammadiyah kini lebih cenderung dikenal sebagai intelektual dibanding kyai atau ulama.
Bahkan jika diperhatikan lebih detail Mbak Nana juga seakan mempertegas bahwa hipotesis diatas adalah benar dengan membedakan cara memanggil pada kedua tokoh Muhammadiyah dan NU ini. Najwa memanggil Abdul Mu’ti dengan sebutan Prof sedangkan berbicara pada Zulfa Mustofa dengan panggilan Kyai.
- Kehadiran UAH disambut Hangat Warga Persyarikatan
Masih dalam rangkaian acara pra Muktamar atau lebih tepatnya pada acara Tabligh Akbar Semarak Muktamar 48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah pada bulan Oktober lalu yang menghadirkan Ustadz Adi Hidayat sebagai salah satu pembicara. Alih-alih materi kajian yang dibawakan yang menjadi perhatian justru para jamaah lebih meng-highlight satu pernyataan UAH yang menyatakan bahwa dirinya bangga jadi kader tulen Muhammadiyah lengkap dengan menyebutkan kartu dan nomor anggotanya. Perhatian itu tidak hanya diperlihatkan oleh jamaah yang hadir tapi juga oleh warga Muhammadiyah lain yang menyaksikan secara daring bahkan berbagai media persyarikatan juga kompak dengan tanggap menjadikan pernyataan itu sebagai headline pemberitaan. Walhasil pernyataan itu dengan cepat menyebar dan menjadi suatu yang dibanggakan oleh warganet Muhammadiyah di dunia maya.
Sekilas tidak ada yang aneh dan justru memang wajar seperti jika ada kader yang menonjol apalagi dalam hal dakwah dan secara lantang bangga menjadi Muhammadiyah. Namun disisi lain hal ini juga seolah menunjukan betapa betapa keringnya sosok ulama pada organisasi Islam terbesar ini. Kehadiran Ustadz Adi Hidayat bak oasis ditengah gurun bagi umat di akar rumput, betapa tidak sejak pengakuannya sebagai kader nama beliau terus menerus disorot dan bahkan dalam dua survei yang dimuat mojok.co dan diunggah akun instagram @kabarmuhammadiyah menempatkan Adi hidayat dalam 13 besar tokoh yang dirasa mampu menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Terlepas dari survei tersebut yang mungkin hanya iseng-isengan tapi sedikitnya itu semakin membuktikan bahwa umat merasakan dahaga akan sosok ulama di persyarikatan.





























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.