Rasa Takut pada Perkara Duniawi dan Ukhrawi
Rasa takut pada dasarnya lahir dari tingkat pengetahuan seseorang terhadap sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang tidak memahami kelistrikan akan merasa ngeri ketika memegang kabel listrik. Begitu pula dengan orang yang tidak memahami gas akan panik saat terjadi kebocoran. Sebaliknya, seorang tukang listrik atau petugas pemadam kebakaran mampu bersikap tenang karena mereka mengetahui batas antara kondisi aman dan berbahaya. Pengetahuan, dalam perkara dunia, justru melahirkan ketenangan dan kendali diri.
Namun, hubungan antara ilmu dan rasa takut tidak selalu berjalan dengan pola yang sama, terutama dalam perkara akhirat. Semakin seseorang memahami realitas kehidupan akhirat seperti hari kiamat, hisab, dan azab maka semakin besar pula rasa takut yang tumbuh dalam hatinya. Ilmu tentang akhirat tidak melahirkan keberanian yang ceroboh, tetapi menghadirkan kesadaran yang mendalam, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab moral di hadapan Allah Swt.
Khasyyah dalam Kacamata Islam
Karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa rasa takut sejati kepada Allah hanya dimiliki oleh orang-orang berilmu. Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”[1]
Ayat ini menunjukkan bahwa khasyyah bukanlah ketakutan emosional semata, melainkan rasa takut yang lahir dari pengetahuan dan pengenalan yang benar terhadap Allah. Imam ath-Ṭabarī menjelaskan bahwa yang dimaksud takut kepada Allah adalah takut yang mendorong seseorang untuk menaati-Nya dan menjauhi maksiat. Menurut beliau, para ulama memiliki rasa takut tersebut karena mereka mengetahui kekuasaan Allah atas segala sesuatu serta keyakinan bahwa Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Pengetahuan ini menumbuhkan keyakinan akan adanya azab bagi pelaku maksiat, sehingga melahirkan rasa takut dan kehati-hatian dalam bertindak.[2]
Penegasan ini diperdalam oleh Imam Fakhruddin ar-Rāzī yang menyatakan bahwa kadar khasyyah seseorang sebanding dengan kadar pengenalannya terhadap Zat yang ditakuti. Orang alim mengenal Allah dengan lebih mendalam, sehingga ia sekaligus takut dan berharap kepada-Nya. Dari sini, ar-Rāzī menyimpulkan bahwa kedudukan orang berilmu lebih tinggi daripada sekadar ahli ibadah. Sebab, kemuliaan di sisi Allah diukur dengan takwa, sementara takwa bertumpu pada ilmu. Dengan demikian, kemuliaan seseorang di hadapan Allah tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya amal lahiriah, tetapi oleh kedalaman ilmu yang melahirkan kesadaran, takut, dan tunduk kepada-Nya.
Meski demikian, Imam ar-Rāzī juga memberikan catatan penting bahwa ilmu harus diwujudkan dalam amal. Ilmu yang tidak melahirkan ketaatan justru mencederai hakikat ilmu itu sendiri. Bahkan, orang yang menyaksikan seorang alim meninggalkan amal akan berkata, “Seandainya ia benar-benar berilmu, tentu ia akan beramal.”[3] Dengan kata lain, ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan.
***
Sejalan dengan para mufasir sebelumnya, Imam al-Māturīdī memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang makna ayat ini. Menurut beliau, ayat ini mengandung beberapa kemungkinan makna. Pertama, orang yang benar-benar mengenal Allah sudah semestinya takut kepada-Nya karena pengetahuannya tentang kekuasaan, keagungan, dan keperkasaan Allah. Kedua, yang dimaksud ulama adalah mereka yang mengetahui dan meyakini adanya kebangkitan (hari akhir). Keimanan terhadap hari kebangkitan inilah yang melahirkan rasa takut untuk melanggar perintah dan larangan Allah, karena ia mengetahui adanya azab dan hukuman bagi orang yang durhaka. Adapun orang yang tidak mengetahui dan tidak beriman kepada hari kebangkitan, maka ia tidak memiliki rasa takut tersebut, sebagaimana isyarat Al-Qur’an:
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مُشْفِقُوْنَ مِنْهَاۙ وَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهَا الْحَقُّۗ
“Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya serta yakin bahwa ia adalah benar (akan terjadi).”[4]
Ketiga, Imam al-Māturīdī menegaskan bahwa kata ‘ibādih dalam ayat tersebut merujuk kepada hamba-hamba Allah dari kalangan orang-orang beriman. Artinya, yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah mereka yang beriman kepada-Nya dan membenarkan adanya azab serta kemurkaan-Nya. Orang yang tidak beriman, meskipun tampak tenang dan berani, sejatinya tidak memiliki khasyyah yang hakiki. Bahkan, al-Hasan al-Baṣrī, sebagaimana dikutip al-Māturīdī, menyatakan bahwa khasyyah adalah rasa takut yang terus-menerus menetap di dalam hati dan tidak pernah terpisah darinya.[5]
Khasyyah: Buah Ilmu, Iman, dan Pengenalan terhadap Allah
Dari berbagai penjelasan para mufasir tersebut dapat disimpulkan bahwa khasyyah kepada Allah bukanlah rasa takut yang lahir dari ketidaktahuan, melainkan buah dari ilmu, iman, dan pengenalan yang benar terhadap Allah dan hari akhir. Jika dalam urusan dunia ilmu melahirkan ketenangan, maka dalam urusan akhirat ilmu justru melahirkan ketundukan, kehati-hatian, dan rasa takut yang menyelamatkan.
Karena itu, keutamaan ulama dalam Islam tidak terletak pada gelar atau keluasan informasi semata, tetapi pada ilmu yang melahirkan khasyyah, menumbuhkan takwa, dan terwujud dalam amal nyata. Inilah takut yang membimbing, bukan melumpuhkan; takut yang menghidupkan kesadaran, bukan keputusasaan; serta takut yang mengantarkan seorang hamba kepada kemuliaan di sisi Allah Swt.
Daftar Pustaka
[1] QS. Fāṭir (35):28.
[2] Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, juz 19 (Kairo: Dār Hajr, cet. 1, 2001), 364.
[3] Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, juz 26 (Beirut: Dār al-Fikr, cet. 1, 1981), 21.
[4] QS. Al-Syūrā (42): 18.
[5] Abū Manṣūr al-Māturīdī, Ta’wīlāt Ahl al-Sunnah, juz 8 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 2005), 485.
Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.