Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mungkinkah Lisan al-Ghaib Akan Datang Menyelamatkan Kita?

Al-Mahdi
Sumber: pinterest.com

Sosok Lisan al-Ghaib digambarkan sebagai sosok spiritual di dalam film “Dune”. Sosok tersebut penggambarannya mirip sekali dengan sosok al-Mahdi dalam Islam yang saat itu manusia sedang dalam kekacauan akibat perebutan kekuasaan dan pengaruh dua kerajaan besar. Sehingga, mereka membutuhkan sosok yang bisa menjadi penyelamat serta mampu membimbing mereka.

Melihat kondisi yang carut marut pada saat ini, mungkinkah Lisan al-Ghaib akan datang menyelamatkan kita? Maka, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kami ingin memaparkan sosok al-Mahdi menurut Islam dari berbagai sudut pandang dan cabang keilmuan, terutama Tafsir dan Hadis.

Siapa Al-Mahdi?

Al-Mahdi merupakan sosok juru selamat atau disebut juga sebagai Mesias yang akan menyelamatkan bumi ini dari kekacauan dan akan memimpin dunia dengan keadilan di akhir zaman. Dalam pengertian bahasa, al-Mahdi bermakna orang yang mendapat petunjuk.

Al-Mahdi menurut tradisi Sunni berasal dari keluarga al-Hassan. Adapun menurut Syiah berasal dari keluarga al-Hussain, anak dari Imam al-Askari yang keberadaannya sekarang digaibkan.

Namun yang jelas, apabila kita merujuk kepada Hadis sahih yang riwayat Abu Daud dari jalur Ummu Salamah, al-Mahdi merupakan bagian dari itrah-nya dari jalur Fatimah. (Lihat: Abu Daud, no. 3603).

Al-Mahdi dalam Pandangan Islam

Kehadiran al-Mahdi tercatat dalam beberapa Hadis dan atsar. Salah satunya adalah sebuah Hadis dari Anas bin Malik dengan redaksi seperti berikut ini:

“لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ، وَلَا ‌الْمَهْدِيُّ إِلَّا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ”

“Tidaklah kiamat itu datang kecuali kepada manusia yang buruk. Dan tidaklah al-Mahdi itu datang tanpa turunnya Isa Ibn Maryam.”

Hadis ini menunjukan kedatangan al-Mahdi dan Isa al-Masih sebelum terjadinya hari kiamat. Namun, al-Dzahabi di dalam Mizanul I’tidal menghukumi hadis ini sebagai khobar munkar (red: hadis dengan kualitas munkar). Al-Suyuthi menyebutkan konklusi hukum Hadis ini dalam syarahnya atas Sunan Ibn Majah bahwa salah satu perawi, yaitu Yunus bin abdil a’la, tidak mendengar hadis ini dari Imam al-Syafi’i.

Baca Juga  Dawam Rahardjo dan Keberaniannya Menafsirkan Al-Quran

Sementara itu, al-Qurthubi, seorang ulama klasik, berpendapat bahwasanya makna la mahdiya illa ‘Isa adalah ‘Tidaklah al-Mahdi itu maksum dan sempurna dari Isa”. Tentu saja pendapat al-Qurthubi apabila kita pahami merupakan kritik atas Syiah yang menganggap imam ini maksum. Yang menjadi catatan, tidak semua Hadis tentang kemunculan tokoh ini bernilai daif atau munkar. 

Hadis yang kami tulis di atas terkadang menjadi pembenaran atas kepalsuan munculnya Imam al-Mahdi. Menurut Yusuf ibn Abdullah al-Wabil, terkadang beberapa kalangan merujuk kepada pernyataan Ibn Khaldun yang mendaifkan hadis-hadis Al-Mahdi. Hal itu membuat Ahmad Syakir mengkritik pernyataan Ibn Khaldun yang menurutnya disebabkan oleh keadaan politik pada masa itu, yaitu dengan munculnya banyak kalangan yang mengaku sebagai al-Mahdi.

Menyikapi hal tersebut, Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menyebutkan bahwa ketiadaan Hadis tentang al-Mahdi pada al-Shahihain (Bukhari dan Muslim) menjadi argumen utama yang membuat ulama menolak keabsahan hadis tersebut.

***

Dalam mengomentari hal tersebut, sejatinya hadis-hadis tentang keberadaan al-Mahdi menurut Ahlussunnah memang kebanyakan daif bahkan munkar. Lebih lanjut, kitab al-Shahihain tidak memuat hadis ini. Namun, bukan berarti semua hadis tentang hal tersebut merupakan hadis yang tertolak. Hadis riwayat Abu Said al-Khudri yang terdapat di Musnad Ahmad No. 11324 menjadi salah satu Hadis tentang al-Mahdi yang statusnya bisa diterima.

Selanjutnya, penulis mencoba menyimpulkan penjelasan di atas, terlepas dari kualitas Hadis tentang al-Mahdi dan pemahaman para ulama yang berbeda-beda. Merujuk Matan Aqidah Saffaraniyah, di dalam bab fi Asyrati al-Sa’ah, Imam Saffarani berkata:

“Dan apapun yang datang dari nas tentang tanda-tanda kiamat, maka semuanya adalah kebenaran tanpa perdebatan. Di antaranya adalah Imam penutup, yaitu Muhammad al-Mahdi dan Isa al-Masih”.

Sehingga dalam Aqidah Ahlussunnah, apapun yang berkaitan dengan hari kiamat dan itu berdasarkan pada nas, maka semuanya adalah sebuah kebenaran. Al-Ghazali merincikan bahwasanya dalil-dalil yang merujuk ke masalah sam’iyat haruslah berdasakan dalil yang sahih, sesuai dengan ketetapan syar’i, dan tidak bertentangan dengan akal.

Baca Juga  Hermeneutika Jorge Gracia: Solusi Penafsiran Al-Qur’an?

Kemunculan Al-Mahdi: Suatu Hal yang Manusiawi

Sejatinya, manusia membutuhkan sebuah bimbingan dan petunjuk. Pasca wafatnya Nabi, tentu saja Allah tidak menurunkan nabi dan rasul. Akan tetapi, Nabi Saw. meninggalkan kepada kita dua pusaka yang harus kita pegang teguh, yaitu Al-Qur’an dan Itrati (Ahlul Bayt). Maka tidaklah heran apabila Nabi pernah bersabda bahwasanya agama ini tidak akan tegak sampai hari kiamat tanpa pengganti Nabi yang berjumlah 12 dari Bani Quraisy (Lihat: Al-Bukhari No. 7222).  Al-Mahdi merupakan keturunan Nabi dari jalur Fatimah, yang apabila kita merujuk kepada Hadis tersebut, ia adalah yang kedua belas. Ini adalah pendapat al-Suyuthi, bukan pendapat ulama Syiah.

Kebutuhan akan seorang pembimbing dan penunjuk bukanlah sesuatu yang berlawanan dengan naluri manusia. Karena sejatinya manusia itu apabila mendapat bimbingan, pastilah dia akan tersesat. Sehingga kedatangan tokoh akhir zaman ini merupakan sunatullah dan sesuatu yang tidak berlawanan dengan akal sehat.

Namun, di tengah kondisi yang carut marut seperti saat ini, bukanlah suatu yang tepat bagi kita bila hanya sekedar berharap menunggu datangnya Sang Messiah. Sebagai insan yang berakal dan modern, mencari solusi lebih baik daripada menunggu sesuatu yang entah kapan datangnya. Jika kita hanya meminta Allah untuk mempercepat turunnya al-Mahdi, sama saja kita mengingkari firman Allah dalam QS Al-Ra’d ayat 11. “Tidaklah Allah akan mengubah suatu kaum, hingga mereka mengubah dengan sendirinya”.

Editor: Dzaki Kusumaning SM

Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat, Alumni Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.