Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Psikologi: Kenapa Kita Memiliki Rasa Takut?

Rasa takut
Gambar: hellodokter.com

Pada dasarnya setiap manusia pasti mempunyai perasaan takut atau khawatir. Alasan mendasar mengapa manusia takut ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Hal inilah yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sebisa mungkin menghindar kontak dengan suatu hal. Rasa takut juga merupakan kekuatan yang besar untuk menggerakkan tingkah laku baik tingkah laku normal ataupun tingkah laku yang menyimpang.

Rasa takut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaa (KBBI) adalah perasaan tidak tentram khawatir dan gelisah. Ketakutan merupakan gangguan psikologi yang bersifat wajar dan dapat timbul kapan dan di mana pun. Setiap orang pasti pernah mengalami ketakutan dengan tingkat yang berbeda-beda. Rasa takut biasanya muncul dikarenakan terdapat suatu keadaan yang harus dihadapi atau diselesaikan.

Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa rasa takut merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkaan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Suharyadi juga berpendapat bahwa perasaan takut akan muncul ketika sesorang merasa tidak siap mental dan tidak dapat mengontrol emosinya pada saat menghadapi suatu persoalan dalam lingkungan yang tidak konduksif.

Pendapat Psikologi

Pendapat lain dari Darajat juga mengatakan bahwa rasa takut adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur. Terjadi ketika seseorang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik). Di mana tekanan perasaan (frustasi) adalah suatu keadaan dari berbagai proses emosi yang bercampur yang dapat menghambat seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Jika ditinjau dari sisi ilmu psikologi ada beberapa teori yang menyebabkan munculnya rasa takut, di antaranya teori menurut Stuart Dan Sundee yaitu:

  1. Teori Psikoanalisis
Baca Juga  Oksidentalisme Sebagai Counter atas Superioritas Barat

Rasa takut adalah konflik emosional yang terjadi pada dua elemen kepribadian yaitu Id dan Super Ego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan Super Ego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan norma budaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ego adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

  • Teori Interpersonal

Rasa takut timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Rasa takut juga berhubungan dengan perkembangan taruma, seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan tekanan tertentu.

  • Teori Perilaku

Rasa takut dianggap sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dalam diri untuk menghindari kepedihan. Para ahli menyakini bahwa adanya hubungan timbal balik antara konflik dan rasa takut, yaitu menimbulkan rasa takut, dan rasa takut menimbulkan perasaan tidak berdaya yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan.

Rasa Takut dalam Al-Quran

Dalam al-Qur’an juga menjelaskan tentang perasan takut. Perasaan takut dalam bahasa arab yaitu khafa yakha-fu khawfan. Secara istilah khawf adalah kehawatiran terhadap sesuatu yang tidak disegani akan terjadi, khawf lawan dari al-Amn (aman), dan dampak dari rasa takut itu akan menghasilkan upaya untuk meraih ridho dari Allah Swt di tengah menjalani hidup bersama manusia lainnya. Serta menjalankan kewajiban yang diperintahkan. Pengertian ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Imran ayat 175:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Penjelasan yang sama juga dijelaskan oleh Imam Ibnu Jarir al-Tabari. Ia mengatakan bahwa khawf itu seperti seorang laki-laki, yang pada mulanya lebih mementingkan perbuatan yang dapat mendatangkan dosa, namun pada akhirnya ia ingat terhadap kedudukan Tuhannya. Sehingga ia meninggalkan perbuatan itu, lalu menggantinya dengan perbuatan yang dapat mendatangkan pahala. Penjelasan Imam al-Tabari ini sebagaimana dijelaskan dalam penfsirannya pada surat ar-Rahman ayat 46.

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang-orang yang takut akan saat menghadap tuhannya ada dua surga

Hakikat dan Orientasinya dalam Al-Quran

Dari dua pengertian khawf di atas dapat disimpulakan, yang secara subtansi memilii maksud yang sama, yaitu menggambarkan sebuah kehawatiran akan datangnya azab Allah. Semuanya berorientasi karena kekhawatiran ridho-Nya tidak akan sampai padanya. Sehingga perilaku yang dikerjakan hanyalah perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan ridho-Nya dan menjadikannya hamba Allah yang dicintai.

Baca Juga  Hewan dalam Al-Quran: Telaah atas Lafaz Thayr (Burung)

Kata khawf disebutkan sebanyak 174 kali. Banyaknya penyebutan kata khawf dalam Al-Qur’an, menunjukkan bahwa pentingnya rasa ketakutan itu harus muncul dari setiap pribadi seseorang, hingga Al-Qur’an memberikan perhatian penting dengan jumlah yang besar itu. Oleh karena itu, bukan sembarang rasa khawf yang dimaksud. Asal muncul rasa bimbang cemas bahkan ketakutan terhadap sesuatu lantas ridho-Nya akan datang padanya.

Akan tetapi yang dimaksud kahwf dalam konteks ini ialah rasa bimbang dan ketakutan yang benar-benar datang karena Allah. Demikian itu hanya akan dirasakan seorang mukmin yang selalu khawatir tidak akan mendapatkan ridho-Nya. Padahal ia tetap berada di jalan yang benar, dengan menjalankan segala kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan demikian iman seorang mukmin akan semakin kuat, dan yakin terhadap-Nya. Sebab ia takut terhadap sesuatu terhadap sesuatu yang tidak bisa ia saksikan. Namun selalu merasa disaksikan oleh-Nya. Sebagaimana firman Allah pada surat al-Maidah ayat 94:

لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Supaya Allah mengetahui orang-orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yangg meanggar batas sesudah itu. Maka baginya azab yang pedih.

Penyunting: Bukhari