Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 97-98: Memusuhi Jibril, Memusuhi Allah

Mansukh
Sumber: unsplash.com

“Katakanlah: Barangsiapa yang jadi musuh dari Jibril, maka sesungguhnya dia itu telah menurunkannya ke dalam hati engkau dengan izin Allah.” (pangkal ayat 97).

Ayat ini lanjutan dari tempelak-tempelak Tuhan yang terdahulu. Mereka tadi mengatakan bahwa mereka hanya mau percaya kepada Kitab yang diturunkan kepada mereka saja dan tidak mau percaya kepada Kitab yang turun di belakang itu. Menurut satu riwayat yang bertemu di dalam kitab-kitab tafsir, salah satu sebabnya ialah setelah salah seorang pemuka mereka bernama Abdullah bin Shuriya pemah bertanya kepada Nabi s.a.w.

Malaikat yang mana yang menurunkan al-Quran kepada Muhammad s.a.w. itu. Rasulullah menjawab bahwa yang membawanya dari Tuhan ialah Malaikat Jibril. Terus dengan serta-merta Abdullah bin Shuriya itu berkata bahwa mereka tidak mau percaya al-Quran ialah karena Jibril itu yang membawanya kepada Nabi. Coba kalau Malaikat Mikail yang membawa, barangkali mereka bisa iman. Kami orang Bani Israil, musuh dengan Jibril. Ketika ditanyakan apa sebab Jibril mereka musuhi, dia menjawab karena Jibril itulah yang dahulu pernah menyampaikan bahwa Baitul Maqdis satu waktu kelak akan hancur. Dan memang hancurlah Baitul Maqdis. Ini jawab Abdullah bin Shuriya.

Hancurnya Baitul Maqdis ialah setelah negeri Israel diserang dan dihancurkan oleh Bukhtunashr (Nabukadneshar) Raja Babil, dan orang-orang Yahudi ditawan dan dibawa ke negeri Babil beribu-ribu orang banyaknya.

Dan satu riwayat lagi, pada suatu hari Umar bin Khathab masuk ke dalam salah satu Madrasah Yahudi. Ketika bercakap-cakap tersebutlah oleh beliau Jibril. Serta-merta pula Yahudi yang rnenyambutnya di situ berkata bahtra Jibril itu musuh kami. Sebab dia banyak sekali membuka rahasia-rahasia kami kepada Muhammad. Itulah Malaikat yang banyak sekali merusak dan membawa azab. Lain dengan Mikail; itulah Malaikat yang rnembawa kesuburan dan damai.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 84-85: Darah Saudaramu adalah Darah Kamu Sendiri

Meskipun kedua sebab turun ayat ini tersebut dalam kitab-kitab tafsir dan hati kita kurang mantap menerimanya, terutama riwayat yang kedua, namun suatu hal adalah nyata, yaitu bahwa mereka tidak senang kepada Jibril; mengapa masih saja membawa wahyu yang baru lagi, padahal Taurat sudah cukup. Mengapa datang lagi kepada seorang Nabi yang bukan Bani israil, sehingga martabat Bani Israil menjadi direndahkan, sebab sudah ada pula Nabi lain dari bangsa lain, yaitu bangsa Arab.

Tetapi dengan ayat ini faham yang amat dangkal itu dibantah. Apa sangkut-paut Jibril maka dia dimusuhi? Bukankah dia hanya utusan? Bukan dari kehendaknya sendiri. Dia hanya menyampaikan wahyu dari Alhh, dengan izin Allah ke dalam hati Muhammad.

“Menyetujui apa yang ada di hadapannya.”

Pokok isi al-Quran itu tidak berselisih, bahkan bersetuju dengan isi Kitab Taurat, yaitu menegakkan Tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala –

“Dari petunjuk dan khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (ujung ayal 97)

Kamu musuhi Jibril lantaran dia membawa wahyu al-Quran kepada Muhammad, padahal isi al-Quran tidak bertentangan dengan isi Taurat kamu. Kalau bertentangan patutlah dia kamu musuhi. Dan bagi orang yang beriman, al-Quran itu telah menjadi petunjuk dan membawa khabar yang gembira bagi mereka, bahwa iman dan amal shalih yang mereka perbuat akan memberikan bagi mereka hidup yang bahagia di akhirat kelak. Apa kesalahan Jibril maka dia dimusuhi?

***

Maka pada ayat yang selanjutnya Tuhan bertindak membela UtusanNya baik utusan yang berupa Malaikat ataupun yang berupa manusia:

“Katakanlah: barangsiapa yang jadi musuh dari Allah dan malaikat-malaikatNya, dan Rasul-rasulnya, dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang yang kafir.” (ayat 98).

Meskipun mereka hanya menyebut memusuhi Jibril, berarti mereka memusuhi Allah. Barangsiapa memusuhi Rasul Allah, baik Muhammad atau barangmana Rasul yang lain, berarti mereka memusuhi Allah. Demikian juga terhadap Jibril khusus, atau Mikail, yang di ayat ini disebut Mikala. Meskipun mulut mereka tidak menyebut memusuhi Allah, namun dengan demikian mereka telah memusuhi Allah. Sebab itu Tuhan mendahulukan bahwa si pemusuh itu terlebih dahulu adalah memusuhi Allah. Kalau telah ada yang memandang musuh kepada Jibril, sebab dia yang membawa wahyu al-Quran, tentu akan ada pula kelak yang rnemusuhi Mikala atau Mikail, kalau terlambat datang musim hujan atau ladang kurang menghasilkan buah.

Baca Juga  Revolusi Itu Sangat Tidak Qur'ani

Padahal baik Rasul-rasul bangsa manusia, atau Rasul-rasul bangsa Malaikat, satupun tidak ada yang memegang kuasa. Mereka hanya suruhan. Tanggungjawab adalah pada Allah semua dan mutlak. Dan akhimya dengan tegas Tuhan menyatakan permusuhan yang dihadapkan oleh orang kafir kepada Malaikat-malaikat dan Rasul-rasul itu adalah nyata menentang Allah. Sebab itu Allah pun memusuhi pula kepada orang-orang yang kafir itu. Maka kalau terjadi pertentangan dengan Allah, siapa yang kalah?

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura