“Dan berkata Kami: Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isteri engkau di taman ini, dan makanlah berdua daripadanya dengan senang sesuka-sukamu berdua; dan janganlah kamu berdua mendekat ke pohon ini, karena (kalau mendekat) akan jadilah kamu berdua dan orang-orang yang aniaya.” (ayat 35).
Setelah lepas dari ujian tentang nama-nama ilmu yang diajarkan Allah, dan lulus dari ujian ini melebihi Malaikat, setelah lepas dari ujian kepada Malaikat yang diperintahkan sujud, dan sujud semua kecuali lblis, barulah Adam disuruh berdiam di dalam taman itu bersama isterinya. Nyatalah sekarang dalam ayat ini bahwa sementara itu isteri beliau telah dijadikan Allah. Ialah yang telah diketahui namanya oleh pemeluk ketiga agama: lslam, Yahudi dan Nasrani, yang bernama Hawa, dan dalam ejaan orang Eropa disebut Eva.
Tidaklah dijelaskan dalam ayat ini asal kejadian itu dan tidak pula diterangkan pada ayat yang lain.
Orang Yahudi dan Nasrani, berdasar kepada Kitab Perjanjian Lama (Kejadian, Fasal 2 ayat 20 sampai 24) mempunyai kepercayaan bahwa Hawa itu dijadikan Tuhan daripada tulang rusuk Nabi Adam; dicabut tulang rusuknya sedang dia tidur, lalu diciptakan menjadi perempuan dijadikan bininya.
Di dalam lslam kepercayaan yang umum tentang Hawa terjadi dari tulang rusuk Nabi Adam itu, bukanlah karena percaya kepada Kitab Kejadian Fasal 2 tersebut, karena Nabi s.a.w. telah memberi ingat bahwa kitab-kitab Taurat yang sekarang ini tidaklah asli lagi; sudah banyak catatan manusia, dan manusianya itu tidak terang siapa orangnya. Bahkan naskah aslinya sampai sekarang tidak ada.
Hal ini diakui sendiri oleh orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi Nabi s.a.w. sendiri pernah bersabda, ketika beliau memberi ingat kepada orang laki-laki tentang perangai dan tabiat perempuan supaya pandai-pandai membimbingnya.
Hadis-hadis tentang Perempuan
Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, demikian sabda beliau:
“Peliharalah perempuan-perempuan itu sebaik-baiknya, karena sesungguhnya perempuan dijadikan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok pada tulang rusuk itu, ialah yang sebelah atasnya. Maka jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau patahkan dia. Dan jika engkau tinggalkan saja, dia akan tetap bengkak. Sebab itu peliharalah perempuan-perempuan baik-baik.”
Hadis ini Muttafaq ‘alaihi, artinya sesuai riwayat Bukhari dengan riwayat Muslim. Apabila kita perhatikan bunyi Hadis ini dengan seksama, tidaklah dia dapat dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa perempuan, atau terutama Siti Hawa, terjadi dari pada tulang rusuk Nabi Adam.
Tidak ada tersebut sama sekali dalam Hadis ini dari hal tulang rusuk Nabi Adam. Yang terang maksud Hadis ini ialah membuat perumpamaan dari hal bengkok atau bengkoknya jiwa orang perempuan, sehingga payah membentuknya, sama keadaannya dengan tulang rusuk; tulang rusuk tidaklah dapat diluruskan dengan paksa. Kalau dipaksa-paksa meluruskannya, diapun patah. Kalau dibiarkan saja, tidak dihadapi dengan sabar, bengkoknya itu akan terus.
Apatah lagi Hadis ini dituruti oleh Hadis lain di dalam Shahih Bukharidan Muslim juga, demikian bunyinya.
Dan pada satu riwayat pada kedua shahih, Bukhari dan Muslim.
“Perempuan itu adalah seperti tulang rusuk; jika engkau coba meluruskannya, diapun patah. Dan jika engkau bersuka-sukaan dengan dia, maka bersuka-suka juga engkau, namun dia tetap bengkok. “
Dan pada satu riwayat lagi dengan Muslim:
“Sesungguhnya perempuan itu dijadikan dari tulang rusuk. Dia tidak akan dapat lurus untuk engkau atas suatu ialan. Jika engkau mengambil kesenangan dengan dia, namun dia tetap bengkok. Dan jika engkau coba meluruskannya, niscaya engkau mematahkannya. Patahnya itu talaknya.”
Jiwa Perempuan
Ada lagi Hadis lain dengan makna yang serupa, diriwayatkan oleh ahli Hadis yang lain pula. Pada Hadis pertama sudah nyata tidak ada tersebut bahwa Hawa terjadi dari tulang rusuk Adam. Pada Hadis yang kedua sudah lebih jelas lagi bahwa itu hanya perumpamaan. Hadis yang ketiga menjadi lebih jelas karena telah ada Hadis yang kedua, bahwa itu adalah perumpamaan. Hadis yang ketiga menambah jelas lagi, bahwa kalau laki-laki tidak hati-hati membimbing isterinva, kalau terus bersikap keras saja, talaklah yang teriadi dan patah aranglah rumah tangga.
Maka teranglah sekarang bahwa yang dimaksud di sini ialah jiwa atau bawaan segala perempuan dalam dunia ini. Pertimbangannya tidak lurus, kata orang sekarang, tidak objektif. Perempuan di dalam mempertimbangkan suatu lebih banyak memperturutkan hawanya, yang cara sekarang kita namai sentimen.
Hadis-hadis ini telah memberi petunjuk bagi seorang laki-laki terutama bagi seorang suami, bagaimana caranya menggauli isterinya dan mendidik anak-anaknya yang perempuan. Supaya terjadi rumah tangga yang bahagia hendaklah seorang laki-laki mengenal kelemahan jiwa perempuan ini, yaitu laksana tulang rusuk yung bengkok. Seorang suami yang berpengalaman dapat mengerti dan memahami apa maksud Hadis-hadis ini. Kelemahan perempuan yangseperti ini, pada hakikatnya, kalau laki-laki pandai membawakannya, inilah yang menjadi salah satu dasar penguatan satu rumahtangga.
***
Jiwa perempuan itu akan nampak bengkoknya di dalam mempertimbangkan sesuatu keuntungan dan muslihat yang umum, jika bertentangan dengan muslihat rumahtanggi. Seorang suami yang sedang kesusahan belanja, tidaklah boleh dengan kekerasan meminta supaya isterinya meminjami perhiasan gelang dan subang emasnya untuk digadaikan sementara guna dijadikan modal, meskipun menurut akal yang waras, sudahlah patut dia menyerahkan pada waktu itu, sebab barang itupun digunakan untuk pertahanan di waktu sangat susah.
Kalau diminta dengan keras, dia akan bertahan. Kalau sama-sama keras, cerailah yang akan timbul. Tetapi kalau laki-laki mengenal rahasia jiwa perempuan yang bengkok itu, dia mesti menjauhi jalan kekerasan. Setengah dari sifat bengkoknya jiwa perempuan, ialah jelas hiba kepada orang yang sedang susah. Kalau kelihatan nyata oleh isterinya bahwa dia susah, dan kalau ditanyai oleh isteri, tidak lekas-lekas menyatakan kesusahan itu, dia akan gelisah melihat kesusahan suaminya.
Dia tidak akan enak makan dan tidak ikan terpicing matanya tidur karena melihat kesusahan yang menimpa suaminya, yang sangat dicintainya itu. Kalau si suami pandai, dia sendiri yang akan menanggalkan gelang atau subangnya itu, untuk dikurbankannya bagi kepentingan suaminya. Inilah satu contoh!
***
Contoh yang Iain ialah keinginannya akan perhiasan. Kalau si laki-laki tidak pandai membimbing, berapa saja belanja tidaklah akan cukup untuk memenuhi keinginannya akan perhiasan. Kalau si suami keras, bakhil, cerailah yang akan timbul. Tetapi kalau si suami memperturutkan saja keinginan-keinginan isterinya itu, akan sangsailah (sengsaralah) mereka dalam rumahtangga, sehingga berapapun persediaan belanja tidaklah akan sedang menyedang.
Kalau laki-laki tidak mengenal bengkoknya jiwa isteri ini, lalu bersikap keras, akan terjadilah perceraian. Atau kalau diperturutkan saja, akhirnya karena tidak terpikul, cerai juga yang akan timbul. Sebab itu Hadis ini memberikan tuntunan yang sangat mendalam, agar laki-laki jangan lekas-lekas rnenjatuhkan talak kalau tidak puas dengan perangai isterinya.
Orang Minangkabau mempunyai pepatah: “Tidak ada lesung yang tidak berdetak“, artinya tidak ada perempuan seorangpun yang sunyi daripada kelemahan jiwa yang demikian. Tetapi laki-laki yang memegang ketiga-tiga Hadis ini akan sanggup hidup rukun dengan isterinya, dalam irama rumah tangga, yang kadang kadang gembira dan kadang-kadang muram.
Inilah maksud Hadis.
Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura



























Leave a Reply