Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengenal Abu Hayyan Al-Andalusi dan Tafsir Al-Bahr Al-Muhith

Hayyan
Sumber: istockphoto.com

Abu Hayyan Muhammad Ibn Yusuf Ibn Hayyan al-Andalusi al-Gharnathi atau yang lebih dikenal dengan Abu Hayyan al-Andalusi merupakan salah satu tokoh mufassir yang lahir di Granada, Andalusia pada 1256 M / 654 H dan wafat pada 1344 M / 745 H di Mesir. Abu Hayyan merupakan penganut madzhab Maliki Asy’ari, ia dikenal sangat ahli dalam bahasa Arab serta banyak menyusun syair-syair yang mencerminkan kedalaman ilmunya dalam nahwu dan sharaf.

Abu Hayyan al-Andalusi merupakan seorang pengembara ilmu pengetahuan, yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk belajar kepada ulama-ulama terkemuka. Terhitung ada sekitar 450 syaikh yang menjadi guru dari Abu Hayyan. Kemampuannya dalam bidang intelektual dapat dilihat dari karya yang dihasilkan. Selain di bidang tafsir, al-Andalusi juga mempunyai karya di bidang qiraat, fiqih, bahasa dan nahwu.

Mengenal Kitab Al-Bahr al-Muhith 

Al-Bahr al-Muhith  merupakan kitab tafsir yang ditulis oleh Abu Hayyan al-Andalusi pada tahun 710 H, tafsir ini terdiri dari 8 jilid dan dicetak pertama kali di Mesir oleh lembaga Matba’ah al-Sa’adah dengan pentashih Muhammad Ismail adz-Dzahabi. Dalam tafsirnya Abu Hayyan banyak menerangkan wajah-wajah i’rab dan masalah-masalah nahwu, bahkan cenderung memperluasnya. Ia mengemukakan, mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan ahli nahwu, sehingga kitab ini lebih dekat ke kitab-kitab nahwu daripada tafsir. Dalam masalah ini Abu Hayyan banyak mengutip tafsir Zamakhsyari dan Ibn ‘Atiyah.

Dalam penulisannya, tafsir Al-Bahr al-Muhith menggunakan pendekatan lughawi (bahasa) dan fiqhi. Dalam pengumpulan data banyak menggunakan riwayat (Alquran dan hadis), sehingga tafsir ini masuk kategori bi al-Ma’sur. Namun melihat cara Abu Hayyan dalam menjelaskan i’rab ayat demi ayat secara rinci, tafsir ini juga bisa dikategorikan sebagai tafsir bi al-Ra’yi. Sedangkan metode penulisan yang digunakan adalah tahlili, yakni menafsirkan ayat demi ayat sesuai susunannya dalam mushaf. Mulai dari al-Fatihah sampai an-Nas semua ditafsirkan secara berturut-turut, rinci dan lengkap.

Baca Juga  Bagaimana Jika Benar Iblis Itu Martir Bagi Manusia?

 Abu Hayyan menyebutkan satu ayat secara langsung kemudian ditafsirkan, namun terkadang juga mengelompokkan dua atau beberapa ayat dalam satu kelompok kemudian menjelaskan secara rinci, mulai dari makna mufradat, i’rab, asbab al-nuzul (jika ada) dan selanjutnya dijelaskan makna dan kandungannya. Adapun permisalannya dapat dilihat ketika ia menafsirkan surat al-Baqarah: 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَاعَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوْا مِنْ طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ (٥٧)

Dan kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami menurunkan kepadamu mann dan salwa. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak mendzalimi Kami, tapi justru merekalah yang mendzalimi diri sendiri.

Contoh Penafsiran

المن merupakan masdar dari مننت atau قطعت. المن merupakan sejenis makanan yang baik, seperti madu yang diambil dari pohon dan rasanya manis.

السلوى merupakan isim jenis mufrad dari سلواة. Menurut Imam Kholil alif disana bukan menunjukkan muannats, namun karena disamakan. Seperti contoh pada lafal علقى dan علقاة. Sedangkan menurut imam al-Kisa’iالسلوى  berbentuk mufrad, dan jamaknya سلاوى. Berbeda dengan imam Akhfas yang berpendapat bahwa السلوى merupakan bentuk mufrad dan sekaligus bentuk jama’.

Mu’arij al-Sadusi berkata bahwa السلوى berarti madu, yang diambil dari bahasa Kinanah. Mu’arij menyangka bahwasanya السلوى dan العسل (madu) sama-sama menjadi jawaban serta penjelasan, dan sesungguhnya diantara keduanya tidak menimbulkan kesalahan.

Sedangkan Ibn Atiyyah meyakini bahwa السلوى adalah sejenis burung. Kelirulah al-Hudzali yang mengatakan dalam bait syairnya bahwa السلوى adalah madu. Hal ini terbukti melalui perkataannya dalam salah satu bait syairnya:

Dan dia bersumpah secara sungguh-sungguh dengan menyebut asma Allah, bahwa kalian benar-benar lebih lezat daripada salwa (madu) apabila dipetik dari sarangnya.

Baca Juga  Menelisik Tafsir Kontemporer Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili

Editor: An-Najmi