Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menghadap Badai Post-Truth dengan Bimbingan Wahyu

Post-Truth
Gambar: Kumparan.com

Manusia modern, dengan segala kemewahan yang dimilikinya, dirundung banyak kebingungan, salah satunya fenomena post-truth (paska-kebenaran). Pada era post-truth manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai kebenaran yang seolah-olah tampak benar, tetapi sejatinya rapuh, dangkal dan manipulatif. Teori kebenaran yang menghendaki objektifitas menghadapi tantangan paling serius di masa sekarang.

Batasan antara fakta dan hoaks menjadi demikian kabur. Sebab kebenaran sering kali tidak lagi disadarkan pada validitas konten, tapi siapa sosok yang men-deliver-nya. Semakin populer orang yang membincangkannya, maka semakin ramai kepercayaan orang datang kepadanya. Maka tidak heran jika hari ini seorang ahli bisa dianggap lemah dan pandangannya diabaikan hanya karena ia kalah popular dibanding sosok lainnya yang memiliki banyak pengikut di media sosial.

Fenomena semacam ini jika tidak dihadapi dengan hati-hati maka akan menjerumuskan seseorang pada sikap latah dan gampang tergerus. Lantas di mana posisi wahyu, dalam hal ini Al-Qur’an, dalam membentuk sikap hati-hati tersebut? Apakah ia mempunyai seperangkat sistem moral yang dapat berkontribusi dalam membendung lajunya hoaks? Tulisan ini akan menelusuri, menayangkan serta menguraikan bagaimana panduan dan bimbingan Al-Qur’an di tengah kebohongan yang kian hari kian tumpah dan dibungkus oleh keterampilan merasuk emosi pembaca atau penonton. 

Tuntunan Al-Qur’an Menghadapi Post-Truth

Dalam berbagai kesempatan, Al-Qur’an tidak telah memberikan panduan untuk menyikapi berbagai informasi dengan bijak. Al-Hujurat ayat 6, misalnya, telah memberikan peringatan yang sangat dini tentang pentingnya menyaring informasi yang datang dari orang tidak punya kompetensi, rekam jejak keilmuan, dan integritas. Allah mengatakan, “Wahai orang-orang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu dengan membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.” 

Ada beberapa kata kunci yang mesti mendapat perhatian dari ayat ini: orang yang fasik, sikap orang beriman dalam menelaah suatu berita, bahaya kecerobohan, dan dampaknya bagi kaum banyak. 

Baca Juga  Al-Qur’an, al-Syifā’, dan Kerentanan Manusia

Orang-orang yang punya rekam buruk harus diwaspadai sejak awal. Karena apa yang mereka sampaikan sangat dekat dengan kebohongan. Mereka yang kehilangan sikap mawas diri atas orang-orang seperti itu hanya akan memudahkan jalan mereka untuk terperdaya. Apalagi di zaman sekarang seseorang dengan kemampuan retorika yang menarik, walaupun secara konten berisi hoaks, dapat dengan mudah memperdaya orang. Maka dari itu pembahasan soal orang fasik yang membawa berita disertai anjuran untuk bersikap teliti dan sedia memeriksa. Ini adalah kata kunci yang tidak hanya berlaku pada dunia akademik, tapi juga pada masyarakat secara luas demi menuju keselamatan dalam bermedia sosial. 

Jaringan informasi terus bergerak dari satu person atau komunitas ke person atau komunitas lainnya. Penyaringan dan sikap teliti adalah kunci untuk menjaga agar apa yang disebarkan tidak mencelekakan dan membahayakan orang lain. Bagian ini mendapat peringatan yang tegas dari Al-Qur’an dengan kalimat “agar kamu tidak mencelekakan suatu kaum”. Faktor yang memuluskan penyebaran hoaks atau berita bohong tidak selalu berasal dari kebodohan. Memang kebodohan merupakan sebab dasariah yang membuat seseorang tidak mampu membedakan berita benar dan salah.

*** 

Di samping kebodohan, Al-Qur’an menambahkan satu faktor lagi, yaitu kecerobohan. Kecerobohan tidak selalu berjalan beriringan dengan kebodohan. Bahkan orang yang pintar dan berpendidikan pun bisa tertipu jika ceroboh dan tidak teliti. Di sinilah kejelian dan ketelitian dibutuhkan sebagai modal dasar. Ketenangan dan kesabaran harus menjadi sikap. Tergesa-tesa dan grasak-grusuk hanya akan melahirkan suatu keputusan yang disesali. Nabi Muhammad berpesan dalam hadisnya, “Tergesa-gesa adalah bagian perilaku setan”.

Berita hoaks, selain karena kebodohan, juga lahir dari sikap ceroboh semacam ini. Sebab untuk memastikan suatu berita benar-benar valid, ketekunan dan ketelatenan merupakan suatu yang niscaya dalam melakukan check and re-check. Bahkan jika kita belum mendapatkan keberanian dan kepastian benarnya suatu informasi, Nabi Muhammad berpesan, “Berkata baik atau diam”. Diam dan tidak berkomentar apapun tentang sesuatu yang belum jelas kebenarannya adalah sikap yang tepat dan dibutuhkan.

Baca Juga  Memberangus Mitos Menyemai Maslahat (2)

Menahan Diri dan Menghargai Kepakaran

Di era post-truth kemampuan menahan diri adalah sesuatu yang sangat mahal dan langka. Masalah yang mendera manusia, khususnya dalam bermedia sosial, lebih banyak disebabkan oleh hasrat mengomentari yang besar daripada hasrat memahami. Jarak yang dekat antara jari dan layar hp telah menjadi alasan serta jalan pintas bagi seseorang bergegas memberi komentar atas isu yang sedang berkembang. Peringatan Al-Qur’an terhadap fenomena semacam ini amat nyata ketika ia berpesan dalam QS. Al-Isra 36, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.  

Al-Zamakhsyari memahami ayat ini sebagai pentingnya punya dasar pengetahuan sebelum mengikuti sesuatu. Jangan sampai kita memutuskan satu perjalanan yang kita sama sekali tidak tahu muaranya. Selain itu ayat ini juga menjadi larangan tegas berbicara dan bertindak atas sesuatu yang tidak ketahui. Berbicara dan bertindak atas sesuatu yang tidak diketahui, tambah al-Zamakhsyari, hanya memperlebar jalan seseorang menuju kerusakan dan kehancuran.[1]Generasi hari ini yang kecenderungan berkomentarnya terlalu tinggi perlu menghayati nasihat al-Zamakhsyari tersebut secara baik. Bahwa kebenaran suatu hal tidak pernah ditentukan oleh seberapa popular suatu pendapat atau pemikiran.

Ayat lain yang juga penting mendapat petunjuk di zaman post-truth ini adalah pesan Allah yang meminta penghargaan terhadap kepakaran pada QS. An-Nahl 43, “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah pada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (ahli zikir atau ulama), jika kamu tidak mengetahui”. Konteks turunnya ayat ini sebagai jawaban dan penegasan pada kaum musyrik bahwa rasul bisa dari kalangan manusia. Untuk menegaskan hal tersebut, Allah meminta mereka bertanya kepada ahli kitab yang memiliki pengetahuan terhadapnya.[2] 

HAMKA memberikan uraian yang menarik atas ayat ini. Setelah menjelaskan konteks ayat, ia langsung penegasan bahwa ayat ini adalah penegasan untuk senantiasa bertanya dan bersandar pada ahli. Untuk masalah agama silakan bertanya pada ulama, sementara untuk bidang lain, silakan bertanya pada pakar di bidang tersebut.[3]  Pesan HAMKA soal menyerahkan sesuatu pada ahlinya ini, jika diikuti dengan baik, akan menghasilkan tatanan sosial yang tentram dan damai. 

Baca Juga  Dinamika Suami-Istri: Telaah Konsep Mawaddah wa Rahmah

Pentingnya Kualitas Diri

Menghadapi badai post-truth menurut penulis hanya akan mungkin dilakukan jika seseorang memiliki kualitas diri yang mumpuni dan memadai. Mereka yang hidupnya telah diisi dengan ilmu dan pengalaman, tidak akan mudah goyah. Kebimbangan dan kegamangan hanya dapat menghantui mereka yang tak berilmu. Pepatah Melayu menegaskan, “Beriak tanda tak dalam, bergoncang tanda tak penuh”. Maka mengasah kualitas diri dan mengisi kehidupan dengan ilmu adalah hal yang niscaya. Nabi Muhammad mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia berilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya dia berilmu”.

Islam pada hakikatnya telah berdiri di atas undang-undang dunia. Yakni bahwa kejayaan hanya mungkin diperoleh jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan. Sejarah peradaban di dunia telah menunjukkan kebenaran undang-undang ini. Peradaban Yunani, peradaban Islam di Andalusia, peradaban Eropa dan Barat hari ini, adalah hasil kulminasi dari kesetiaan dan ketekunan mereka dalam merawat pengetahuan. Manusia hari ini, khususnya generasi muda, jika ingin memimpin peradaban, harus meneladani spirit tersebut. Sebab yakin dan percayalah tidak akan ada peradaban tanpa ilmu. Baca sebanyak-banyaknya buku, cari tempat belajar yang mendukung, dan jelajahi dunia seluas-luasnya, niscaya pandangan kita akan terbuka dan semakin tergugah untuk meng-upgrade diri.       


[1] Abu al-Qasim Mahmud bin ‘Umar Al-Zamakhsyari. Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq at-Tanzil, Jilid 3. Riyadh: Maktabah al-‘Abīkān, 1998, h. 517   

[2] Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Al-Syaukani. Fath al-Qadīr. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2007, h. 783

[3] HAMKA. Tafsir Al-Azhar, Jilid 5. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 1982, h. 3917