Sesaat lalu, penulis menjatuhkan pandangan mata pada untaian kata-kata terjemahan dari buku Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual. Kritik tajam nan lugas ia alirkan dengan halus. Legislasi al-Qur’an, katanya, menekankan pada keadilan sosial-ekonomi dan persamaan esensial manusia, namun ia diambil sepotong demi sepotong oleh umat yang mengaku beriman sehingga buram bangunan utuhnya.
Lucu sekali ketika Rahman menjewer pikiran orang yang mengambil arti harfiah dari aturan al-Qur’an sambil menutup mata dari dinamika masyarakt dan mengabaikan tujuan mora-sosialnya. Rahman menyindir logika orang yang berpikiran “karena al-Qur’an menekankan untuk membebaskan budak, maka orang harus melestarikan pranata perbudakan, agar orang yang membebaskan budak beroleh pahala yang besar di sisi Tuhan.”
Jika benar demikian, bagaimana dengan masyarakat muslim modern ini? Sepertinya sudah tidak ada perbudakan di antara mereka. Apakah mereka sudah menolak al-Qur’an atau malah sudah sejalan dengan al-Qur’an?
***
Sebentar. Jangan-jangan ada yang keliru dengan pikiranku. Bagaimana jika perbudakan sebetulnya adalah sistem yang abadi hanya berbeda bentuk dari masa ke masa, seperti kata Asghar Ali? Bagaimana jika karena memang perbudakan adalah abadi secara alami, maka pembebasannya dari berbagai bentuk senantiasa beroleh pahala yang agung?
Terima kasih Gusti Allah. Kegelisahan masa lalu menyelinap muncul kembali dalam bayang-bayang buram tanpa jawaban memuaskan. Logika Rahman kuracik dan kulahirkan pernyataan menggelitik baru: “karena zakat adalah kewajiban dan salah satu rukun islam, maka harus ada orang miskin dan 7 golongan lainnya sebagai mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), agar kewajiban zakat tetap berjalan.”
Bahkan bisa jadi begini, “apalagi terhadap pendapat bahwa mustahiq hanyalah kaum muslimin sendiri, maka harus ada orang muslim yang menjadi martir sebagai mustahiq agar orang lain rukun imannya tetap utuh.”
Wah kalau begini, pantas saja tidak sedikit orang beriman bersedia memartirkan dirinya agar saudaranya sesama muslim dapat beroleh pahala yang besar di sisi Tuhan. Sungguh mulia sekali. Sungguh indah sekali saling tolong-menolong ini sampai lupa bahwa agama ini agama pembebasan manusia.
Mungkin tafsiran seperti itu terlalu neko-neko dan meresahkan. Mungkin postulatnya harusnya seperti ini: karena rezeki di tangan Allah, dia yang mengatur secara suka-suka –bahasa halusnya sekehendak-Nya, dan terbukti sepanjang sejarah pasti ada saja orang yang fakir miskin, musafir yang kehabisan bekal, dan semacamnya. Sehingga secara alamiah pasti ada saja orang yang menjadi mustahiq zakat tanpa harus secara berprofesi sebagai martir zakat. Semoga demikian.
***
Tapi sebentar, seingatku ada hadis nubuat tentang berdekatannya pasar pada akhir zaman, lalu beberapa ulama –yang katanya- mendasarkan pada hadis itu melarang umat beriman mendirikan pasar berdekatan. Mungkinkah para ulama menggerakkan upaya untuk mengindari akhir zaman? Bukankah itu malah berarti mencoba mengelakkan nubuat Nabi? Ataukah mereka berusaha menundanya walaupun secara alami pada akhirnya toh akan terjadi juga?
Lalu bagaimana kira-kira dengan hadis yang menubuatkan (meramalkan) “sungguh kelak akan menimpa kepada manusia suatu zaman di mana seorang lelaki berkeliling membawa zakat berupa emas, tapi ia tidak menemukan seorang pun yang mau menerima zakatnya” (Muttafaq ‘alaih). Apakah pernah ada larangan agar nubuat tersebut jangan dulu terjadi? Kalau iya, berarti kita umat beriman berusaha agar jangan sampai semua umat manusia sejahtera, atau minimal jangan sampai semua umat beriman sejahtera yang nantinya bisa menolak zakat.
Rasanya ada hal yang kembali mengetuk otak. Ketika literatur keagamaan mengoposisikan orang baik dan orang jahat, lantas pikiran liar penulis berlalu lalang membisikkan pertanyaan: haruskah ada orang jahat agar orang baik bisa dikenali? Ah, mungkin ini sudah terlampau lalu dilontarkan Epicurus dalam problem of evil-nya.
***
Logika kita kerap terbangun –secara sadar maupun tidak sadar- di atas bangunan oposisi biner: melihat sesuatu dan kebalikannya. Benar-salah, tinggi-pendek, besar-kecil, dan sebagainya. Tidak sebatas pada keseharian kita menggunakan logika ini, bahkan dalam beragama kita pun kerap demikian. Dalam literatur keagamaan, oposisi biner berseliweran: mukmin-kafir, surga-neraka, baik-jahat, pahala-dosa, dan lainnya.
Lantas, bagaimana jika tafsiran Mbah Nun bahwa “iblis adalah martir agar manusia dapat berbuat baik dan diidentifikasi sebagai orang baik” itu masuk akal? Bagaimana jika posisi iblis sebagai penggoda itu sudah suratan ilahi baginya yang tak terelakkan? Bagaimana jika iblis itu sebetulnya tidak jahat dan malaikat tidak benar-benar baik, hanya suratan ilahi saja? Ah, mungkin jawabnya ada di surga nanti.
Editor: An-Najmi Fikri R
























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.