Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah Penduduk Madyan dalam Al-Qur’an

Penduduk Madyan adalah umat Nabi Syu’aib yang berbangsa Arab dan tinggal di sebuah daerah bernama Ma’an di pinggir negeri Syam. Asal-usul kabilah madyan menurut Quraish Shihab, berasal dari satu suku keturunan Madyan. Yakni putra Nabi Ibarahim dari istirnya yang ketiga, Qathura.  Secara silsilah Madyan beristerikan putri nabi Luth, dari perkawinannya ini muncullah keturunan yang kemudian berkembang sampai menjadi satu kabilah yang besar. (Tafsir al-Mishbah 4/201)

Selain sebagai penamaan suku, kata Madyan juga digunakan untuk penamaan kota, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Qasas [28]:23 (Tafsir Ibnu Katsir 771). Kota tersebut tepatnya terletak di sebelah Timur dan Tenggara Teluk ‘Aqabah, mulai dari wadi al-‘Arabah di sebelah barat sampai ke pegunungan Hasmah di sebelah Timur dan dari Moab sebelah utara sampai ke kota Dhiba di sebelah selatan.

Karakteristik Kaum Madyan

Menurut Ibnu Khaldun, kaum Madyan adalah salah satu dari kabilah-kabilah yang terbesar di negeri Syam, mereka memilki sifat sewenang-wenang dalam memerintah. Dari segi agama mereka terkenal menyembah banyak Tuhan. Salah satunya mereka menyembah “Aikah” yaitu sebidang pasir yang dtumbuhi beberapa pohon dan tanaman.

Kehidupan mereka dapat dikatakan baik, karena sebagian besar kaum Madyan merupakan orang-orang berada dengan mayoritas pekerjaan yang dimiliki kaum tersebut adalah berniaga. Penduduk Madyan terkenal gemar mengurangi takaran timbangan dan senang berbuat onar, mereka kerap kali mengganggu keamanan lalu lintas perniagaan internasional.

Dakwah Tauhid Nabi Syu’aib

Dengan pelbagai penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Madyan oleh karena itu, diutuslah Nabi dari kalangan mereka sendiri yaitu Nabi Syu’aib. untuk mengembalikan suku Madyan pada agama Tauhid. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam Alquran:

Baca Juga  Tazkiyatun Nafs Sebagai Solusi Krisis Identitas

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗوَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ

Dan kepada (kaum) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat). (QS. Hud [11]: 84)

Dakwah yang diserukan oleh Nabi Syuaib kepada penduduk Madyan. Tidak berbeda dengan apa yang perintahkan oleh nabi-nabi lainnya, tidak berubah dan tidak pula bertambah. Itulah asas akidah Islam. Karena tanpa asas tersebut mustahil bangunan akan berdiri sendiri. Setelah meletakkan asas tauhid maka mulailah nabi Syu’aib mendakwakan kepada mereka masalah muamalah sehari-hari yaitu tentang amanah dan keadilan.

Seruan untuk Adil dalam Menakar Timbangan

وَيٰقَوْمِ اَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ

Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.(QS. Hud [11]: 85)

***

Pada ayat ini Ibnu Katsir menerangkan bahwa Nabi Syu’aib menyerukan kepada kaum Madyan untuk berlaku jujur, tidak congkak, dan membuat kerusakan di muka bumi. Akan tetapi mereka tidak mengindahkan seruan kebaikan yang dilakukan Nabi Syuaib dan malah menyambutnya dengan ejekan dan cemoohan.

Namun nabi Syu’aib tetap menyikapinya dengan sabar, dan tidak mengharapakan balas jasa atas usaha dakwahnya. Beliau sudah cukup puas jika kaumnya kembali kepada jalan Allah. Antara nabi Syu’aib dengan umatnya memang terdapat perbedaan yang besar. Beliau a.s adalah seorang rasul yang bertakwa kepada Allah sedang kaumnya adalah penyembah berhala, penipu, pemakan hak orang lain, penyamun, dan pembuat onar di muka bumi.

Baca Juga  Kisah Qarun sebagai Peringatan Bagi Koruptor

Perjuangan Nabi Syuaib dalam menyerukan kebaikan telah dilakukan. Namun, penduduk Madyan tetap dalam kekufurannya. Menyembah pohon Aikah, merompak setiap yang datang ke negerinya, dan melakukan kecurangan dalam menimbang.

Sehingga, mereka diazab dengan suara petir yang amat dahsyat. Bumi pun bergoncang karenanya, maka terjadilah gempa bumi yang amat kuat yang menyebabkakn kaum Madyan mati tersungkur  dan bergelimpangan di sekitar rumah mereka. Hal ini dikarenakan karena mereka selalu mengolok-olok, merendahkan, dan mengejek rasul yang diutus Allah kepada mereka.

***

Demikian kisah kaum Madyan, dari sini dapat diambil pelajaran bahwasanya orang-orang yang durhaka terhadap Allah cepat atau lambat akan segera merasakan azab yang amat pedih. Maka dari itu pentingnya mengindahkan seruan dan risalah yang dibawa Rasulullah yang merupakan suri tauladan, menaati rasulullah sama halnya dengan taat kepada Allah. Inilah yang mengantarkan kepada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Sebaliknya bermaksiat dan mengingkari perintah Rasul akan menghantarkan pada kesulitan dan adzab yang merugikan dirinya.

Penyunting: An-Najmi