Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kisah di Balik Nama Surah Al-Baqarah (bagian 2)

Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan awal kisah bagaimana seorang pemuda dari kalangan Bani Israil kaya raya yang dibunuh oleh keponakannya sendiri. Hal ini dilakukan keponakannya tersebut agar dia segera mendapatkan warisannya. Karena tidak ada orang lain yang bisa mewarisi harta kekayaannya kecuali hanya keponakannya seorang.

Dalam mengungkap kasus pembunuhan ini, Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi betina dengan kriteria yang mereka tanyakan sendiri. Yang mana pada artikel sebelumnya beberapa kriteria sudah disebutkan. Berikut kelanjutan kisahnya :

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (70) قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (71)

“Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu. (QS. Al-Baqarah [2] : 70-71)

Selanjutnya pada ayat ke 70 mereka menggunakan lafadz (البقر) bukan lafadz (البقرة). karena mereka masih bingung tentang sapi yang seperti apa. Mereka berkata bahwa perintah tersebut belum jelas karena sapi memiliki wajah yang mirip walaupun sudah diberitahukan tentang ciri – cirinya. Jika seandainya mereka juga tidak mengucapkan وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ pasti mereka tidak akan bisa mendapatkan sapi betina itu. (( Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hlm.300)

Baca Juga  Gerakan Humanitas IMM: Upaya Futuristik Aksi Nyata Ikatan

Belum selesai sampai di situ, mereka masih saja menyodorkan pertanyaan, Sehingga membuat kriteria sapi betina itu semakin sulit, yaitu (لَّا ذَلُوۡلٌ) yaitu tidak jinak, (تُثِيۡرُ الۡاَرۡض) yang belum digunakan untuk membajak sawah, (وَلَا تَسۡقِى الۡحَـرۡث) dan tidak pula digunakan untuk mengairi tanaman. Kemudian (مُسَلَّمَةٌ) yaitu sehat dan (لَّا شِيَة) tidak belang (warnanya harus kuning mulus tanpa ada belang warna lainnya). (Shofwatu At-Tafaasiir Lishobuuni, Surat Al-Baqarah ayat 71, juz 1, hlm 38)

Allah memang memerintahkan kepada hambanya untuk bertanya jika mereka tidak tahu, namun dengan pertanyaan yang membangun, bukan pertanyaan yang remeh yang seharusnya tidak di tanyakan, seperti dalam firmannya :

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-Nahl [16] : 43)

Pertanyaan yang remeh merupakan pertanyaan ketika dijawab malah akan memberatkan diri yang bertanya, seperti dalam firmannya sebagai berikut :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ ۚوَاِنْ تَسْـَٔلُوْا عَنْهَا حِيْنَ يُنَزَّلُ الْقُرْاٰنُ تُبْدَ لَكُمْ ۗعَفَا اللّٰهُ عَنْهَا ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

“Wahai orang – orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal – hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakan ketika Al_qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Maidah [5] : 101)

Kembali ke kisah bani Israil tadi, Karena kriteria yang amat sulit itu, membuat mereka hampir saja tidak melaksanakan perintah tersebut. hal ini dijelaskan di ayat 71 sebagai penutup dari semua pertanyaan mereka فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (maka mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakannya). Penyebabnya yaitu karena sapi betina yang sesuai dengan kriteria tersebut sangat langka, dan jika ada pun pasti harganya sangatlah mahal.

Baca Juga  Nyai Khairiyah Hasyim: Ulama Pejuang Pendidikan Perempuan

Mereka mencari sapi yang sudah ditentukan tersebut selama empat puluh tahun, hingga mereka menemukan seorang lelaki yang memiliki sapi tersebut. Mereka membelinya dari lelaki itu namun sang lelaki tidak mau, sehingga mereka membelinya dengan emas seberat hitungannya. Setelah mereka mendapatkannya, kemudian mereka menyembelihnya.( Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hlm.302)

Sesuai yang diperintahkan oleh Allah Swt. dalam firman selanjutnya yaitu mereka diperintahakan untuk memukulkan  salah satu bagian anggota tubuh dari sapi betina itu :

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (73)

“Maka Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.”(QS. Al-Baqarah [2] : 73)

Setelah mereka melaksanakannya, maka dengan izin Allah mayat tersebut berdiri dengan darah yang masih mengalir. Maka, mereka segera bertanya tentang siapa yang membunuhnya, mayat tersebut menjawab “yang membunuhku adalah keponakanku sendiri”. Setelah menjawab pertayaan mereka, kemudian mayat tersebut kembali tergeletak mati seperti sebelumnya.( Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hlm.303)

Demikianlah kisah dibalik penamaan Surat Al-Baqarah yang bisa kita ambil sebuah ibrah, diantaranya yaitu janganlah kita bertanya tentang sesuatu yang akhirnya menyulitkan kita sendiri. Selain itu juga ada ibrah janganlah tergesa – gesa sebelum waktunya. Maksudnya jangan seperti keponakan lelaki kaya tersebut yang ingin segera mendapat harta warisannya dengan membunuh pamannya sendiri, akhirnya dia dihukum dengan tidak mendapatkan warisannnya. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ .

Wallahu A’laamu Bish Showwab.

Mahasiswa double degree pada prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan prodi Biologi Murni di Universitas Terbuka Yogyakarta, serta alumnus Perguruan Islam Matholi'ul Falah, Kajen, pati.