Hidup di zaman sekarang dengan laju derasnya perkembangan arus teknologi dan informasi yang begitu lengkapnya. Menuntut manusia modern untuk berpacu dengan waktu dalam menjalani kehidupan. Meningkatnya kebutuhan untuk bisa mencukupi hidupnya mendorong manusia lebih cenderung mengejar pada sisi duniawi saja, padahal semestinya kebutuhan antara spiritualitas dan realitas pada dasarnya saling berkesinambungan. Karena ada hal yang menarik dan tentu kita sering mendengar kata ‘’spiritualitas dan realitas’’. Dua kata tersebut mempunyai hubungan yang saling berkesinambungan. Lalu, bagaimana pengertian dan sejauh mana erat hubungan antara keduanya, mari simak penjelasan sederhana berikut.
Spiritualitas dan Realitas
Realitas atau kenyataan, dalam bahasa sehari-hari berarti sesuatu hal yang nyata atau dalam artian lain berarti yang benar-benar ada. Namun dalam pengertian sempit dalam kajian filsafat barat, realitas ada macam tingkat-tingkatan dalam sifat dan konsep tentang realitas. Mampu dikatakan spiritual sendiri, ketika diarahkan kepada pengalaman subjektif dan bersifat relevan secara eksistensial untuk manusia. Spiritualitas juga tidak hanya memperhatikan pada apakah hidup itu berharga, namun berfokus juga pada mengapa hidup itu berharga. Seseorang menjadi spiritual berarti memiliki ikatan yang lebih pada hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian atau kejiwaan dibandingkan dengan hal yang bersifat fisik ataupun material.
Spiritualis merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup. Spiritualis juga merupakan bagian esensial keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang (Hasan,2006:288). Dalam pengertian lainnya, Spiritualisme merupakan ciri khas dari sistem pemikiran apapun yang menegaskan keberadaan realitas immaterial yang tidak terlihat oleh indera. Dalam idea Platonisme, dualisme adalah memisahkan antara materi dengan pikiran yakni memiliki sifat spiritualitas dan keabadian. Sedangkan Spiritualitas artinya kepercayaan pada sesuatu yang berada di luar diri, misalnya tradisi dan agama. Selain dengan Tuhan, kepercayaan juga melibatkan hubungan individu dengan sesama maupun dunia secara keseluruhan. Spiritualitas juga kerap dikaitkan dengan pencarian jati diri dan makna hidup.
***
Spiritualitas menurut Ibn‘Arabi seorang filsuf dan salah satu sufi terbesar dalam dunia Islam. Beliau lahir di Mursia, Spanyol. Menurutnya, pengerahan segenap potensi rohaniyah dalam diri manusia yang harus tunduk pada ketentuan syar’i dalam melihat segala macam bentuk realitas baik dalam dunia empiris maupun dalam dunia kebatinan. Namun, Almarhum Almahgfurllah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyampaikan bahwa, ‘’Guru spritualitas saya adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas.’’ Tentu banyak sekali tafsiran yang muncul dari ungkapan Gus Dur itu, sebagai tabbarukan santri dengan orang Alim. Maka saya coba memberikan catatan sederhana terkait ungkapan tersebut. Dari ungkapan tadi bisa kita pahami bersama bahwasanya realitas dan spiritualitas sebagai landasan yang selalu berkaitan dengan tradisi dan budaya. Hal ini yang mampu membangun watak pluralisme dan toleran dalam mengenalkan karakter islam dalam kehidupan masyarakat.
Korelasi Spiritualitas dan Realitas
Konsep Gus Dur dalam membangun masyarakat untuk memahami agama sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan dengan mengajak masyarakat melalui pemikirannya untuk selalu menghayati nilai-nilai budaya dengan perasan dan emosi mengedepankan kearifan lokal secara rasional.
Kolerasi spiritualisme dan realitas nampaknya sangat manusia butuhkan spiritualitas untuk mengembalikan dan mempertahankan keyakinan, menjalin hubungan baik dengan Allah SWT, serta mencapai kehidupan yang lebih bermakna. Namun dalam pandangan sisi psikologi orang yang kuat dalam beribadah dan taat belum tentu dapat dipastikan memiliki kecerdasan sprirtual yang baik pula, karena kecerdasan spiritual tidak membatasi manusia pada ibadah makhdoh (murni kepada Allah SWT) semata, akan tetapi lebih bersosialisasi dengan orang-orang disekitar (ghoiru makhdoh) adalah kecerdasan yang mampu memberikan kita banyak kemampuan membedakan, rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan dengan dijalani dengan pemahaman dan cinta. Kecerdasan spiritual mendorong untuk selalu mencari inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang telah dicapai saat ini, melalui kecerdasan spiritual seseorang lebih berfikir dan memandang hidup lebih dari berbagai sisi, bukan hanya berfikir pada satu sisi saja.
Kecerdasan Spiritualitas
Seseorang yang mempunyai kecerdasan spiritual akan membawanya kepada rasa tanggung jawab yang tinggi dan terus menerus selalu berorientasi kepada hal-hal yang bersifat kebajikan, Allah SWT Berfirman :
لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا اِذَا مَا اتَّقَوْا وَّاٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَّاٰمَنُوْا ثُمَّ اتَّقَوْا وَّاَحْسَنُوْا ۗوَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ ٩٣
Artinya: ‘’Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh menyangkut sesuatu yang telah mereka makan (dahulu sebelum turunnya aturan yang mengharamkan), apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan amal-amal saleh, kemudian mereka (tetap) bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan’’. (QS. Al- Maa’idah: 93)
Dari penafsiran ayat di atas sangat jelas bahwa indikator takwa, iman dan beramal shaleh merupakan indikasi utama dari kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual sangat erat kaitannya dengan cara dirinya mempertahankan prinsip. Serta bertanggungjawab melaksanakan prinsip-prinsipnya dengan tetap menjaga keseimbangan dan melahirkan nilai-nilai kemanfaatan. Memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah. Dan pada akhirnya menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip hanya kepada Allah SWT.
Sehingga bisa ditarik kesimpulannya bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berasal dari dalam hati. Menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya. Serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Kecerdasan spiritual membuat individu mampu untuk memaknai setiap kegiatannya sebagai bentuk ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Allah SWT yang sangat dicintainya. Wallahu A’lam Bis Showwab
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply