Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Dasyatnya Mempelajari Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Al Qur’an merupakan mukjizat yang paling besar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui pelantaraan malaikat Jibril secara berangsur-angsur dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun; sebagai kitab suci dan pedoman bagi seluruh umat Islam. Sehingga, kita sebagai umat islam hendaknya mampu mengkaji apa isi dan kandungan yang terdapat di dalam Al-Qur’an; agar kita semua mengetahui makna dan hakekat sebenarnya yang tertera di dalamnya. Ada beberapa kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an antara lain ibadah ,aqidah dan tauhid ,akhlak ,hukum-hukum, dasar-dasar ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi. Dan juga kisah-kisah sejarah terdahulu, al-Qur’an hampir sepertiganya berisi tentang kisah masa lalu dari umat terdahulu; baik yang sholeh maupun ingkar.

Dengan adanya kisah dan sejarah tersebut juga memudahkan kita untuk memahami apa yang sebenarnya di perintahkan Allah dan larangannya Allah untuk kita. Melalui cara itu sendiri kita bisa menyimpulkan dengan tersirat maupun tersurat dalam menjalankan syari’at Islam.

Macam-Macam Qashashul Qur’an

  1. Kisah para Nabi terdahulu. Kisah Ini mengandung informasi mengenai dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang Memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya. Kisah-kisah para nabi tersebut menjadi informasi yang sangat berguna  bagi upaya meyakini para Nabi dan Rasul Allah. Keimanan pada para Nabi dan Rasul merupakan suatu keharusan bagi umat Islam yang harus ditanamkan semenjak usia dini. Tanpa adanya keyakinan ini, seseorang tidak akan bisa membenarkan wahyu Allah swt., yang terdapat dalam kitab Allah swt., yang berisi berbagai macam perintah maupun larangan- Nya.
  2. Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya. Tidak setiap kisah mengandung unsur keteladanan, tetapi seburuk-buruknya kisah dipastikan terdapat ibrah; atau nilai pelajaran (pendidikan)bagi orang-orang yang berfikir, sebagai upaya penjagaan diri agar tidak terjerumus pada perbuatan yang sama. Kisah dari selain para Nabi dan rasul dapat dijadikan pelajaran disamping menjadi pilihan dan teladan. Nilai-nilai pendidikan baik dari kisah yang baik, maupun dari kisah yang tidak baik, dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan pada diri peserta didik untuk membentuk karakter.
  3.  Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. Dalam kisah tersebut dapat dipergunakan untuk memantapkan keyakinan dan keimanan orang Islam agar benar-benar mencontoh kebaikan yang dilakukan para sahabat yang telah berjuang dengan semangat. Berjuang dan berkorban di jalan Allah SWT. Jika pada masa Rasulullah perjuangan dengan pertempuran di medan perang, saat ini bisa diwujudkan dengan berbagai sarana, seperti memerangi kebodohan dan kemiskinan.
Baca Juga  Tafsir Ad-Durr Al-Mantsur: Tafsir Bil Ma'tsur karya Imam As-Suyūthī

Urgensi Umat Islam Mempelajari Qashashul Qur’an

Agar manusia terutama islam mengetahui petunjuk kepada manusia kejalan yang benar, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.Menanamkan nasihat dan pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa masalalu. Menetapkan bahwa Nabi Muhammad saw benar-benar menerima wahyu dari Allah, bukan berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Menggambarkan kepada manusia bahwa misi agama yang di bawa oleh Nabi sejak dulu sampai sekarang adalah sama.

Misi tersebut adalah mentauhidkan Allah swt dimanapun berada. Kaidah tauhid yang disampaikannya tidaklah berbeda satu sama lain dan tidak pula berubah sedikitpun. Menjadi bukti yang kuat bagi umat manusia bahwa al Qur’an; sangat sesuai dengan kondisi mereka sejak zaman Nabi Muhammad sampai sekarang. Menampakkan kebenaran Nabi Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang dibentuknya; tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang generasi dan menyingkap kebohongan ahl-kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.

Makna QS. Maryam/19:56-57

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيّا56 وَرَفَعْنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا57

Dalam ayat di atas menceritakan tetang Nabi Idris yang mana dalam ceritanya dia adalah orang yang sangat jujur dalam perkataan dan perbuatannya, dan dia adalah seorang Nabi yang memiliki derajat yang tinggi. Allah telah meninggikan derajatnya dengan kemuliaan kenabian. Dia berada di langit keempat ketika Rasulullah melihatnya saat mi’raj ke langit. Dan Kami telah mengagungkan sebutan namanya dengan memberikannya karunia berupa kenabian, sehingga ia memiliki martabat yang tinggi.

Penyunting: An-Najmi