Sadar atau tidak, hari ini kita masih tertinggal jauh secara ilmu pengetahuan dan science dari peradaban barat. Ketinggalan jauh tersebut dilandasi beberapa faktor dari kita selaku umat muslim, di antaranya, kita masih mengejar materi, masih percaya takhayul dan masih beragama yang bersifat tradisionalistik tidak futuristik. Seperti kasus yang beredar tentang dukun yang berkedok agama melakukan penipuan atas nama amalan- amalan dalam Islam. Sesungguhnya refleksi dalam beragama tersebut menjadikan kita untuk berfikir lebih modern, membangun umat dari segi intelektual maupun spiritual. Maka sebaiknya kita perlu menggali dan memahami kembali makna Qur’an untuk kemaslahatan ummat.
Refleksi Manusia: Dari Teosentris ke Antroposentris
Al- Qur’an merupakan firman Tuhan yang paling fundamental dalam berislam. Allah sendiri menurunkan kitab tersebut untuk kita umat akhir zaman. Tentu memiliki dimensi yang konkret untuk memberikan petunjuk, pengingat, landasan dalam beragama. Selain itu Al Qur’an merupakan sumber dari segala sumber, hikmah diturunkan al-Qur’an adalah sebagai wasilah agar manusia tidak berbuat semena- mena di dunia ini. Tapi problem yang dihadapkan banyak ayat qur’an yang disalah tafsirkan untuk kepentingan pribadi. Semua Ulama telah sepakat bahwa tujuan Qur’an sendiri adalah untuk manusia itu sendiri.
Manusia makhluk ciptaan tuhan yang mendekati sempurna, karena manusia sendiri memiliki dualisme substansi yakni Akal dan Jiwa. Keduanya itulah yang dapat mengantarkan manusia sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi ini. Allah Swt berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“.
Makna khalifah tersebut bukan menjadikan manusia sebagai otoritas penuh menguasai bumi. Tetapi sebagai pengganti makhluk Allah yang telah diberi amanah untuk mengurusi bumi yakni Babul Jin. Tapi arti sebenarnya bukanlah itu, manusia seharusnya sebagai Cerminan Proyeksi Tuhan untuk membentuk kehidupan rahmatan Lil ‘alamin di bumi. Tentunya rahmatan Lil ‘alamin bukan terminologi humanisme yang dikatakan para ahli sarjana barat. Tetapi memiliki makna kesatuan visi dan misi Tuhan dalam menciptakan kehidupan yang teratur.
***
Oleh karena itu manusia mempunyai dua beban yang fundamental. Selain menjadi manusia yang mengalami naluri biologis, juga mengambil sifat- sifat Tuhan untuk cerminan kehidupan di bumi, agar tidak semena- mena dan menjadi seorang mufsidun (berbuat kerusakan). Maka perlunya kita merefleksikan doktrin agama sebagai doktrin yang mengarah ke antroposentris. Tapi sebelum itu marilah kita mendalami makna sosial dari Teologi, dan Sifat Tuhan dalam menghadapi problematika kedepan.
Refleksi Teologi Sosial
Menurut Prof Hasan Hanafi mayoritas umat islam masih terdoktrin dogma agama yang cenderung metafisik. Seharusnya teologi Islam yang pada umumnya sebagai landasan tauhid untuk menjadikan ia yakin bahwa Tuhan itu ada. Perlunya merekonstruksi dari hal- hal yang bersifat ide- ide teologi tadi, dituntunkan kepada hal- hal yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata. Sehingga Teologi yang bersifat ketuhanan bisa menjadi pedoman untuk bermasyarakat dan bersosial.
Menurutnya juga, konsep atau teks tentang zat dan sifat- sifat Tuhan, pada dasarnya media untuk meningkatkan iman dan menjadi media untuk menyatakan Monoteisme Tuhan, juga sebagai pedoman Teolog dan Mutakallimin. Alangkah lebih baiknya jika konsep tersebut diorientasikan sebagai pembentuk konsep manusia ideal atau Insan Kamil. Seperti contoh refleksi sifat Tuhan seperti wujud yang pada dasarnya dikonsepkan keberadaan Tuhan, seharusnya kita refleksikan sebagai analisis diri keberadaan manusia di dunia. Seperti pertanyaan apa tujuan manusia di bumi ini? Dan apa tugas sebenarnya seorang manusia? Atau bisa apakah kita dalam menyikapi kehidupan bermasyarakat?
Kemudian sifat Qidam yang dijelaskan dengan keberadaan Tuhan yang melampaui apapun segala sesuatu atau yang disebut Asbab Al- Awal. Seharusnya juga dikonsepkan sebagai landasan refleksi manusia yang selalu lekat dengan fenomena sejarah, mengambil sejarah dari segi Aksiologisnya kemudian diimplementasikan kepada realitas sekarang. Seperti mengenang saat kejayaan umat islam; golden of age. Ketika masa- masa dimana Ilmuwan dan Ulama berkontribusi untuk kemajuan Science, Pengetahuan, Spiritual, Etika. Seperti, Al Kindi Seorang FIlsuf, Al Khawarizmi seorang Matematikawan, Al Ghazali seorang Ulama dan Sufi, Ibn Khaldun seorang sosiolog, dan sejarawan.
Refleksi Asmaul Husna
Selain menafsirkan teologi Islam secara sosial ada lagi yang paling urgen adalah mentransmisikan asmaul husna, atau nama- nama yang paling baik dari Tuhan; sebagai refleksi cerminan dalam bermasyarakat. Seperti salah satu contohnya asma Allah al-mu’izz yang Maha Memuliakan sebagai cerminan untuk pentingya tasamuh atau toleransi kepada kehidupan beragama. Menyadari kemuliaan manusia sendiri sebagai ciptaan Tuhan (musawah) yang memiliki kesetaraan hak, maka tidak akan tercipta adanya beragama secara eksklusif atau radikal. Karena setelah mengimplementasikannya mereka akan menyadari menyadari bahwa Tuhan memuliakan siapapun yang berbuat kebajikan tanpa memandang stereotip atau klasifikasi sosial.
Jika Pendidikan ini berhasil, niscaya manusia akan mengorientasikan kehidupanya kepada visi dan misi progresif. Bukan sekedar materialis hanya untuk mencari uang, menikah, makan dan minum saja, memang itu merupakan sebuah kebutuhan alamiah manusia. Tapi jika tidak memiliki Himmah atau visi dan tujuan, makna hakikat hidupnya, lantas apa bedanya dengan hewan?.
Dengan gagasan demikian itu, keadilan dan kesatuan sosial secara islam akan mudah terwujud. Perlunya penanaman antara Teologi yang bersifat ketuhanan dan teologi yang bersifat kemanusiawian. Supaya manusia sadar tentang trilogi ketuhanan, yakni Allah sebagai otoritas, manusia sebagai agensi, dan alam semesta sebagai wadah, untuk menciptakan harmoni dalam hidup yang saling berkaitan. Sekian semoga kita bisa melaksanakan apa yang diperintahnya semoga bermanfaat.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply