Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Kisah: Belajar dari Kisah Qabil dan Habil

Qabil
Gambar: haqnetwork.com

Qasasul quran. Demikian nama lingkup kajian dalam ulumul quran yang khusus membahas mengenai kisah-kisah dalam Al-Quran. Kisah mengenai umat terdahulu cukup banyak dijumpai dalam narasi Al-Quran. Maka tidak heran kemudian para pakar ulumul quran membuat lingkup kajian tersendiri mengenai hal ini.

Dalam Al-Quran, kisah mengenai nabi ataupun umat terdahulu tidak semua dijabarkan secara rinci. Hal ini kemudian membawa para pakar tafsir harus membuka lembaran israiliyat untuk menjelaskan lebih lengkap mengenai kisah yang termaktub dalam Al-Quran. Salah satu dari kisah yang membutuhkan penjelasan lebih dari nukilan israiliyat dalam Al-Quran adalah kisah dua putra Nabi Adam.

Pembunuhan Pertama

Pada kenyataannya, kisah Qabil dan Habil dalam Al-Quran tidak selengkap kisah keduanya sebagaimana yang tercatat dalam buku-buku kisah 25 nabi atau buku lain yang memuat kisah mengenai keduanya. Dalam al-Maidah: 27-31, Al-Quran hanya menjelaskan bagaimana salah seorang diantara keduanya membunuh saudaranya karena merasa iri pengorbanannya tidak diterima namun pengorbanan saudaranya diterima. Nafsu yang terdorong amarah kemudian membuatnya rela membunuh saudaranya sendiri.

Setelah pembunuhan ini, ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah suatu kesalahan. Allah kemudian mengutus seekor burung gagak agar dapat memberikan contoh kepada si pembunuh bagaimana mengubur jenazah saudaranya. Burung tersebut kemudian menggali tanah dan diikutilah oleh si pembunuh.

Qabil dan Habil

Mayoritas ulama, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir sepakat mengatakan bahwa nama dari kedua anak nabi Adam yang diceritakan pada rentetan ayat di atas adalah Qabil dan Habil. Qabil yang merupakan si pembunuh terbakar amarah karena merasa dengki dengan nikmat yang telah diberikan kepada Habil. Puncak dari amarahnya tersebut adalah kisah pembunuhan sebagaimana yang telah dikisahkan di atas. Yaitu ketika pengorbanan Qabil tidak diterima oleh Allah Swt.

Baca Juga  Al-Quran: Kitab Suci yang Memotivasi Peradaban Umat Islam

Dikisahkan bahwa setiap kali Hawa hamil, ia melahirkan anak kembar, laki-laki dan wanita. Hawa melahirkan Qabil bersamaan dengan Iqlimiya, kemudian melahirkan Habil bersamaan dengan Layudza. Allah kemudian mensyariatkan kepada Adam untuk menikahkan putra putrinya. Maka kemudian Adam menikahkan putra putrinya ini secara bersilangan, yaitu antara kembar satu dengan kembar yang lain.

Qabil kemudian dinikahkan dengan Layudza dan begitu pula sebaliknya, Habil dinikahkan dengan Iqlimiya. Namun Qabil menolak rencana ini karena menurutnya Layudza tidak secantik saudarinya. Ia ingin menikahi saudarinya Iqlimiya yang cantik itu, bukan dengan saudari Habil. Permasalahan ini kemudian dibawa kepada Nabi Adam, maka kemudian Adam memerintahkan agar keduanya berkurban kepada Allah. Barangsiapa yang diterima kurbannya, maka ia akan dinikahkan dengan saudari mereka Iqlimiya.

Habil yang merupakan seorang pengembala mempersembahkan domba yang begitu gemuk dan terbaik diantara gembalaannya. Adapun Qabil yang merupakan seorang petani hanya mempersembahkan beberapa tanaman yang bukan hasil panen terbaik. Lantas api yang menjadi tanda diterimanya persembahan dua saudara itu melahap domba yang dikurbankan Habil, namun meninggalkan hasil panen Qabil.

Ketika Terjadi Iri dan Dengki

Qabil yang melihat hal tersebut lantas bertanya kepada Habil, “Apakah kamu akan berjalan diantara orang-orang, maka kemudian mereka mengetahui persembahanmu diterima namun tidak dengan persembahanku?” Habil lantas menjawab “Demi Allah orang-orang tidak akan melihatku karena engkau lebih baik dari diriku”. Qabil yang masih tidak terima kemudian mengatakan, “Aku akan membunuhmu”.

Lantas Habil menjawab, “Apa salahku? Sesunggugnya Allah hanya akan menerima kurban dari orang yang bertakwa”. Dalam riwayat al-Qurtubi, Habil menjawab, “Mengapa engkau akan membunuhku padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun? Aku tidak berdosa jika Allah menerima kurbanku. Jika pengorbananku diterima karena aku bertakwa kepada Allah, maka sesungguhnya Allah hanya akan menerima kurban dari orang yang bertakwa.”

Baca Juga  Fenomena Riya’ di Medsos: Tinjauan Hermeneutika Dithley

Maka kemudian Qabil benar-benar membunuh Habil. Lantas dikirimkan kepadanya burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan gagak lain yang telah mati. Qabil lantas bergumam, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku ini?” Kemudian ia meniru gagak tersebut dan dikuburlah mayat Habil. 

Hikmah Kisah Qabil Dan Habil

Sebagai petunjuk bagi umat manusia, setiap cerita dalam Al-Quran tentu memberikan hikmah kepada pembacanya. Mengenai kisah Qabil dan Habil, Rasulullah Saw. bersabda

إن الله بني آدم مثلا، فخذوا من خيرهم ودعوا الشر

Sesungguhnya Allah menjadikan dua anak Adam sebagai perumpamaan bagi kalian, maka ambillah yang terbaik diantara mereka dan tinggalkan yang buruk.

Inti dari hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahaya perasaan iri dan dengki. Qabil yang iri dan dengki atas pencapaian Habil membuatnya gelap mata dan melakukan hal yang buruk. Atas perbuatan ini, Allah secara tersurat mengutuknya sebagai orang yang merugi.

Dari kisah ini pula tersirat bahwa segala sesuatu yang dipersambahkan kepada Allah haruslah total dengan perjuangan yang terbaik. Dalam cerita di atas, Habil memberikan persembahan dengan domba terbaik dan paling gemuk, namun Qabil hanya mempersembahkan hasil panen yang jelek. Maka kemudian Allah tidak menerima persembahan dari harta yang tidak baik.

Hikmah ini kemudian selaras dengan narasi Al-Quran dalam Qs. Ali-Imran: 92 yang berbunyi:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡء فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِیم

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum Kamu menginfakkan sebagian harta yang Kamu cintai. Dan apa pun yang Kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.

Baca Juga  Penciptaan Perempuan Pertama: Tidak Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam

Penyunting: Bukhari