Riya’ merupakan salah satu sifat yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Sifat ini memberikan gambaran palsu kepada masyarakat terhadap isi hati seseorang. Usaha untuk memberikan citra baik kepada masyarakat tidak dibarengi dengan niatan baik dari dalam hati. Di era modern ini, memungkinkan seseorang untuk menampakkan kehidupannya kepada khalayak ramai, seperti ibadah dan aktivitas lainnya. Apalagi dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih.
Tinjauan Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri, konsep riya’ disebutkan sebanyak 5 kali dengan bentuk kata benda dan kata kerja. Bentuk mas}dar atau kata benda dengan lafadz رياء terdapat dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah/2 ayat 264, al-Nisa’/4, ayat 38, dan al-Anfal/8 ayat 47. Sedangkan dengan lafadz يراءون terdapat dalam Al-Qur’an Surat al-Nisa’/4 ayat 142 dan al-Ma’un/107 ayat 6 (Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahros Li al-Fadz Al-Qur’an al-Kari>m, 362).
Definisi Riya’
Secara etimologi, riya’ berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentukan dari kata رأى yang berarti melihat. Sedangkan riya’ itu sendiri merupakan mutabaqah dari wazn fi’al (فعال ), yang memiliki arti melakukan aktivitas apapun dengan tujuan dilihat manusia (Abu al-Husain Ahmad bin Faris Zakaria, Mu’jam Maqayis al-Lughah II, 473).
Ditinjau arti riya’ dalam terminologinya, al-Ghazali mengartikan riya sebagai amalan yang secara sengaja dipersaksikan kepada orang lain unutk mendapatkan kedudukan atau popularitas. Aktivitas riya’ yang semacam itu bisa diaplikasikan dalam ranah yang sufatnya ibadah ataupun non-ibadah (Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Uluumu al-Din, vol II, 290).
Dithley dan Metodologi Hermenutikanya
Wilhelm Dithley merupakan seorang berkebangsaan Jerman, tepatnya di kota Briebrich di tepi sungai Rhain dekat kota Mainz, yang lahir pada tangal 19 November 1833. Lahir dalam lingkup keluarga agamis, dari ayah yang berprofesi sebagai pendeta Protestan di Briebrich dan ibunya seorang putri dirigen.
Pendidikannya ia mulai dengan mempelajari teologi di Universitas Heidelberg pada tahun 1852. Setalah itu, ia beralih kepada filsafat. Dalam disertasinya, ia menuliskan pemikiran Schleirmacher dengan rigid. Reputasinya semakin meningkat dengan banyaknya undangan untuk mengajar di beberapa universitas (Edi Susanto, Studi Hermeneutika, 46).
Anjuran metode hermeneutik oleh Dithley dalam proses memahami dan menginterpretasi, mencakup tiga unsur yaitu verstehen (memahami), erlebnis (Dunia pengalaman batin)dan ausdruck (ekspresi hidup).
Verstehen, sebagai upaya memahami, yaitu menginterpretasi objek dari sisi dalam, yaitu dunia mental orang lain untuk mampu mengetahui secara komprehensif personalitas objek kajian. Erlebnis, dalam bahasa Indonesia diartikan “menghayati”. Proses penghyatan disini merupakan suatu perasaan yang timbul dari seseorang terhadap suatu fenomena. Walaupun kesannya subjektif, erlebnis mampu diobjektifikasikan dari keadaan yang terpancar dari seseorang dan keadaan tersebut mampu dirasakan oleh orang lain.
Terakhir yaitu, ausdruck, yang dikenal dengan “ekspresi” atau “ungkapan”. Ekspresi merupakan pengejewantahan dari kondisi mental seseorang, yang mana dalam hal ini seseorang mampu menginterpretasikan ekspresi atau gesture dari seseorang. Selain ekspresi, untuk mampu menginterpretasikan fenomena, juga bisa dilakukan dengan melihat keseharian seseorang (F. Budi Hardiman, Seni Memahami, 84).
Analisis Fenomena Riya’ di Era Digital
Perubahan pola pikir, yang menjadi salah satu aspek fundamental yang terpapar era teknologi komunikasi, terpresentasikan dengan perubahan perilaku baru yang maju. Hal itu tidak memutus kemungkinan masuk ke dalam ranah peribadatan. Agaknya, sudah tidak menjadi hal tabu lagi melihat berita-berita kebohongan menyebar, gosip merajalela, tebar-tebar maksiat, dan bentuk kemadharatan lainnya media sosial (Naili Izza, dkk, Berislam dan Tantangannya di Era Kontemporer, 79).
Dengan ragam aplikasi yang variatif, seperti whatssap. Instagram, twitter, telegeram, dan masih banyak lagi, memberikan peluang besar kepada seseorang untuk mampu memublikasikan kegiatannya kepada khalayak ramai. Contoh kecil, jika seseorang memublikasikan aktivitasnya yang bertendensi kepada kebaikan, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, dan lainnya, dengan tujuan untuk memperlihatkan citra dirinya kepada khalayak ramai, maka hal itu termasuk ke dalam perbuatan riya’
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
Metodologi hermeneutika Dilthey, agaknya mampu memberikan konstruksi logis terhadap proses interpretasi fenomena riya’ dalam penggunaan teknologi komunikasi. Metode verstehen, erlebnis, dan ausdruck yang dipaparkan Dilthey memberikan konstruk penginterpretasian fenomena riya’ dalam masyarakat teknologi.
Pembacaan Hermeneutika Dilthey
Untuk lebih memberikan kepemahaman terhadap pembaca, penulis ingin menautkan suatu kasus. Yaitu terhadap fenomena seseorang yang gemar mempublikasikan aktivitasnya yang berbau ibadah. Seperti mengaji, sholat, dan lainnya.
Dalam kasus tersebut, hermeneutika Dilthey membaca:
- Verstehen. Dalam usaha memahami keadaan mental atau psikolog seseorang, perlu ditelisik lebih dalam perihal keseharian seseorang yang menjadi objek kajian. Yang perlu diperhatikan disini adalah representasi digital yang ditampakkan seseorang dan perilaku kesehariannya secara reguler. Jika seseorang tidak benar-benar menampakkan seperti halnya yang dipublish dalam WhatsApp, Facebook, Instagram, dan lainnya, maka terdapat probabilitas seseorang itu terbesit mencari sanjungan dari orang lain.
- Erlebnis. Dalam proses menghayati, secara sadar maupun tidak kita akan memberikan kesimpulan terhadap fenomena di sekitar kita. Penghayatan disini akan terimplementasi dari fenomena yang ditampakkan orang lain. dalam konsep riya’, terdapat pra-konsepsi yaitu كسالى yaitu karakter orang yang bermalas-malasan. Kesadaran kita secara tidak langsung akan mencoba menghayati dan membandingkan atas perilaku seseorang yang terepresentasi di media sosial dan kenyataan. Dari sana akan terbentuk suatu konstruk pengetahuan terhadap orang lain.
- Ausdruck, atau membaca gesture, ekspresi atau ungkapan dari seseorang. Selaras dengan lafadz كسالى di atas, bahwa sejatinya seseorang harus mampu bertanggung jawab atas apa yang dikatakan. Seseorang juga harus secara benar-benar beribadah dengan niat ikhlas, tanpa sanjungan orang lain. jika kemurnian ibadah itu ada, maka sewajarnya seseorang akan merasa cukuo peribadatannya hanya diketahui oleh allah sebagai sasaran utamanya. Sehingga, perilaku mempublikasikan amalan baiknya menjadi satu hal yang kurang baik, disamping akan munculnya anggapan-anggapan negatif dari orang lain.
Kesimpulan
Riya’ memang sejenis tindakan yang bersifat tersembunyi di dalam hati. Karena tidak ada yang mengetahui hakikat perbuatan seseorang. Akan tetapi, tulisan ini ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa dalam melakukan amalan baik, luruskan hati kepada Allah. Sehingga, jika seseorang melakukan amalan baik ikhlas dan murni kepada Allah, maka ia akan merasa cukup dengan ibadahnya yang hanya diketahui oleh Allah semata.
Penyunting: Bukhari





























Leave a Reply