Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tiga Aspek I’jāz Al-Qur’an Menurut Quraish Shihab

Sumber: https://quraishshihab.com/

I’jāz Al-Qur’an merupakan salah satu cabang dari Ulumul Quran. Kata i’jāz berasal dari kata a’jaza-yu’jizu, artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Yang dimaksud dengan i’jāz Al-Qur’an di sini adalah ketidakmampuan manusia maupun jin untuk menjawab tantangan Al-Qur’an sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.

Manusia maupun jin diberikan tantangan oleh Al-Qur’an untuk membuat kitab suci semisalnya. Tantagan ini diberikan dalam tiga tahapan (Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an). Pertama, Al-Qur’an menantang siapapun untuk menulis kitab suci semisal Al-Qur’an secara utuh (QS. al-Isra` [17]: 88). Kedua, Al-Qur’an menantang siapapun untuk menulis 10 surah saja semisal Al-Qur’an (QS. Hud [11]: 13-14). Ketiga, Al-Qur’an menantang siapapun untuk menulis semisal Al-Qur’an walaupun satu surah saja (QS. al-Baqarah [2]: 23-24 dan QS. Yunus [10]: 38).[1]

Quraish Shihab dalam bukunya Kaidah Tafsir menyebutkan setidaknya terdapat tiga aspek i’jāz Al-Qur’an yang menjadi bukti kebenaran Al-Qur’an. Ketiga aspek tersebut ialah aspek kebahasaan, aspek ilmiah, dan pemberitaan gaib. Berikut uraiannya:

Aspek Kebahasaan

Al-Qur’an sangat teliti dalam pemilihan setiap katanya. Salah satu contoh ketelitian bahasa Al-Qur’an ialah penggunaan huruf و (wāw) sebelum kata فُتِحَتْ (futiḥat) pada ayat 73 surah al-Zumar, ketika disebutkan bahwa pintu-pintu surga dibuka bagi penghuni surga. Namun huruf wāw ini tidak ditemukan pada ayat 71, ketika disebutkan bahwa pintu-pintu neraka dibuka bagi penghuni neraka.

Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya Al-Misbah menjelaskan, huruf wāw yang mengawali kata futiḥat pada ayat 73 merupakan wāw al-ḥāl. Di mana memiliki makna bahwa pintu-pintu surga telah dalam keadaan terbuka untuk menyambut para penghuni surga, bahkan sebelum kedatangan mereka. Sedangkan bagi penghuni neraka, pintu-pintu neraka baru dibuka setelah kehadiran mereka.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Al-Misbah: Keunikan dan Keistimewaannya

Demikian di antara rahasia peletakan huruf wāw yang dijelaskan oleh Quraish Shihab. Ketelitian bahasa seperti ini sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an.

Aspek Ilmiah

Sangat banyak pembahasan ilmiah yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan baru diketahui pada masa sekarang. Salah satu contohnya ialah ayat yang menunjukkan peran sperma laki-laki dalam menentukan jenis kelamin janin. Dalam surah al-Baqarah [2] ayat 223 disebutkan bahwa para istri diibaratkan sebagai ladang bagi suami.

Quraish Shihab dalam tafsirnya mengibaratkan suami sebagai petani dan istri sebagai ladang. Jika petani menanam benih tomat di ladangnya maka tentu yang akan tumbuh adalah tanaman tomat. Artinya, bukan ladang yang menentukan jenis tanaman apa yang akan dihasilkan, tetapi petani.

Sebuah penelitian ilmiah membuktikan bahwa sel telur wanita hanya memiliki kromoson X, sedangkan sel sperma pria memiliki sepasang kromoson X dan Y. Dikutip dari kompas.com, yang menentukan jenis kelamin janin adalah kromosom sperma pria yang masuk dalam sel telur wanita. Jika kromosom X sperma masuk ke dalam ovum (sel telur) maka akan akan menghasilkan bayi perempuan (XX). Namun apabila kromosom Y sperma yang berhasil masuk ke ovum, maka akan menghasilkan bayi laki-laki (XY).

Pemberitaan Gaib

Quraish Shihab membagi pemberitaan gaib yang terdapat dalam Al-Qur’an menjadi dua bagian utama. Pertama, pemberitaan gaib masa datang yang belum terjadi saat ayat Al-Qur’an turun. Kedua, pemberitaan gaib masa lalu yang telah terkikis sejarah, kemudian diungkap oleh Al-Qur’an dan dibuktikan kebenarannya.

Salah satu contoh pemberitaan gaib masa datang yang belum terjadi saat ayat Al-Qur’an turun, ialah pemberitaan tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Dalam surah al-Rum [30] ayat 2-4 disebutkan bahwa bangsa Romawi akan meraih kemenangan setelah kekalahan mereka dalam beberapa tahun lagi.

Baca Juga  Quraish Shihab: Cita Keislaman dan Wawasan Kebangsaan

Pada tahun 615 M, Kisra Aboriz sang penguasa Persia menyerang penguasa Bizantium, Heraclius Muda, hingga berhasil menguasai Anthiokia, Damaskus, dan Baitul Maqdis. Kemudian setelah tujuh tahun berlalu, Heraclius berhasil mengalahkan bangsa Persia di Armenia. Kemenangan ini terus berlanjut hingga akhirnya Heraclius berhasil memperoleh kemenangan gemilang pada tahun 622 M. Inilah yang disyaratkan oleh surah al-Rum ayat 2-4 (Shihab, Kaidah Tafsir).

Adapun pemberitaan gaib Al-Qur’an yang terjadi masa lampau dan telah terkikis sejarah, di antaranya ialah surah Yunus ayat 92 yang memberitakan tentang selamatnya jasad Firaun yang tenggelam di Laut Merah, hingga akhirnya menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya.

Meskipun orang-orang pada masa lalu telah mengetahui bahwa Firaun tenggelam di Laut Merah, tetapi selamatnya jasad Firaun merupakan satu hal yang belum diketahui pada saat itu. Namun kini siapapun bisa melihat langsung dengan nyata jasad Firaun, masih utuh dari kepala hingga kaki, yang terletak di Museum Nasional Peradaban Mesir.


[1] Yunahar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an, cet. 3 (Yogyakarta: Itqan Publishing, 2014), 239—241.