Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Refleksi Kisah Qur’ani: Upaya Berfikir Reflektif

Harapan
Sumber: https://interestingengineering.com

Al-Qur’an menyajikan ajaran kepada manusia melalui beragam ungkapan. Ada yang bersifat perintah dan larangan, hal ini berhubungan dengan hukum. Di tempat lain berupa sumpah (qasam), hal ini untuk menarik perhatian kepada sesuatu yang menjadi objek sumpah Allah Swt. Ada pula yang dipaparkan dalam untaian kisah al-Qur’an. Umat terdahulu diceritakan melalui ayat untuk dijadikan bahan perenungan manusia agar dapat bersikap sesuai dengan pesan dari kisah tersebut. Dalam hal ini, kisah seolah menjadi entitas untaian ayat yang diabadikan sebagai  bahan dasar untuk melakukan refleksi bagi perilaku kehidupan

Menelisik Jumlah Ayat Kisah dan Fungsinya dalam al-Qur’an

Para ulama telah membahas detail identifikasi ayat-ayat kisah dalam al-Qur’an. Perbedaan pandangan mengenai jumlah ayatnya pun muncul dalam beragam pernyataan dan literatur tafsir.

Kisah merupakan informasi tentang umat terdahulu. Kisah terjadi pada masa lampau sebelum pembaca kisah ini. Kebanyakan ayat al-Qur’an menggambarkan kisah pada umat yang ada sebelum al-Qur’an diturunkan. Dari sini seolah ada jarak waktu antara pembaca dengan kisah yang disajikan. Sebut saja kisah nabi-nabi terdahulu, Fir’aun, ‘Ad, Tsamud, juga kisah umat lainnya.

Jumlah ayat kisah menurut al-Bantani (2009) dalam Nihayah al-Zain  adalah 1000 ayat. Pendapat ini disebut pula oleh al-Zuhaili (2003) dalam al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj.  Mungkin, apabila ditelusuri lebih lanjut ada pula ulama yang perhitungan jumlah ayat kisahnya berbeda.

Selanjutnya, untuk apa kisah dipaparkan oleh al-Qur’an kepada pembaca? Manna Khalil al-Qaththan dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (2013) menyebutkan terdapat enam fungsi kisah dalam al-Qur’an. Pertama, menjelaskan dasar-dasar dakwah dan menjelaskan pokok-pokok syariat yang dibawa oleh para rasul seperti pada QS. Al-Anbiya:25).

Baca Juga  Catatan Singkat Buku: Menjawab Tuduhan Ekstremis Sains (1)

Kedua, memantapkan hati Rasulullah Saw dan umatnya agar tetap berpegang kepada agama Allah SWT dan memperkuat keyakinan orang-orang mukmin bahwa kebenaran itu pasti akan menang dan kebatilan pasti hancur, seperti pada QS. Hud:120). Ketiga, membenarkan para nabi terdahulu, mengenang dan mengabadikan jejak peninggalan mereka (QS. Al-Qashash:3).

Keempat, memperlihatkan kebenaran Nabi Muhammad Swt dalam dakwahnya dengan berita-berita yang dibawanya mengenai umat terdahulu. Kelima, mengungkap kebohongan ahli kitab yang telah menyembunyikan kebenaran dan mengubah isi Al-Kitab (QS. Ali Imran:93). Keenam, menarik perhatian para pendengar dan pembacanya serta memantapkan penerimaan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya (QS. Yusuf, 12:111)

Refleksi Kisah

Setiap kisah punya tokoh, peristiwa, dan setting tertentu yang digambarkan melalui. Meskipun tidak secara detail bak buku sejarah, kisah tersebut pasti benar adanya. Sebab, al-Qur’an adalah kalamullah, yang di dalamnya tidak mungkin ada kesalahan. Kisah dengan komponen yang tidak sedetail sejarah menghadirkan ruang makna mendalam bagi pembaca. Pembaca dapat memahami kisah tersebut dari sisi karakteristik tokoh dan peristiwa yang diabadikannya. Karena tidak sedetail sejarah, kisah tidak mesti dipertanyakan tentang ketepatan tahun atau bahkan tanggal. Kisah dalam al-Qur’an menampilkan peristiwa penting yang dicermati oleh pembaca.

Dalam konteks pemahaman tafsir, kisah tidak mesti dipahami layaknya seorang sastrawan yang meneliti tentang novel atau cerita. Kisah hadir hanya ingin mengingatkan pembaca agar memahami, merenung, dan mencerminkan apa yang ada di balik kisah untuk menjalani kehidupan. Kisah memberikan mutiara makna bagi kehidupan.

Ketika seseorang membaca ayat kisah, sejatinya ujungnya adalah melakukan refleksi diri sesuai dengan pesan kisah. Apa yang pernah dilakukan, bagaimana menjalani kehidupan, bagaimana kebaikan yang diperoleh dari perilaku, atau bahkan bisa jadi muncul dalam benak apakah perilaku itu merugikan.  Ayat tentang kisah dibaca, ditelusuri terjemahnya (bila ia tidak terampil membaca buku berbahasa Arab), diperhatikan tafsirnya, menjadi untaian kebaikan untuk melakukan cerminan diri.

Baca Juga  Menyongsong Resesi 2023 Sebagai Seorang Muslim
***

Ketika ada kisah tentang kebaikan, pembaca dapat meniru apa pesan kebaikan dalam kisah. Terhadap arah kebaikan ini, pembaca dapat melakukan atau bahkan meningkatkan kebaikan. Namun ketika ada kisah tentang keburukan, kisah ini menjadi pendorong bagi dirinya agar terhindar dari keburukan perilaku atau sebagai rem yang dapat menghentikan diri dari kebiasaan buruk. Dua sisi pesan ini terus beredar dalam rangkaian kisah al-Qur’an.

Melalui kisah, para pembaca dapat melakukan refleksi terhadap perilaku yang dilakukannya. Berpikir refleksi secara sadar memikirkan dan menganalisis apa yang sedang dilakukan, telah dilakukan, pengalaman, dan cara belajar.  Konsep ini menyuguhkan penegasan bahwa manusia yang berakal sehat pasti tidak bisa lepas dari hal tersebut.

Kisah dalam al-Qur’an bukan semata-mata informasi. Di dalamnya, terdapat muatan nilai yang dapat dipikirkan oleh pembaca.  Nilai tersebut menjadi sesuatu yang dijadikan dasar untuk refleksi diri.

Kisah dalam al-Qur’an menjadi gagasan tentang kesadaran diri akan pengetahuan dan pengalaman yang telah dilakukan. Apa yang pernah dilakukan lalu memberikan konteks pada pemikiran. Proses refleksi dari kisah dapat terus berkembang ketika memahami dan merespons apa yang menjadi muatan kisah untuk penguatan pengetahuan dan perilaku yang akan dilakukan. Memperhatikan fungsi untuk menarik perhatian para pendengar dan pembacanya, kisah dalam al-Qur’an akan memantapkan penerimaan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Kisah dalam al-Qur’an akan memeriksa apakah perbuatan itu sesuai akal sehat atau sudah benar sesuai dengan kehendak Yang Maha Menciptakan. Berpikir refleksi dapat menciptakan makna baru, menyesuaikan tindakan, dan membantu perencanaan di masa yang akan datang.