Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ragam Perspektif Bagi Puasa Ramadhan

Ramadhan
Sumber: istockphoto.com

Ramadhan telah datang. Bulan penuh kemuliaan ditunggu-tunggu. Banyak ragam manusia berharap bisa menikmati ibadah di bulannya. Harapan menjadi orang bertakwa didambakannya. Sebab, Allah Swt telah mengundangnya dengan kata yang indah menggunakan  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا   (Q.S. al-Baqarah:183). “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Orang yang bersiap diri melakukan puasa dipanggil dengan sebutan orang yang beriman. Sebuah pernyataan yang meresap pada diri manusia yang ingin menikmati sagara kelezatan iman melalui kewajiban puasa.  Sebab tak mudah, disebut oleh-Nya dengan panggilan orang yang beriman, kecuali bagi dirinya yang sadar dan beriman kepada-Nya. Atau kebalikannya, orang yang tidak melaksanakan puasa, tidak disebut beriman, karena puasa adalah kewajiban seperti yang ditunjukkan pada artikel كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ . Keimanan ditunjukan dengan melaksanakan kewajiban.

Ragam Sebutan Bulan Ramadhan

Banyak informasi berkenaan dengan sebutan bagi bulan mulia ini. Syahr al-Shiyam (bulan puasa), di dalamnya ada kewajiban bagi muslim untuk melaksanakan puasa sebulan penuh sesuai dengan petunjuk syariat.  Syahr al-Qur’an, sebutan ini mengarah pada bulan turunnya al-Qur’an, yaitu Ramadan. Hal ini dibuktikan dalam firman-Nya pada Q.S. al-Baqarah: 185, “bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk dan penjelasan bagi manusia juga menjadi pembeda (antara hak dan batil)”. Syarh al-magfirah, bulan dengan penuh ampunan untuk manusia. Pada bulan ini, Allah Swt mengampuni dosa manusia ketika mereka melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan hanya ikhlas kepada-Nya.  Syarh al-rahmah, bulan dengan penuh kasih sayang Allah Swt. Kasih sayang-Nya diberikan berupa pahala yang berlipatganda dibanding dengan bulan lainnya. Puasa juga bentuk kasih sayang berupa pendorongan atas kesadaran untuk menjadi hamba yang ingin berdekatan dengan-Nya. Doanya akan dikabulkan.

Baca Juga  Mengkaji Ayat-Ayat tentang Bidadari dalam Perspektif Al-Qur’an

Ragam Perspektif bagi Puasa Ramadan

Puasa tidak hanya menahan lapar, haus, dorongan seksual, juga hal-hal yang akan membatalkannya. Puasa sejatinya mengarahkan diri untuk menekan hawa nafsu, melatih untuk penghindaran perilaku negative (al-takhalli), menghiasi perilaku dengan kebaikan (al-tahalli), untuk berupaya pada puncak kesadaran sebagai makhluk-Nya (al-tajalli). Puasa menyimpan ragam pandangan untuk menguatkan bahwa ia memiliki fungsi positif bagi keadaan lahir dan batin manusia.

Perspektif Agama. Puasa adalah kewajiban yang harus dilaksanakan untuk menuju ketakwaan. Setiap muslim harus melaksanakannya, kecuali bagi orang yang sakit, tidak kuat puasa karena tua, haid, nifas, dan musafir. Agama menghendaki mereka melaksanakannya. Begitu pula, agama memberikan keringanan bagi orang yang tidak sanggup melaksanakannya. Dengan catatan, mengganti pada hari lain atau menunaikan fidyah. Puasa adalah kewajiban, namun tidak memberatkan bagi orang yang tidak sanggup melaksanakannya.

Perspektif Pendidikan. Pendidikan adalah menumbuhkembangkan potensi menuju pada kesempurnaan diri. Manusia memiliki beragam potensi. Salah satunya adalah potensi kalbu. Puasa mendorong hati dan jiwa untuk menerima kewajiban dengan ikhlas sebagai bentuk ketundukan kepada-Nya. Ketaatan akan menghasilkan ketenangan hidup. Potensi yang baik ditumbuhkan dan potensi negatif dicegah dan dihindari supaya tidak merusak tahapan menuju ketakwaan. Puasa mendidik, melatih, dan membimbing manusia untuk mengarahkan diri pada sifat dan perilaku yang dikehendaki oleh-Nya. Puasa juga menekan potensi negatif agar tidak mewujud.

Perspektif Psikologis. Perilaku manusia diarahkan melalui puasa. Puasa sebagai ajaran agama dihargai, dihayati, dan diamalkan. Penghargaan ditujukan pada kesadaran batin bahwa ajaran agama dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Penghayatan diarahkan untuk melibatkan diri sepenuhnya akan hakikat puasa yang dijalani. Juga, mendorong pada sisi menikmati kelezatan iman dalam setiap proses kesadaran diri bahwa dirinya sedang menapaki ketakwaan. Pengamalan menjadi totalitas diri dan perilaku untuk melaksanakan kewajiban sesuai persyaratan juga mengikat diri pada tujuan yang ingin dicapai.  Puasa mengarahkan personal untuk sadar, terdorong untuk melaksanakan dengan baik, juga menghayati setiap putaran waktu untuk berdekatan dengan-Nya.

Baca Juga  Hukum Zina Menurut Tiga Agama Samawi: Yahudi, Nasrani, Islam

Perspektif Kesehatan. Metabolisme tubuh yang setahun penuh perlu istirahat sejenak dalam menjalankan fungsinya khususnya pada pencernaan. Penyegaran fungsi metabolisme tubuh akan mendorong kesehatan pada tubuh. Keteraturan sahur dan buka puasa menjadi instrumen penting dalam kesehatan metabolisme tubuh. Puasa memiliki dimensi kesehatan. Kesehatan penting dalam kesejahteraan hidup.

Perspektif Sosial.  Tidak semua manusia memiliki kemampuan ekonomi berlebih. Status ekonominya beragam. Empati sosial untuk kelompok lemah diajarkan pada puasa. Orang yang tidak sanggup untuk berpuasa karena renta, ia diperintah untuk membayar fidyah kepada fakir miskin. Dimensi sosial sudah ditampakkan dari kewajiban individu ke empati sosial. Lebih lanjut, sedekah sangat bernilai bagi orang yang menerimanya, bukan hanya pahala bagi yang memberikannya. Merasakan apa yang dirasakan oleh fakir miskin ketika lapar dialami oleh orang yang puasa.

Kelima perspektif di atas menunjukkan sesuatu yang luar biasa dalam puasa. Berbagai sudut pandang dapat diarahkan pada kewajiban yang mulia ini. Isyarat ayat tentangnya menyuguhkan sesuatu yang penting bagi manusia. Satu titik yang urgens bagi kehidupan manusia ternyata dapat dilihat dari beragam sudut pandang.

Puasa menyimpan banyak hikmah dalam perjalanan hidup manusia. Satu bulan penuh seolah mereguk kenikmatan hati untuk rentang hidup yang bermakna. Wallahu A’lam

Editor: An-Najmi