Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tranformasi Hadis: Dari Living Traditional Ke Literary Traditional

hadits
Sumber: istockphoto.com

Berkembang adalah proses yang pasti akan dilalui setiap mahluk hidup yang berada di alam semesta ini, sebuah proses yang akan membawa pada arah yang lebih baik dengan beberapa strategi perubahan yang telah dirancang sedemikian mungkin. Perencanaan tersebut dapat dipelajari melalui beberapa kejadian yang telah dilalui atau melalui beberapa teori yang telah dicetuskan oleh seorang sebelumnya. Dalam pembahasan ini akan disampaikan perkembangan Hadis dari masa ke masa. Sebuah hal yang menarik untuk diperbincangkan, mengingat keadaan zaman milenial yang serba digital yang memudahkan ummat dalam mengakses berbagai informasi, terlebih dapat lebih memudahkan dalam mengakses Hadis-Hadis dalam bentuk aplikasi maupun pdf.

Sejarah Hadis

Dalam sejarah perkembangannya, hadis diriwayatkan secara lisan kemudian ditulis dan dibukukan. Upaya tersebut adalah bukti dari bentuk kekhawatiran para sahabat dan tabi’in akan keauntentikan hadist Nabi Muhammad Saw, pada mulanya hadist disampaikan secara lisan oleh nabi ke sahabat kemudian sahabat menyampaikan lagi kepada sahabat yang lain hingga setelah wafatnya Nabi, segala sesuatu yang disampaikan oleh nabi ditulis agar dapat dijadikan pegangan dalam berkehidupan. Dilihat dari catatan perkembangannya, hadist dapat dibagi menjadi tiga masa perkembangan. Yakni periode pertama, ketika masa kehidupan Nabi Muhammad Saw atau masa Ashr al-Wahy wa al-Takwin, yakni masa turunnya wahyu. Dimasa ini segala hal yang berhubungan dengan Hadis berpusat pada nabi, sehingga apabila terdapat kemusykilan terhadap suatu perkara dapat ditanyakan langsung terhadap Nabi Muhammad Saw.

Dilanjutkan dengan periode kedua, yakni periode sahabat. Banyak para ulama yang berbeda pendapat mengenai pengertian sahabat. Ada yang memberikan pembatasan makna sempit ada pula yang memberi batasannya secara luas. Menurut ulama hadist, sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah Saw, walaupun tidak lama persahabtannya dan tidak meriwayatkan satu Hadis pun. Hal ini adalah termasuk pengertian sahabat secara longgar/luas. Sementara pengertian yang dikemukakan oleh ulama usul mengalami penyempitan sehingga mereka yang gugur tidak tergolong sahabat. Kelompok usuluyyin memandang gelar sahabat sebagai orang yang memiliki hubungan persahabatan dengan nabi secara dekat dan mampu meriwayatkan Hadis yang dapat dijadikan dalil hukum (Abdul Majid Khon, 2014, 99). Adapun penetapan gelar sahabat dapat berdasarkan ayat al-Qur’an dan sunnah sepeti kemutawattiran, kemashuran, kesaksian dari sahabat lain, penetapan drai tabi’in, dan pengakuan dari sahabat itu sendiri dengan beberapa bukti yang mendukung.

Baca Juga  Isu Penting Dalam Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31

Setelah periode kedua dilanjutkan dengan periode ketiga, yakni periode setelah wafat Rasulullah Saw dimana para sahabat tidak pernah mendengarkan lagi sunnah nabi Muhammad Saw, tidak melihat lagi ajaran-ajaran yang dipraktikan oleh Nabi Muhammad Saw. sedari itu para sahabat mulai sadar bahwa mereka harus menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran Nabi.

Memasuki periode ke empat, dimana pada masa ini tergolong pada masanya sahabat KhulafaurRasyidin, perkembangan pada masa ini hadist masih terbatas, karena para sahabat pada masa ini masih fokus pada penyebaran al-Quran, masa ini disebut juga sebagai al tatsabut wa al-iqlal min riwayah, meskipun pada masa ini perhatian sahabat masih terpusat pada penyebaran al-Quran, namun para sahabat tetap memperketat dalam penerimaan hadis, hal ini karena para sahabat sangat berhati-hati, agar tidak terjadinya kekeliruan periwayatan hadis dengan al-Quran.Hal tersebut merupakan perhatian langsung dari Khalifah Abu Bakr As-Shidiq, hingga dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, Utsman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib (Luthfi Maulana, 2016, 114).

Tekhnologi dan Hadis

Lambat laun islam semkin berkembang ke negara-negara lain, dengan begitu para tabi’in semakin gencar memperluas pengetahuan terlebih tentang Hadis. Mereka rela mengorbankan harta dan nyawanya untuk melakukan sebuah perjalanan demi mendapatka sebuah Hadis. Puncak dari kemajuan keilmuan Hadis ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang mengencarkan untuk memulai pengkodifikasian Hadis, sebab beliau merasa khawatir akan hilangnya Hadis, sebab saat itu para ulama lebih cenderung meletakkan perhatiannya terhadap al-Qur’an.

Setelah perintah pengkodifikasian hadist oleh khalifah umar bin Abdul Aziz pada abad II tersebut terjadilah proses penyeleksian hadist yang dilakukan oleh para ulama. Disini para ulama lebih selektif dalam pemilahan terhadap hadist shohih, dhoif, dan Hadis-Hadis yang mauquf dan Maqthu’ dari yang Marfu’. Dan berlanjut dengan berkembangnya ilmu Hadis.Dari berkembangnya ilmu hadist melahirkan beberapa cabang dari ilmu Hadis seperti Ilmu Rijal hadis, Ilmu Jarh wa Ta’dil, Ilmu Fan al-Mubhama, Ilmu ilal hadis, Ilmu Gharib hadis, Ilmu Nasikh wa Mansukh, Ilmu Talfiq al-Hadis Ilmu Tashif wa Tahrif, Ilmu Asbabul Wurud Hadis, Ilmu Mustalahul al-Hadis. Yang mana dari ilmu Hadis tersebut melahirkan kitab-kitab Hadis seperti Shahih Bukhari, Muslim, Musnad, Sunan dan lain sebaginya.

Baca Juga  Tafsir Al-Mahmudy: Terobosan Karya Intelektual Nahdhatul Ulama

Zaman terus berproses sampai pada zaman sekarang yang biasa disebut dengan zaman milenial. Dimana tekhnologi adalah sebuah candu yang memberikan dampak, baik positif dan negatif. Dengan adanya perkembangan yang demikian berimbas pula pada perkembangan Islam, terlebih pada kajian keilmuan, khususnya ilmu hadist. Teknologi yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun mempermudahkan manusia dalam menggali keilmuan yang dicari. Teknologi informasi menyediakan berbagai layanan dalam keilmuan seperti menyediakan berbagai aplikasi untuk mencari Hadis seperti aplikasi hadist soft dan literasi-literasi hadist lainnya dalam bentuk PDF ataupun E-book. Sehingga mempermudah masyarakat dalam mencari hadist dan mempelajarinya.

Demikianlah sedikit ulasan yang dapat kami sampaikan mengenai perkembangan hadist Nabi Muhammad Saw. segala kritik dan saran sangat kami harapkan untuk menyempurnakan tulisan kami selanjutnya. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca terlebih bagi saya pribadi, terimakasih.

Editor: An-Najmi