Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Term Lafadz Iblis dan Setan dalam Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Iblis dan setan memang sama-sama menggambarkan simbol dosa dan kejahatan. Dalam al-Qur’an, ada yang menggunakan lafaz iblis, dan ada yang menggunakan lafaz setan. Apakah keduanya merupakan sejenis, ataukah keduanya berbeda?

Iblis dalam Al-Qur’an

Dalam tafsir al-Azhar, yang disebut iblis adalah mahluk yang semula seorang yang sangat taat. Selama jutaan tahun ia beribadah. Tidak ada lagi sejengkal langit pun yang tidak dijadikannya tempat sujud kepada Tuhan. Hamka juga mendefinisikan iblis sebagai makhluk yang enggan bersujud kepada nabi Adam.

Menurut Hamka ada tiga alasan pembangkangan iblis terhadap perintah Allah yang menyuruhnya bersujud kepada nabi Adam. Pertama, asal penciptaan, bahwa manusia dari tanah dan iblis dari api, yang dalam pandangan iblis, api lebih mulia dari pada tanah. Kedua, iblis lebih dulu diciptakan dari nabi Adam. Ketiga, iblis sebenarnya makhluk yang taat sebelum kehadiran nabi Adam.

Iblis adalah makhluk golongan jin. Hal ini didasarkan firman Allah ta’ala:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi ayat 50).

Secara historis, iblis pada mulanya adalah bangsa jin yang taat. Ia diusir Allah dari surga lantaran tidak menaati perintah Allah untuk bersujud kepada nabi Adam. Jin jenis inilah yang menggoda adam dan hawa di surga karena dilatari motif sakit hati.

Baca Juga  Benarkah Rasisme Adalah Dosa Pertama Iblis?

Dalam al-Quran diceritakan bahwa iblis meminta penangguhan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah:

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْن َقَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ

Ia (Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan.” (QS. Al-Hijr ayat 36-37).

***

Juga dalam ayat yang lainnya:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ  إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِين إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”.Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad ayat 79-83).

Menurut Ibnu Katsir, Allah SWT. memperkenankan permintaan iblis karena adanya hikmah, iradah, dan kehendak yang tidak dapat ditolak, dan Dia Maha Cepat perhitungan-Nya. Adapun visi misi iblis yang melatarbelakangi permintaannya untuk ditangguhkan adalah sebagaimana firman Allah:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus.” (QS. Al-A’raf ayat 16).

Itulah historis kemunculan iblis yang digambarkan al-Quran. Betapa iblis pada asalnya adalah jin yang taat, namun penyebutan iblis pun disematkan Allah padaNya semenjak pembangkangannya untuk bersujud kepada nabi Adam. Hal yang perlu digarisbawahi adalah iblis adalah sebangsa jin, namun tidak semua jin adalah iblis. Sebab ada jin yang juga muslim sebagaimana firman Allah:

Baca Juga  Mengenal Kitab Kyai Marzuki Mustamar, Sang Hujjatul NU

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.” (QS. Al-Jin ayat 14).

Setan dalam Al-Qur’an

Dilihat dari akar katanya, setan berasal dari kata syathana yang artinya jauh. Para ulama seringkali mendefinisikannya sebagai yang jauh dari rahmat Allah. Menurut Hamka, yang dimaksud setan adalah segala sesuatu yang bersifat jahat yang bisa menjerumuskan seseorang dalam suatu bahaya, baik bahaya di dunia maupun bahaya di akhirat. Setan bisa berupa hawa nafsu negatif yang merangsang seseorang untuk berlaku jahat dan menyimpang dari kebenaran, baik dari golongan jin dan manusia.

Jika iblis digambarkan sebagai makhluk, adapun setan lebih kepada sifat. Segala perbuatan yang mendurhakai Allah, itulah setan. Bahkan dalam surah an-Nas dijelaskan bahwa setan bisa berasal dari jin maupun manusia. Sebab yang ditekankan adalah sifat jahatnya. Baik jin maupun manusia, keduanya berpotensi sebagai setan.

Itulah mengapa ketika Iblis melancarkan aksinya dalam rangka menggoda nabi Adam dan Hawa memakan buah khuldi yang dilarang, Allah menyebutnya dengan redaksi fa-azallahumasy-syaithan, dan tidak menggunakan kata iblis. Karena yang sedang dijelaskan adalah perbuatan menggelincirkan sehingga lafaz yang digunakan adalah setan.

***

Iblis sebagai jin yang mendurhakai Allah, maka sifat mendurhakai itulah yang menyebabkan setan merasuk dalam kepribadiannya. Kepribadian yang enggan taat kepada Allah untuk bersujud pada nabi Adam karena kesombongan dan iri dengki, sehingga iblis sebagai makhluk yang dipenuhi sifat-sifat setan. Padahal sebelumnya iblis adalah makhluk yang taat, sejak membangkang itulah setan terpatri dalam dirinya. Iblis terus melancarkan sumpahnya untuk menggoda umat manusia. Maka dari itulah, iblis pun seringkali disebut rajanya setan karena melancarkan misi sebagai setan.

Baca Juga  Bolehkah shalat Tahajud Meski Sudah Teraweh?

Maka tidaklah heran jika penyebutan kata setan jauh lebih banyak ditemukan dalam al-Quran. Sebab penggunaan setan menggambarkan sifat dan perbuatan jahat yang sumbernya bisa lebih luas dari sekedar bangsa jin, bahkan bisa dari kalangan manusia.

***

Oleh karena itulah, setan lebih kepada sifat. Lafaz setan dalam bahasa Arab merujuk pada setiap perbuatan durhaka yang bisa dilakukan bangsa  jin maupun manusia. Maka setan tidak melulu berbentuk ghaib, tapi juga yang tertangkap indra. Sehingga bisa diartikan, pintu setan bisa dari mana saja.

Berbeda dengan iblis yang merupakan sejenis makhluk, yakni nenek moyang dari  jin yang durhaka kepada Allah sehingga lebih sering dikaitkan dengan kisah pembangkangannya di masa diciptakannya nabi Adam karena penyebutan iblis tak terlepas dari aspek historis hingga ia dinamai Allah dengan iblis.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi