“Dan mereka berkata: Hati kami tertutup.” (pangkal ayat 88).
Dengan terus-terang karena sombongnya, mereka mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. seketika datang tempelak-tempelak semacam ini bahwa hati mereka tertutup. Artinya pengajaran dari siapapun tidak akan masuk lagi,lalu disambut Tuhan:
“Bukan!”
Bukan hati mereka yang tertutup.
“Tetapi mereka telah dikutuki oleh Allah dari sebab kufur mereka.”
Sebenarnya hati mereka bisa baik kembali, tetapi sayang telah mereka sumbat sendiri hati itu dengan kufur, laknat Allah datang:
“Maka sedikitlah mereka yang beriman. ” (ujung ayat 88).
Yang sedikit itulah yang menggabungkan dirinya kepada Islam, sebagai Abdullah bin Salam dan beberapa orang yang damt dihitung dengan jari.
Setengah tafsir mengatakan arti ghulfun bukanlah hati tertutup. Tetapi menafsirkan hati kami adalah perbendaharaan, atau pura yang penuh dengan ilmu pengetahuan, kami tahu semua soal. Maka oleh karena mereka merasa segala tahu, tidaklah mereka mau lagi menerima kebenaran dari mana sajapun datangnya. Lalu disambut oleh jawaban wahyu itu, bukan hati mereka perbendaharaan segala ilmu, tetapi tempat simpanan segala kufur sehingga kutuk Tuhanlah yang mereka derita.
***
“Dain tatkala datang kepada mereka Kitab dari sisi Allah.”(pangkal ayat 89).
Yaitu Kitab Suci al-Quran, dan Kitab yang datang itu
“membenarkan bagi apa yang ada serta mereka.”
Yaitu membenarkan isi Taurat, tidak ada selisih pada pokok, sebab sama-sama berisi pengajaran Tauhid dan beberapa janji sebagai yang telah berkali-kali diterangkan di atas tadi.
“Padahal pernahlah mereka dahulu memohonkan kemenangan atas orang-orang yang kafir.”
Sebab sudah disebutkan dalam Taurat akan datang seorang Rasul untuk menyempurnakan isi Taurat, dan itu sudah menjadi keyakinan mereka. Sehingga kalau mereka berhadapan dengan orang-orang kafir, yaitu orang-orang musyrikin itu akan disapu bersih oleh Rasul itu. Malahan mereka kenal tanda-tanda Rasul itu sebagaimana diisyaratkan di dalam Kitab mereka:
“Maka tatkala telah datang kepada mereka apa yang telah mereka kenal itu, merekapun tidak percaya kepadanya.”
Menurut riwayat dari lbnu Ishaq, yang diterimanya dari orang tua-tua Anshar, bahwa ayat ini turun ialah mengenai mereka dan orang Yahudi di Madinah, bahwa di zaman jahiliyah pernah kami orang Madinah mengalahkan mereka padahal kami belum memeluk lslam, dan mereka masih Ahlul-Kitab. Meskipun telah kalah, tetapi pemah mereka mengatakan: Kini kami kalah, kelak akan diutus Tuhan seorang Rasul. Kalau Rasul itu datang, kami semua akan menjadi pengikutnya. Masanya tidak lama lagi. Waktu itu kelak kamu semuanya ini akan kami sapu bersih, kami bunuh sebagai terbunuhnya kaum Aad dan Iram.
Dari riwayat ini nyatalah bahwa disaat mereka pernah kalah berperang dengan kafir-musyirik, mereka telah mengharapkan bahwa mereka akan mencapai kemenangan kembali jika Rasul itu datang! Hal ini diingat benar oleh orang tua-tua Anshar di Madinah. Sekarang Rasul itu telah datang. Tetapi apa jadinya? Usahkan mereka bersedia jadi pengikutnya untuk berperang menegakkan agama bersama dia, bahkan mereka dustakan dan mereka kafir. Dan orang-orang yang mereka hinakan dahulu itulah yang menjadi pengikut Rasul itu.
“Maka kutuk Allahlah atas orang-orang yang kafir.” (ujung ayat 89).
Apabila kutuk laknat sudah datang, apa saja yang dikerjakan menjadi serba salah.
Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura




























Leave a Reply