Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 62 (3): Iman dan Islam

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Tafsir Ayat 62

Baca Bagian 1 dan Bagian 2...

Menurut sabda Nabi s.a.w. kepada sahabat beliau Amr bin al-‘Ash, seketika beliau ini yang tadinya amat benci kepada Nabi s.a.w., lalu masuk Islam dan meminta maaf kepada beliau atas kesalahan-kesalahan yang telah lalu, Nabi s.a.w. telah bersabda kepadanya: “Hai Amr, Islam itu menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.” Artinya, mulai dia memeluk Islam itu, habislah segala kesalahan yang lama, dimulailah hidup baru.

Kalau setelah mereka memeluk Islam, mereka lanjutkan studi mereka, dan mereka perdalam iman kepada Allah dan Rasul, mereka insafi akan Hari Akhirat, lalu mereka ikuti dengan amal yang shalih, niscaya tinggilah martabat mereka di sisi Tuhan daripada orang-orang yang Islam sejak kecil, lslam karena keturunan, tetapi tidak tahu dan tidak mau tahu hakikat lslam. Tidak menyelidiki terus-menerus dan tidak memperdalam.

Telah bertahun-tahun penulis ini mencoba mencari tafsir dari ayat ini, namun hasilnya belumlah memuaskan hati penafsir sendiri, apatah lagi yang mendengarnya. Tetapi setelah bertemu suatu riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim daripada Salman al-Farisi, barulah terasa puas dan tafsir yang telah kita tafsirkan ini adalah berdasar kepada riwayat itu.

Ibadah dalam Islam

“Telah meriwayatkan lbnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadat mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu”.

Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadat adalah hal yang lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku di satu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 67-74: Menyembelih Lembu Betina (3)

Hakikat Islam

Lantaran itu tidaklah penulis tafsir ini dapat menerima saja suatu keterangan yang diriwayatkan oleh lbnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang mereka terima dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini telah mansukh, tidak berlaku lagi. Sebab dia telah dinasikhkan oleh ayat 58 daripada Surat ali Imran yang berbunyi:

“Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi Agama, sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya. Dan dia di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.” (ali Imran: 85)

Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala RasulNya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.

Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 Surat ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan syurga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita fahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da’wah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fithrah, tetapi dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.

Nabi s.a.w. menegaskan menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Muslim daripada Abu Musa al-Asy’ari:

“Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dan ummat sekarang ini. Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Dengan Hadis ini jelaslah bahwa kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil-Anbiyaa) membawa al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajarun Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan lslam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Bani Quraidah dan Bani Aus: Tafsir Al-Baqarah Ayat 85

Maka orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak.Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.

***

Janganlah orang mengira bahwa ancaman masuk neraka itu suatu paksaan di dunia ini, karena itu adalah bergantung kepada kepercayaan. Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan didunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid, lalu digalikan lobang (Ukhdud) dan diunggunkan api di dalamnya dan dibakar orang-orang yang ingkar itu, sampai 20,000 orang banyaknya.* [Lihat “Tafsir AI-Azhar” Juzu’ 30, tafsiran Surat al-Buruj]

Neraka adalah ancaman di hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran. Agama Islam telah berkembang luas selama 14 abad, tetapipihak kepala gereja-gereja Yahudi dan Nasrani sendiri berusaha besar-besaran menghambat perhatian pemeluknya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan Agama lslam, membuat berbagai kata bohong, lalu dinamai llmiah, sehingga terjadilah batas jurang yang dalam di antara mereka dengan Islam, dan selalu menganggap bahwa Islam itu musuhnya.

Padahal Islam selalu membahasakan mereka dengan hormat, yaitu Ahlul Kitab – pemegang kitab-kitab suci; dan kedatangan mereka senantiasa ditunggu. Bukan dengan paksaan, sebagaimana kelak akan dijelaskan didalam ayat 256 Surat al-Baqarah ini. (Permulaan Juzu’ 3), melainkan dengan fikiran jernih dan akal yang terbuka.** [Lihat “Tafsir Al-Azhar” Juzu’ 9, tafsir ayat 158 dari Surat 7 al-A’raf.]

Baca Juga  Tiga Buah Masyhur dalam Al-Qur'an

Dengan sebab itu pula maka Bani Israil dengan rentetan ayat-ayat ini tidak terlepas dari seruan da’wah, agar mereka berfikir.

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura