Dalam keseharianya manusia melakukan aktivitas atau kegiatan yang menguras tenaga. Dengan aktivitas tersebut dapat membuat tubuh kita menjadi lelah dan membutuhkan istirahat dengan tidur yang cukup. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tidur adalah suatu kondisi tubuh yang ditandai meresapnya suhu insting. Kemudian kekuatan jiwa ke dalam tubuh untuk mencari ketenangan (istirahat). Term tentang tidur disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an. Di antaranya dalam surah Al-Kahfi, yang mengisahkan peristiwa tidurnya pemuda ashabul kahfi selama tiga ratus sembilan tahun lamanya.
Pemuda Ashabul Kahfi
Ashabul Kahfi merupakan salah satu kisah yang paling populer di masyarakat. Pemuda Al-Kahfi adalah sekelompok pemuda dari Romawi. Mereka tinggal di kota yang bernama Tarsus yang mana pada masa jahiliah kota tersebut dikenal dengan nama Efsus. Mereka beriman kepada risalah Nabi Isa as. yang membawa ajaran Tauhid; hanya menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Sementara itu, bangsa Efsus adalah orang-orang yang menyembah berhala. Diceritakan dalam surah Al-Kahfi, mereka berkumpul membicarakan kondisi masyarakat yang menyembah berhala. Kemudian mempertanyakan dan meragukan apa yang telah disembah oleh kaum mereka. Mereka berdiskusi dan bertukar pikiran, hingga akhirnya menuntun mereka menuju keimanan kepada Allah Swt. Sebagaimana ajaran yang diserukan oleh risalah Nabi Isa as.
Kisah Pemuda Al-Kahfi
Kala itu, sang Raja merupakan seorang penguasa yang sewenang-wenang. Penduduk dari masyarakat juga merupakan orang-orang yang musyrik. Dalam sebuah pertemuan salah seorang dari mereka mendengar informasi bahwa raja akan mengirim utusan untuk menangkap dan membawa pemuda Al-Kahfi. Karena tidak mau mengikuti ajaran yang dianut pada masa itu.
Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain, “Aku tahu sebuah gua di suatu gunung. Dulu ayahku biasa memasukkan domba-dombanya kesana. Mari kita pergi dan bersembunyi di sana.” Para pemuda itu pun pergi, mereka sadar bahwasanya tidak ada tempat lagi bagi mereka di kota itu.
Mereka pun pergi meninggalkan kota secara sembunyi-sembunyi untuk menyelamatkan akidah dan akhlak mereka. Mereka terus berjalan hingga pada akhirnya sampailah mereka di gua yang mereka maksud. Lalu memutuskan untuk beristirahat beberapa saat, para pemuda itu pun masuk ke dalam gua dan berlindung di dalamnya. Hal itu merupakan ilham dari Allah yang diberikan kepada mereka. Allah swt berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 16 yang berbunyi:
وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا
Artinya: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.”
Jika kita menilik dalam surah Al-Kahfi ayat 11, 17 dan 18, akan kita dapati tahap–tahap Allah Swt menidurkan pemuda Ashabul Kahfi. Di sisi lain, Allah memberikan kemukjizatan dengan menidurkan mereka dalam rentang waktu yang sangat lama; tiga ratus sembilan puluh tahun. Allah swt sudah mengatur sedemikian rupa agar tidur mereka tetap dalam keadaan baik.
Pengaruh Suara Dalam Tidur
فَضَرَبْنَا عَلٰۤى اٰذَا نِهِمْ فِى الْـكَهْفِ سِنِيْنَ عَدَدًا
Artinya: “Maka Kami tutup telinga merekadi dalam gua itu selama beberapa tahun,”(QS. Al-Kahf 18: Ayat 11)
Makna ayat “Maka kami tutup telinga mereka” adalah Allah swt menutup telinga mereka supata tidak ada suara yang masuk ke telinga mereka. Sebab ketika orang yang tidur mendengar suara dia akan terbangun. Telinga adalah satu-satunya organ yang menyampaikan suara ke pusat pendengaran di dalam otak, telinga merupakan satu-satunya indra yang terus bekerja meski tubuh dalam keadaan istirahat (tidur). Jika tidak berfungsi, manusia akan memasuki tidur yang sangat lelap dan tidak akan merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Pengaruh Cahaya Dalam Tidur
وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَاِ ذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَا تَ الشِّمَا لِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُ
Artinya: “Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 17)
Tidur biasanya terjadi di malam hari, ketika cahaya matahari menghilang dan kegelapan menyelimuti bumi. Kegelapaan dapat merangsang hormon pertumbuhan sebagaimana merangsang keluarnya hormon melatonin. Agar hormon melatonin keluar dengan teratur, maka bangun tidur seharusnya sebelum matahari terbit. Sebab sinar matahari atau cahaya apapun itu yang mengenai mata akan mencegah keluarnya melatonin.
Hikmah Dari Posisi Tidur Yang Berubah-Ubah
وَ تَحْسَبُهُمْ اَيْقَا ظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌ ۖ وَنُـقَلِّبُهُمْ ذَا تَ الْيَمِيْنِ وَ ذَا تَ الشِّمَا لِ
Artinya: “Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 18)
Jika seseorang terbaring di tempat tidur untuk waktu yang sangat lama, sesekal dia perlu mengubah posisi tubuh dari sisi ke sisi yang lain. Untuk memahami risiko kesehatan akibat tubuh tetap pada satu posisi, perlu kita ketahui fakta-fakta ilmiah sebagai berikut:
Pertama, posisi tubuh tetap dalam keadaaan pada satu posisi selama berjam-jam dan berhari-hari akan mengakibatkan kongesti pada paru-paru. Kongesti adalah terbendungnya darah sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ yang mengakibatkan adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. Hal tersebut dapat mengakibatkan radang paru-paru.
Kedua, tidak adanya perubahan posisi tubuh memengaruhi keseimbangan badan. Mereka yang tidur selama berhari-hari atau berminggu-minggu dapat mengakibatkan perlambatan sirkulasi darah di kaki sehingga menyebabkan terjadinya thrombosis pada kaki.
Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.