Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Surat Al-Qhasas Ayat 77: Memaknai Peran Manusia Sesungguhnya

Manusia
Sumber: istockphoto.com

Manusia merupakan makhluk terkahir yang diciptakan oleh Allah SWT setelah penciptaan malaikat, jin, bumi dan seisinya. Sebagai makhluk terakhir yang diciptakan, manusia sesungguhnya merupakan ciptaan paling sempurnaan yang padanya diberikan akal dan nafsu sebagai peralatan yang akan digunakan selama menjalani hidup di dunia.

Pada proses penciptaannya, malaikat menentang penciptaan manusia karena kelak meraka akan menimbulkan mafsadat dan menumpahkan darah dimuka bumi. Namun kemudian Allah SWT mengatakan kepada malaikat “Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al-Baqarah Ayat; 30).

Hakikat Peran Manusia Diciptakan

Hakikat penciptaan manusia dengan diberikan akal dan nafsu sebagai alat, tak lain sebagai abid (orang yang beribadah kepada Allag) dan Khalifah (Pengganti). Pada hakikat penciptaan tersebut telah jelas bahwa manusia memiliki dua fungsi yang harus dikerjakan dan diseimbangkan pada saat dunia. pertama sebagai hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah. Kedua sebagai makhluk yang mengurus alam semesta dan menciptakan kedamaian didalamnya.

Peran sebagai hamba dan khalifah tidak bisa dipilah dan dipilih, namun keduanya harus dijalankan secara beriringanan dengan tujuan mendapatkan ridho Allah. Namun, pada kenyataannya masih banyak terjadi misfungsi dari manusia itu sendiri. Pada satu sisi ada yang hanya menjalankan fungsinya sebagai hamba dan terus menerus melaksanakan ritual (ibadah) secara vertikal, disisi yang lain kita menemukan manusia yang hanya menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial dan menafikan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

 Sebagai jawaban dari misfungsi yang terjadi, Allah telah berfirman pada Q.S Al-Qashas Ayat 77;

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

Baca Juga  Buya Hamka dan Proyek Di Balik Penyusunan Tafsir Al-Azhar

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.

Ayat ini merupakan sambungan dari ayat 76 yang mengisahkan Qorun seorang yang kaya dari segi spritual namun miskin secara harta mendatangi nabi Musa a.s dan meminta agar didoakan menjadi seorang kaya secara materil. Nabi Musa mengabulkan permintaan dari Qorun dan mendoakaannya yang kemudian di berikan kecukupan materil dan hidupnya berbalik 180 derajat. Namun setelah memiliki kecukupan materil dan tahta, Qorun melepaskan kekayaan spritualnya yang pada akhirnya menjerumuskannya pada jurang kebinasaan.

Tiga Peran Manusia

Dari kisah Qorun sebagai sababun nuzul dapat diambil pelajaran, bisa saja fungsi manusia sebelumnya akan terganti dengan fungsi yang lainnya. Untuk tetap menyelaraskan fungsinya Surat Al-Qashas ayat 77 setidaknya memberikan empat poin yang perlu diperhatikan oleh manusia. Pertama, poin ini menjelaskan fungsi manusia sebagai hamba dengan isyarat bahwa manusia harus mencari segala yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya. Bekal yang dimaksud adalah seluruh kegiatan yang dilakukan harus berlandaskan ibadah kepada Allah SWT.

Kedua, dan janganlah lupakan kebahagianmu di dunia. Frasa “janganlah melupakan” pada kalimat ini menjelaskan, manusia tidak hanya berperan sebagai abid, namun juga sebagai makhluk sosial yang memiliki peran sentral pada stabilitas bumi ini. Terlihat jelas perbedaan frasa antara poin pertama dan kedua. Pada poin pertama Frasa “carilah” penekanan untuk manusia beribadah dan mencari rhido Allah sebanyak-banyak, kemudian frasa “jangan lupakan” merupakan peringatan agar manusia tidak terlena hanya beribadah secara vertikal saja sehingga melupakan kehidupan sosialnya.

Baca Juga  Memahami Moderasi Islam dalam Hubungan Antarumat Beragama

Ketiga, sebagi makhluk sosial hendaknya manusia saling berbuat baik dan mengasihi, sebagaimana mengasihi manusia. Teks ini bisa tidak hanya terbatas pada perbuatan baik sesama manusia melainkan berbuat baik kepada seluruh makhluk yang ada dimuka bumi ini. Keempat sebagai khalifah dimuka bumi, Allah sesungguhnya melarang manusia untuk berbuat kerusakan. Selain Allah tidak menyukainya, kerusakan juga akan berdampak pada ketidak stabilan perbuatan manusia dimuka bumi ini. Namun jika dilihat konteks hari ini, manusia banyak berbuat mafsadat. Merusak alam, merampok (korupsi), menyamun merupakan bentuk mafsadat yang sering dilakukan oleh manusia, hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya penggunaan nafsu dan akal.

Dengan empat poin kandungan surat Al-Qashas ayat 77 dapat menjadi dasar etis bagi manusia untuk tetap menjalankan dwifungsi yang dimiliki. Dwifungsi tersebut dapat berjalan dengan baik ketika manusia merasapi makna “berbuat baik” sebagai bagian dari amar ma’ruf dan “tidak berbuat kerusakan” sebagai bentuk manusia tidak boleh serakah dan melanggar nilai etis yang telah ada hanya untuk kepuasan invidu, keluarga ataupun kelompok.

Editor: An-Najmi

Mahasiwa Ekonomi Syari’ah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Penulis memiliki minat pada kajian filsafat, keagamaan, pendidikan dan ekonomi syari’ah.