Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam memaknai kesuksesan. Ada yang beranggapan bahwa sukses itu ketika seseorang memiliki popularitas, kedudukan yang tinggi, gelar, menjadi konglomerat, atau memiliki harta berlimpah (rumah megah, kendaraan banyak, dll.). Ada juga yang beranggapan bahwa sukses itu ketika tercapainya sesuatu yang diinginkan.
Darisana dapat diketahui bahwasanya terdapat empat patokan yang menjadikan seseorang dapat dikatakan sukses dalam hidupnya, yakni uang atau kekayaan, kekuasaan atau jabatan, popularitas, dan prestasi. Namun kesuksesan tersebut merupakan kesuksesan duniawi yang sifatnya tidak kekal, melainkan pemberian sementara yang Allah berikan pada hamba-Nya.
Banyak orang yang sukses secara duniawi, tetapi tidak bahagia, tidak memiliki ketentraman dalam hidup jika tolak ukur dari kesuksesannya hanya tentang materi. Oleh karenanya kesuksesan tidak hanya dinilai secara materi, tetapi juga memperhatikan kedamaian hati.
Kesuksesan dalam Al-Qur’an
Terdapat tanda-tanda orang yang sukses menurut QS. Al-Mu’minun: 1-11. Meskipun kata sukses dalam al-Qur’an tersebut tidak tertulis secara tekstual tetapi dapat dicari persamaan katanya berdasarkan terminologi dalam KBBI, sukses berartikan berhasil dan beruntung, arti tersebut di dalam al-Qur’an memiliki padanan kata yakni al-Falah. Al-Falah berarti keberuntungan, kebahagiaan, keberhasilan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ المؤمنون ۱۱-۱
Artinya:
“[1]Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin; [2] (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya; [3] dan orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna; [4] orang-orang yang menunaikan zakat; [5] orang-orang yang menjaga kemaluannya; [6] kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya); [7] Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas; [8] (Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka; [9] serta orang-orang yang memelihara salat mereka; [10] Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi; [11] (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minūn [23]: 1-11)
Berdasarkan penafsiran Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam kitab tafsirnya yaitu Tafsir al-Maraghi, beriman yang dimaksud pada ayat pertama yakni pasti beruntung orang-orang yang membenarkan Allah, para Rasul-Nya, dan hari akhir. Pada ayat kedua khusyu’ dalam mengerjakan shalat. Maksudnya orang yang khusyu’ ialah orang yang menghinakan dan merendahkan diri kepada Allah, serta takut pada adzab-Nya.
***
Ayat ketiga, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Maksudnya orang-orang yang menjauhi dari segala hal yang tidak memabawa faedah atau manfaat bagi mereka. Dan dari segala perkataan yang yang seharusnya ditinggalkan, seperti berdusta, mencaci, dan gurau.
Ayat kempat, orang-orang yang menunaikan zakat, maksudnya ialah orang-orang yang membersihkan dan mensucikan dirinya, dan mereka yang menunaikan zakat yang diwajibkan pada orang fakir, dan miskin, sebagaima yang terdapat (QS. Al-‘Alā [87]: 14) dan (QS. Asy-Syams [91]: 9).
Ayat kelima hingga ketujuh, orang-orang yang menjaga kemaluan. Maksudnya ialah orang-orang yang memelihara kemaluaannya dalam segala keadaan (perbuatan yang diharamkan), kecuali menggauli yang dalam ikatan hubungan suami isteri atau menggauli budak wanita yang dimiliki, sehingga dengan begitu mereka tidak tercela. Maksud dari disifatinya mereka dalam hal ini ialah untuk memuji bahwa mereka benar-benar mensucikan diri dan berpaling dari syahwat. Barangsiapa mencari untuk melampaskian syahwatnya selain dari itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim dan melanggar ketentuan Allah.
Ayat kedelapan, sungguh beruntung pula orang-orang yang memelihara amanat dan janji. Maksudnya ialah orang-orang yang apabila diserahi amanat, dan dia tidak berkhianat, tetapi menyampaikan amanat tersebut kepada orang yang berhak menerimanya, dan pabila berjanji atau mengadakan perikatan, maka dia memenuhi janji tesebut. Karena berkhianat dan melanggar janji ialah termasuk dalam ciri-ciri orang munafik, sebagiamana yang terdapat dalam (HR. Bukhari dan Muslim) bahhwasanya terdapat 3 ciri-ciri orang munafik, yakni orang yang jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah mengkhianati.
***
Ayat kesembilan hingga kesebelas, orang-orang yang memelihara shalat. Maksudnya dalah orang-orang yang mengerjakan shalat secara sempurna pada waktu-waktu yang telah ditetapkan/tepat pada waktunya. Sebagaimana hadist yang diriwatkan oleh ibnu Abbas, “saya bertanya kepada Raulullah SAW, ya Rasul, perbuatan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Rasul menjawab: shalat pada waktunya, kemudain saya bertanya, kemudian apa? Rasul menjawab: berbakti kepada kedua orang tua, saya bertanya lagi, kemudian apa? Raul menjawab: berjihad di jalan Allah (HR. Asy-Syaikhan dari Ibnu ‘Abbas).
Allah mensifati mereka dengan sifat-sifat terpuji dan berbagai perbuatan mulia, orang-orang Mu’min yang memiliki sifat luhur itu patut menduduki tingkat tertas dari surga, sebagai balasan karena telah menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang baik. Mereka yang akan mewarisi surga Firdaus, dan mereka kekal selama-lamanya didalamnya, mereka tidak keluar darisana dan mereka tidak pula mati.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita pahami di dalam al-Qur’an terdapat beberapa tanda orang yang beruntung/ sukses (muflih). Kesuksesan atau keberuntungan yang hakiki dalam al-Qur’an melalui surah al-Muiminun ayat 1-11 yaitu pertama, orang beriman yang membenarkan Allah, Rasul-Nya, dan hari akhir. Kedua, orang mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya. Ketiga, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna/tidak ada manfaatnya. Keempat, orang yang menunaikan zakat (zakat berupa harta dan zakat berupa penyucian jiwa). Kelima, orang yang memelihara kemaluannya dari yang haram. Keenam, orang yang menjaga amanat dan menepati janjinya. Ketujuh, orang yang menjaga shalatnya (shalat dengan tepat waktu).
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply