Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ayat Penciptaan Tumbuhan Perspektif Tafsir al-Sya’rawi

Tumbuhan
Sumber: id.pinterest.com

Al-Qur’an adalah kitab samawi terakhir disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. dan merupakan kitab suci yang hanya diturunkan untuk orang-orang terdahulu yang memiliki problematika yang berbeda dengan orang-orang di zaman sekarang dan yang akan datang. Tidak ada konsep paling sentral dalam kajian Al-Qur’an selain konsep wahyu Al-Qur’an itu sendiri.[1] Memanglah Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab keagamaan, namun tidak sedikit di dalamnya memiliki pesan-pesan penting yang merujuk pada fenomena alam semesta. Ayat-ayat tersebut dalam dunia Al-Qur’an biasa dikenal dengan ayat kauniyah.[2]

Penciptaan tumbuhan dapat diawali dengan menyoroti pentingnya tumbuhan sebagai makhluk hidup yang menempati fundamental dalam ekosistem bumi. Tumbuhan merupakan produsen utama dalam rantai makanan sendiri melalui fotosintesis dengan bantuan klorofil. Selain menyediakan makanan, ia juga berperan besar dalam menghasilkan oksigen (O2) dan menyerap karbondioksida (CO2) yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan hewan. Tumbuhan juga membantu mengurangi dampak pencemaran udara dan perubahan iklim.[3]

Penciptaan tumbuhan dalam Al-Qur’an digambarkan secara rinci dalam beberapa ayat. Ayat-ayat tersebut menekankan peran air hujan dan sinar matahari sebagai unsur vital bagi pertumbuhan dan keberlangsungan tumbuhan. Proses ini menunjukkan keagungan ilahi dan keteraturan alam yang memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup di bumi.

Tumbuhan dalam Alkitab

Manusia dan alam sangat erat kaitannya satu sama lain. Masing-masing memiliki keterkaitan dan saling berhubungan menjadi suatu simbiosis mutualisme. Namun dalam realitasnya, manusialah yang mendominasi kehidupan di bumi. Tumbuhan yang merupakan salah satu makhluk hidup yang memiliki klasifikasi sendiri, menjadi tidak lepas dalam sejarah umat manusia.

Dalam ayat-ayat Alkitab, tumbuhan sering dipakai sebagai simbol dari perilaku tertentu. Misalnya dalam Perjanjian Lama, Isa menggunakan pohon, anggur, buah, dan tanaman obat sebagai simbol kebajikan, pengampunan, dan keagungan Tuhan. Sedangkan tumbuhan yang berduri merepresentasikan simbol dosa dan semua hal yang berkaitan dengan kejelekan.[4]

Baca Juga  Mengungkap Makna Ulil Amri Perspektif Tafsir Sunni dan Syiah

Proses Tumbuhnya Tumbuhan dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa tumbuhan mengalami proses penyerbukan melalui perantara angin. Karenanya, benih jantan dan betina dapat bertemu dan memungkinkan terjadinya pembuahan. Ketika Allah menurunkan air hujan dari langit, tanah merespons dengan menyerap air tersebut ke dalam pundi-pundinya. Dari situlah tumbuh-tumbuhan memulai kehidupannya.

Selain itu, cahaya matahari juga memiliki peran penting. Tumbuhan secara alami merespons cahaya dengan mengarahkan pucuknya ke arah sinar yang memungkinkan proses pertumbuhan berlangsung secara optimal. Dengan demikian, melalui air, angin, dan cahaya, tumbuhan tumbuh dan berkembang dengan subur sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an.[5]

Al-Qur’an memiliki intisari ayat yang komprehensif tentang ayat-ayat semesta. Salah satu ayat yang sering dilupakan adalah mengenai dunia tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan merupakan suatu term yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Penyebutan kata atau istilah yang senada dengan tumbuhan terdapat 112 ayat yang tersebar dalam 47 surat, yang menyebutkan 16 jenisnya dalam Al-Qur’an.[6]

Penafsiran Ayat Penciptaan Tumbuhan

Ayat yang menjelaskan tentang penciptaan tumbuhan adalah firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-An’am ayat 99.

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَاَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًاۚ وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَّجَنّٰتٍ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ اُنْظُرُوْٓا اِلٰى ثَمَرِهٖٓ اِذَٓا اَثْمَرَ وَيَنْعِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكُمْ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Artinya: “Dialah yang menurunkan air dari langit lalu dengannya Kami menumbuhkan segala macam tumbuhan. Maka, darinya Kami mengeluarkan tanaman yang menghijau. Darinya Kami mengeluarkan butir yang bertumpuk (banyak). Dari mayang kurma (mengurai) tangkai-tangkai yang menjuntai. (Kami menumbuhkan) kebun-kebun anggur. (Kami menumbuhkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.[7]

Baca Juga  Biodiversitas sebagai Isyarat Menjaga Bumi: Tafsir QS. Thaha Ayat 53

Syeikh Muhammad Mutawalli al-Sya‘rawi menyoroti kekuasaan Allah Swt. dalam penciptaan tumbuhan melalui air yang diturunkan dari langit. Menurutnya, air hujan merupakan sumber kehidupan utama bagi segala makhluk, khususnya tumbuhan. Ia menegaskan bahwa ayat ini menggambarkan proses pertumbuhan tumbuh-tumbuhan secara bertahap—mulai dari tunas, menjadi tanaman hijau, lalu menghasilkan biji yang bertumpuk-tumpuk.[8]

Al-Sya‘rawi menekankan bahwa keteraturan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan sebagai tanda dari adanya kehendak dan kekuasaan Ilahi yang mengatur alam semesta dengan sangat teliti. Ia juga menyoroti keajaiban bahwa dari tanah, air, dan cahaya matahari yang sama, tumbuh berbagai macam tumbuhan yang berbeda dalam rasa, warna, bentuk, dan manfaatnya.[9]

Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata atas keesaan Allah Swt. Al-Sya‘rawi mengajak pembacanya untuk tidak hanya melihat fenomena alam ini secara ilmiah, tetapi juga merenungkannya sebagai ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan keberadaan, ilmu, dan kasih sayang Allah. Dengan pendekatan ini, ia memperlihatkan bahwa ayat tersebut bukan sekadar menggambarkan proses alam, melainkan juga merupakan seruan spiritual untuk mengenal dan mengagungkan Sang Pencipta.[10]

Pesan Teologis dan Biologis Allah pada Al-Qur’an

Melalui penafsiran Syeikh al-Sya‘rawi, ayat-ayat mengenai penciptaan tumbuhan dipahami sebagai tanda kekuasaan Allah Swt. yang menghadirkan keteraturan dan keberagaman dalam ciptaan-Nya. Fakta ilmiah mengenai fotosintesis, peran biji, serta proses perkembangbiakan tumbuhan semakin memperkuat kebenaran ayat-ayat tersebut. Dengan demikian, tumbuhan tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga mengandung pesan teologis dan etis. Penciptaannya menjadi bukti nyata kebesaran Allah, sarana untuk menumbuhkan rasa syukur, serta dorongan bagi manusia untuk menjaga kelestarian alam.


Daftar Pustaka

[1] Munirul Ikhwan, ”Legitimasi Islam: Sebuah Pembacaan Teoritis Tentang Wahyu Al-Qur’an”, Mutawattir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith, Vol. 10, No. 01 (TB, 2020), 145.

Baca Juga  Rekonstruksi Kedudukan Perempuan Pasca Kedatangan Al-Qur'an

[2] Mohammad Nor Ichwan, Tafsir Ilmi: Memahami Al-Qur’an Melalui Pendekatan Sains Modern (Yogyakarta: Menara Qudus, 2004).

[3] Fitriana Hoyrunnisa, ”Penciptaan Tumbuhan dalam Kajian Tafsir Ilmi”, (Skripsi-UIN Raden Intan, Lampung, 2022), 109.

[4] Ibid, 3.

[5] Nur Fatmawati, “Siklus Kehidupan Tumbuhan dalam Al-Qur’an (Perspektif Tafsir An-Nur Karya Hasbi Ash-Shiddieqy)”, (Skripsi IAIN Pekalongan, 2022), 8.

[6] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik Pelestarian Lingkungan Hidup, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2009), 169.

[7] Al-Qur’an (6): 99.

[8] Muhammad Mutawwali al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi: Jilid 13, (Mesir: Alrayah, 2020), 260-269.

[9] Ibid, 260-269.

[10] Muhammad Mutawwali al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi: Jilid 13, 260-269.

Editor: Tim Redaksi Tajdeed ID