Di dalam Islam terdapat berbagai sumber ajaran salah satunya dan paling utama adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau wajib menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya, sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat Islam yang ada di dunia. Berikut kesejarahan Al-Qur’an di era Utsman.
Penyusunan Al-Qur’an dan Era Utsman bin Affan
Utsman bin Affan dipilih oleh masyarakat melalui baiat sebagai khalifah ketiga. Dalam pemerintahannya, umat Islam sibuk melibatkan diri dalam medan jihad yang membawa Islam ke arah utara yaitu Azerbaijan dan Armenia. Setelah wilayah kekuasaan Islam semakin luas, dan para qurra’ (penghafal Alquran) pun tersebar di berbagai wilayah. Di setiap wilayah itu biasanya ada yang mempelajari qira’at (baca’an) ayat dari qari’ yang dikirim kepada mereka. Pembacaan Al-Qur’an yang mereka (qurra’) bawakan itu berbeda-beda relevan dengan perbedaan huruf-huruf yang dengannya Al-Qur’an diturunkan.
Apabila mereka berkumpul di dalam suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan; sebagian dari mereka merasa heran dengan perbedaan qira’at ini. Namun terkadang sebagian yang lain merasa puas karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu, semuanya di sandarkan kepada Rasulullah. Akan tetapi keadaan demikian ternyata tidak dapat membendung adanya keraguan di benak generasi-generasi baru; yang tidak berjumpa dengan Rasulullah. Sehingga terjadilah pembicaraan tentang bacaan mana yang sesuai yang diajarkan Rasulullah. Akhirnya akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah seperti ini tentu harus segera diselesaikan.
***
Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbaijan dari penduduk Irak, termasuk Hudzaifah bin AlYaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan ketidakfasihan. Masing-masing dari mereka mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan puncaknya mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan seperti ini sahabat Hudzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Ustman berpendapat bahwa sebagian perbedaan itu juga terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qira’at kepada anak-anak. Lalu anak-anak itu akan tumbuh sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qira’at harus segera diselesaikan.
Kodifikasi Al-Qur’an era khalifah Utsman didorong oleh situasi yang berbeda dari situasi yang dihadapi khalifah Abu Bakar; yaitu banyaknya penaklukan kota-kota dan sebaran umat Islam di berbagai kota-kota yang jauh. Selain itu, kebutuhan umat Islam yang telah menyebar di berbagai penjuru negeri terhadap kajian Al-Qur’an mengharuskan kerja-kerja kodifikasi Al-Qur’an. Sedangkan setiap penduduk mengambil qiraah dari sahabat rasul yang cukup terkenal di daerah tersebut; sering kali telah mengalami kekeliruan karena faktor geografis. Penduduk Syam membaca Al-Qur’an dengan qiraah Ubay bin Ka’ab. Penduduk Kufah membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abdullah bin Mas’ud. Selain mereka membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abu Musa Al-Asy’ari. Perbedaan versi ini membawa konflik di tengah masyaraka.
Pembentukan panitia serta penyalinan Mushaf
Langkah dalam penyusunan atau penulisan kembali Al-Qur’an, dengan acuan utama mushaf Abu Bakar. Utsman membentuk sebuah team yang terdiri dari empat orang sahabat terbaik dan terpercaya untuk melaksanakan tugas suci ini. Ketua tim yaitu Zaid bin Tsabit. Anggota Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-Ash dan Abdurrahman ibn Al-Harits ibn Hisyam.
Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafshah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya, dan Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran mushaf itu kepada Utsman. Kemudian Utsman memerintahkan kepada Zait bin Tsabit Al-Anshari, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Lalu ia memerintahkan kepada mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf. Jika terjadi perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu; hendaklah ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.
Setelah mereka menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman kemudian mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Dengan selesainya penyusunan atau penyalinan ini, Utsman kemudian mengirimkan salinan-salinan mushaf itu ke beberapa kota. Menurut beberapa laporan mushaf-mushaf itu di kirim ke empat kota: Kufah, Basrah, Suriah dan yang satu lagi di simpan di Madinah. Riwayat lain menambahkan Mekkah, Yaman dan Bahrain.
Kemudian Utsman juga menulis surat ke seluruh daerah yang berisi:” Aku telah melakukan begini dan begitu. Aku telah menghapus apa yang ada pada ku, maka hapuslah apa yang ada pada mu. Utsman memerintahkan kepada seluruh masyarakat agar harus membakar mushaf-mushaf pribadi mereka jika berbeda dengan mushaf milik nya.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.