Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Rasa Malu

rasa malu
Sumber: www.freepik.com

Luqman Al-Hakim pernah ditanya oleh seseorang.
“Apa satu hal baik dalam diri manusia?.
“Agama,” jawab Luqman.
“Kalau dua?” tanya orang itu.
“Agama dan Harta.”
“Kalau tiga?”
“Agama, Harta, dan Rasa Malu.”

Runtuhlah apa yang disebut “manusia” saat ia kehilangan “rasa malu”nya. Harkat serta martabat manusia menjadi tanggal bila ia menghilangkan satu sifat ini. Dalam kebudayaan timur, rasa malu amat dijunjung tinggi. Malu bila berkata tidak sopan, malu bila tidak hormat kepada yang tua, malu bila berperilaku seenaknya di muka umum.

Agama mengajarkan malu sebagai nilai yang berharga dari diri manusia. Dalam hadist Bukhari, “Nabi adalah yang lebih pemalu dari gadis perawan yang dipingit di kamarnya.” Seorang manusia teladan, panglima perang, manusia paling agung memiliki sifat keras pemberani, tetapi juga amat pemalu.

Ada semacam “batas”. Malu, adalah batas. Bila ia diterabas, maka benarlah apa yang disabdakan Nabi dalam hadist Bukhari yang berbunyi; “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” Tuhan sendiri sangat malu melihat hamba-Nya yang memohon ampun kepadanya. Ia amat malu untuk menyiksa hamba-Nya.

Danarto di bukunya Cahaya Rasul (1999) mengutip hadist Nabi : “Sesungguhnya Allah selalu melihat orangtua renta, tiap pagi dan sore, dan berkata, ‘Wahai hamba-Ku, telah tua usiamu, Makin kusut kulitmu. Makin rapuh tulangmu. Makin dekat ajalmu. Makin dekat kedatanganmu kehadirat-Ku. Malulah pada-Ku, maka Aku akan malu oleh ketuaanmu untuk menyiksamu di neraka’.”

***

Dalam hadist qudsi, Tuhan berfirman : “Kasih-Ku, mendahului murka-Ku.” Tuhan amat sangat sayang kepada hamba-Nya bila ia memiliki rasa “malu”. Panggung peradaban manusia tumbuh dan kuat karena memiliki rasa “malu”. Semakin beradab suatu bangsa, semakin ia memiliki tata susila yang baik. Semakin tinggi adab manusia, semakin ia pemalu untuk berbuat jahat dan dosa. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa kata malu berasal dari kata al-hayah (hidup), siapa yang tidak memiliki hayah, berarti ia mayat di dunia. Dan di akhirat dia akan sengsara.

Baca Juga  Tafsir At-Tanwir Al-Baqarah Ayat 183: Kewajiban Berpuasa Ramadhan

Dalam dunia yang maha luas ini, rasa malulah yang membuat kita menjadi besar sekaligus kecil. Di tengah jagat raya yang luas ini, kita adalah setitik noktah. Untuk itulah, rasanya tak pantas kita untuk menyombongkan diri lagi angkuh. Tetapi rasa malu untuk berbuat salah dan dosa kepada Tuhan yang mengangkat kita menjadi mulia bersama-Nya.

Saat “rasa malu” tanggal, bukan cuma baju yang sobek, tetapi juga hati menjadi terkoyak-koyak karena tidak lagi bisa membedakan antara yang haq dan yang batil. Antara yang benar dengan yang “sepertinya benar”. Malu membuat hamba merasa rela untuk menjalankan perintah serta menjauhi larangan. Hamba yang merasa dikasihi Tuhan tahu, Tuhan amat dekat dengan-Nya.

***

Di jaman yang runyam seperti sekarang ini, “rasa malu” kian tanggal. Orang Jawa menyebut “Satrio ilang wirange” (Kesatria hilang rasa malunya). Pejabat tidak lagi merasa malu menyalahgunakan wewenangnya. Anak tidak lagi memiliki “rasa malu” kepada orangtuanya. Kejahatan dan angkaramurka seolah dengan tanpa rasa malu dipertontonkan di hadapan kita.

Orang semakin berilmu, semakin menanggalkan “rasa malu”nya. Kejahatan dan nafsu seolah diumbar tanpa batas. Orang tidak malu lagi melakukan perselingkuhan, melakukan skandal, dan kemaksiatan. Gelar Profesor, gelar doktor tidak membuat seorang semakin menajamkan “malu” untuk berbuat serong.

Dalam zaman yang linglung itulah kita seperti hendak memperbaiki. Bahwa kecerdasan, intelektual, dan segala gelar yang kita peroleh tiada memiliki arti saat “malu” telah kita tanggalkan. Namun kita melihat kejahatan dan juga korupsi semakin menjadi. Orang tidak lagi risih memegang uang yang bukan milik sendiri. Orang tidak lagi merasa malu, saat aib menjadi tontonan di setiap harinya.

***

Ada kisah menarik tentang “rasa malu” dari Abu Nawas. Suatu hari, Abu Nawas kedatangan pencuri di malam hari, ia mengendap-endap dan masuk ke rumahnya. Abu Nawas mengetahui kejadian itu, namun apa yang dilakukan Abu Nawas? Ia malah sembunyi di sudut rumahnya. Pencuri itu fokus kesana-kemari dan tidak ada barang yang berharga yang dimiliki Abu Nawas.

Baca Juga  Memupuk Potensi Pembelajaran Perspektif Al-Qur'an

Lalu pencuri itu melihat Abu Nawas. “Hei, mengapa kamu malah sembunyi disitu?”. Abu Nawas menjawab : “Aku malu, karena tidak ada barang berharga satu pun yang bisa kuberikan padamu.” Pencuri itu pun justru kecewa dan pergi, namun ia lega Abu Nawas tidak berteriak padanya sehingga warga tidak memukulinya.

***

Saat orang memiliki “malu”, maka ia akan semakin berhati-hati dalam hidupnya. Ia tahu apa yang harus disembunyikan dan tampakkan. Ia semakin mengerti apa yang sejatinya perlu dilihat oleh orang dengan apa yang tidak. Ia sadar betul, kapan ia menunjukkannya secara sembunyi-sembunyi, kapan ia harus terang-terangan. Sifat malu membawa kita pada sifat arif, penuh pertimbangan dan tidak tergesa-gesa. 

Para Nabi, para Rasul, serta para sufi adalah seorang pemalu. Hari-harinya nampak dijalani dengan hati-hati dan penuh kesadaran. Mereka malu, saat Tuhan tidak berkenan terhadap apa yang mereka lakukan. Mereka malu, apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan perkenan Tuhan. Rasa malu membawa mulut mereka basah dengan dzikir. Zuhud dan sikapnya yang tidak tamak hadir karena “malu” kepada Tuhan-Nya.

Saat kita melihat orang gila di tengah-tengah kita, kita tersentak, terperangah, sembari menggumam, “ora due isin” (tidak tahu malu)!. Dan kita tahu, itu pula yang akan kita ucapkan pada koruptor, dan siapapun yang berbuat nista ketahuan boroknya. Dalam dunia mereka dipermalukan, dihukum dengan aneka rupa hukuman. Dan siapakah penghukum yang adil dari dosa-dosa kita?. Semoga Tuhan mengampuni kita dan menabur kasih-Nya. Tentu  saat kita masih menyimpan “rasa malu” kepada-Nya.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Arif Saifudin Yudistira. Lahir di Cilacap, 30 Juni 1988. Esais dan Peresensi Buku. Alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengasuh MIM PK Kartasura, Pegiat Bilik Literasi SOLO. Ketua Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah Rumpun Komunitas. Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo