Produk tafsir Arab merupakan aset yang luar biasa bagi studi Islam. Dalam hal ini banyak peneliti ilmiah yang telah memperhatinkan produk-produk tersebut. Sehingga dijadikan studi khusus dalam memahami tafsir al-Qur’an.
Seiring berjalannya waktu produk tafsir al-Qur’an yang awalnya menggunakan basis bahasa Arab, berpindah dengan bahasa lokal masing-masing (non-Arab). Hal ini bertujuan agar maksud dari al-Qur’an tersampaikan kepada masyarakat awam.
Dalam Australian Journal of Islamic Studies 6, no.4 (2021) yang diawali oleh Prof. Peter G. Riddell dan Dr. Hakan Oruh dengan judul “Tafsir di Dunia Muslim Non-Arab” sangat antusias terhadap komunitas Muslim akhir dunia terhadap keragaman dalam menafsirkan al-Qur’an. Dengan demikian, dunia Islam telah menghasilkan seni interpretasi al-Qur’an yang bermacam-macam.
Isi dari Australian Journal of Islamic Studies tahun ini di dalamnya mengusung tema terkait cita rasa yang Islam yang kuat di dunia non-Arab khususnya wilayah Asia Tenggara dan Afrika. Salah satunya berasal dari Indonesia, Dr. Ervan Nurtawab ikut andil dalam meneliti terkait menjembatani tafsir pra-modern dan modern di Indonesia. Sehingga artikel tersebut pas menjadi tulisan yang pertama dalam Australian Journal of Islamic Studies. Dr.Nurtawab berpendapat bahwa tafsir klasik yang terkenal di Indonesia pra-modern adalah tafsir Jalalain.
Selain itu, muncul juga tafsir bahasa melayu Tarjuman al-Mustafid karya ulama Aceh Syaikh ‘Abd al-Rauf as-Sinkili yang terasa bergerak di luar korpus eksegesis Indonesia modern. Selanjutnya Dr.Nurtawab juga mencantumkan di era pertengahan ada Tarjuman Qur’an Karim karya Mahmud Yunus, yang mana pada pertengahan abad ke-20 Yunus telah memanfaatkan teknologi percetaakan untuk menyiapkan karya terdepan dalam presentasi dan konten.
Pada artikel selanjutnya masih berasal dari Indonesia yakni tentang pertimbangan penerimaan tafsir ilmiah Al-Qur’an di Indonesia yang ditulis oleh Dr. Aqdi Rofiq Asnawi, Dr. Syukron Affani dan Zaenatul Hakamah. Tulisan tersebut menunjukkan telah ada output yang stabil dari karya ilmiah tentang interpretasi ilmiah dalam beberapa fase sejak 1960-an dan penulis juga meyakinkan institusi perlunya menggabungkan studi ilmiah eksegesis dalam kurikulum.
Sehingga dapat mengintegrasikan kajian Islam dengan ilmu pengetahuan. Selain tulisan terkait penerimaaan tafsir ilmiah, ada juga yang meneliti fokus pada produksi tafsir di Madura. Yang ditulis oleh Dr Ulya Fikriyati. Sedikit sapaan Fawaid dan Subhani Kusuma Dewi. Mereka-mereka menjelaskan bagaimana bahasa lokal Madura tersusun menurut tiga lapisan yang berhubungan dengan status sosial. Kesemuanya berpotensi bertentangan dengan gagasan Al-Qur’an tentang kesetaraan semua orang terlepas dari kelas.
Tulisan lain menggeser perhatian ke negara Malasyia dengan judul “Pandangan Orang Lain dalam Tafsir Al-Qur’an Melayu Modern” karya Dr. Mohamad Nasrin Nasir. Dr. Nasir mengkaji tiga karya tafsir dalam bahasa Melayu. Dengan alasan bahwa dalam beberapa kasus pesan dari tafsir itu efektif dibajak oleh agenda penafsir populer yang melakukan stereotip negatif terhadap non-Muslim.
Seperti kontribusi sebelumnya, artikel berikutnya juga merupakan produk dari seorang sarjana dari Asia Tenggara. Tetapi peneliti berasal dari Indonesia Muammar Zayn Qadafy sedang menyelesaikan disertasinya di Universitas Freiburg. Dalam hal ini Qadafy meneliti terkait zakat (sedekah yang ditentukan) sebagaimana disebutkan dalam tujuh ayat, yang berusaha untuk mengidentifikasi apakah ada pengembangan tematik jika ayat-ayat disusun mengikuti kronologi al-Qur’an wahyu. Ternyata Qadafy berpendapat bahwa ia menunjukkan kesadaran yang jelas tentang rasa zakat yang berkembang melalui fase-fase kronologis Alquran.
Disusul artikel terakhir yang ditulis oleh Associate Professor Abidin Chande dari Adelphi Universitas (AS) yang mengusung pembahasan mengenai terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Swahili dalam aksara Arab. Terjemahan dilakukan oleh Syekh Ali al-Buhriy, seorang ulama keturunan Arab dari keluarga Buhriy terkemuka yang menetap di daerah berbahasa Swahili Tanzania.
Terjemahan Syekh Ali al-Buhriy dirancang agar dapat diakses oleh semua pembaca yang bergolong Shawili. Sehingga asosiasi artikel Prof. Chande menawarkan cakupan yang luas dan menarik perspektif tentang mekanisme penerjemahan Al-Qur’an dalam proses melihat secara dekat menerjemahkan ke dalam bahasa Swahili dari sūrah al-Fātiḥah dan memberikan gambaran umum tentang naskah itu pengobatan surah al-baqarah
Dari pemaparan diatas menggambarkan bahwa kajian penelitian terkait tafsir lokal (tafsir non-arab) sangat diapresiasi dan didukung dalam pengakajiannya. Hal ini tentunya tidak hanya mendapat dukungan dari nasional, tetapi internasional. Dengan demikian, sumber kekayaan Islam terutama tafsir al-Qur’an yang diproduksi di luar dunia berbahasa Arab semakin banyak. Tentunya Artikel-artikel diatas juga memberikan gambaran tentang minat yang berkembang pesat dalam bidang studi al-Qur’an khususnya di Asia Tenggara dan Afrika.
Penyunting: Bukhari




























Leave a Reply