Harapan baru telah digelar. Tahun baru ditatap dengan mantap. Langkah telah mulai diayunkan dan ‘azam mulai kuat menyelimuti diri. Perintah Allah (3: 159) demikian jelas, maka apabila kamu bertekad, berserahlah kepada zat yang Maha Penolong dan Maha Pemberi Rezeki. Segala tekad yang telah kokoh harus menemukan muaranya, yakni Allah sebagai penentu segala. Menyerahkan dan memasrahkan segalanya kepada-Nya adalah pengakuan tulus akan status kita sebagai hamba.
Menyerahkan segala harapan kepada Allah bukan lambang kelemahan. Sebaliknya ia merupakan simbol kekuatan yang tiada terbatas. Banyak orang merasa dirinya bisa mengusahakan segala, tapi sesungguhnya ia telah tertipu oleh keangkuhan diri. Apa yang mereka peroleh sesungguhnya berkat rahmat dan kemurahan hati Allah. Para bijak bestari mengatakan, jika kamu ingin meraih sesuatu yang lebih besar, maka mintalah pertolongan kepada zat yang Maha Besar. Seumpama anak kecil, kita hanya meraih yang sesuai dengan kapasitas genggaman kita. Maka kita perlu meminta pertolongan kepada orang besar untuk meraih hasil yang lebih besar. Demikian perumpaan tentang hamba yang memohon pertolongan pada Allah.[1]
Kita sering ragu, apakah kita punya cukup kemampuan untuk menyosong masa depan yang cerah dan gemilang? Merasa kecil dan meremehkan mimpi sering kali menghantui hamba-hamba Allah yang sedang berjuang. Apa yang membuat mereka bersikap demikian? Bukankah sikap yang demikian amat sangat dibenci oleh Allah? Bukankah dengan demikian mereka meragukan kekuatan Allah yang tersebar di langit dan bumi? Jika menguasai dan menundukkan langit dan bumi saja Allah mampu, maka bagaimana dengan masalah manusia yang super kecil bagi-Nya? Di sinilah ilmu diperlukan sebagai basis berjuang menjemput masa depan. Mereka yang berjalan tanpa ilmu tidak lebih seperti orang yang berjalan di tengah kegelapan. Ia tidak akan mampu melihat apa-apa.
Manusia boleh saja berjuang mendapatkan hidup yang layak, aman dan nyaman. Namun jangan sampai di tengah proses itu ia melupakan dan kehilangan sesuatu yang lebih besar, Allah. Segetir apapun perjuangan dan sepahit apapun kenyataan, manusia tidak boleh meragukan diri. Meragukan diri sama saja dengan meragukan zat yang menciptakannya. Manusia adalah ciptaan Allah yang mulia dan merupakan sebaik-baiknya mahluk. Ia tidak hanya mulia karena diberikan akal, tapi juga karena Allah menitipkan padanya ruh yang senantiasa menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Iman sebagai Basis Berjuang
Pengetahuan kita tentang sesuatu harus benar dan utuh. Tanpanya kita akan berjalan layaknya mayat yang hidup. Kita berjalan tanpa arah dan hampa makna. Kebermaknaan atas hidup adalah aspek yang paling membedakan manusia dengan mahluk-mahluk Allah yang lain. Hidup orang beriman harus senatiasa diisi kerja-kerja besar. Mandat Allah yang demikian tersebar dalam berbagai firman-Nya. Tujuan penciptaan-Nya adalah beribadah dan tugasnya di bumi ialah tampil sebagai khalifah-Nya. Beribadah yang dimaksud Tuhan aspeknya tentulah sangat luas cakupannya. Tidak terbatas pada ibadah mahdah dan personal, tapi juga ibadah gairu mahdah dan bernuansa sosial. Visi dan misi umat beriman selalu lekat dengan keduanya. Ajaran Islam, baik yang tertera dalam Al-Qur’an dan sunnah, senantiasa mensinergikan antara ibadah personal dan sosial. Corak seperti inilah yang membuatnya selalu kokoh di hadapan gelombang zaman yang semakin hari semakin berubah.
Orang yang beriman sejatinya tidak akan pernah gentar dengan segala rintangan dan tantangan yang ada di depan. Syahadat yang diucapkan ketika masuk ke dalam Islam, dibaca setiap azan dan salat harusnya menjadi komitmen nyata akan kepercayaan kita pada pertolongan Allah. Persaksian yang kita ucapkan dalam syahadat, jika direnungkan dengan dalam-dalam, akan menghantarkan kita pada keyakinan bahwa tak ada kekuasaan yang lebih tinggi di dunia selain kekuasaan Allah.[2] Ketika kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka masalah-masalah yang dihadapi harus dipandang kecil. Kapan kita menganggap masalah-masalah itu besar sehingga merisaukan dan meremehkan diri, maka sejatinya kita telah menuhankan masalah dan menganggap remeh kuasa Allah. Keyakinan semacam ini amat sangat perlu ditanamkan pada diri kaum beriman agar langkahnya semakin mantap dalam menyosong masa depan. Sebab ia punya tempat bergantung yang adikuasa, yakni Allah.
Pada firman-Nya (1:5) diajarkan agar kita tidak berjuang sendiri menghadapi hidup yang penuh tantangan ini. Mereka yang berjuang sendiri adalah manusia yang tidak bertuhan. Dalam firman-Nya tersebut dilukiskan dengan jelas, bahwa untuk mendapat jalan yang lurus dan kesuksesan dalam hidup, manusia tidak boleh sama sekali melupakan Allah. Manusia harus senantiasa melibatkan Allah dalam setiap proses juangnya. Pertolongan Allah akan senantiasa menyelimutinya selama ia menyembah dan beribadah kepada-Nya. Wujud ibadah dalam juang adalah memulai segala kegiatan dengan menyebut nama Allah dan menanamkan dalam diri bahwa apa yang akan ia peroleh adalah hasil pemberian dan karunia Tuhan. Jadi pekerjaan ibadah dan memohon pertolongan tidak semata aktivitas fisik dan hanya melafalkan zikir. Melampaui itu semua, ia adalah kerja hati.[3]
Momentum Meluaskan Khidmat
Setelah mengokohkan keyakinan dalam diri, kita harus mengerahkan energi kita untuk kerja-kerja yang lebih besar dan berdampak. Adagium yang menyebut manusia yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang banyak harus mewujud dalam visi dan misi kita. Islam tak pernah berharap umat beriman hanya asyik-masyuk dalam urusan ibadahnya. Lebih dari itu, ia ingin umat beriman terlibat dalam kerja-kerja peradaban. Teladan yang ditunjukkan Nabi saat mi’raj adalah bukti ajaran Islam sangat revolusioner. Saat naik ke langit dan ‘bertemu’ dengan Allah, ia tidak menetap di sana karena merasakan kebahagiaan di sisi Tuhan. Setelah mendapatkan perintah ia kembali turun ke bumi, menyampaikannya dan bersiap menggerakkan perubahan.[4]
Sejarah telah menunjukkan bagaimana umat beriman dengan ilmu yang dimilikinya telah berkontribusi besar bagi pembangunan dan pencerahan semesta. Di Indonesia kita punya organisasi besar seperti Muhammadiyah dan NU yang telah berjasa dan berkhidmat mengurus bangsa. Dengan masing-masing lokus perjuangan, mereka tak pernah berhenti memikirkan langkah-langkah dan program-program strategis yang perlu digelar. Muhammadiyah dengan pendidikan dan amal sosialnya dan NU dengan segala ikhtiarnya merawat masyarakat akar rumput dan institusi keagamaan. Karena itu jika berbicara tentang menyongsong masa depan, maka pertama-pertama yang perlu kita tata adalah suasana batin. Lalu mengisinya dengan ilmu agar semakin kokoh dan mewujudkannya dalam kerja-kerja yang melampaui kepentingan personal. Sebab masa depan yang kita bayangkan adalah masa depan yang lebih berdampak dan berkontribusi pada masyarakat luas.
[1] M. Quraish Shihab. Kaidah Tafsir. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2013, h. 23
[2] Muhammad Al-Ghazali. Segarkan Imanmu: Petunjuk Meraih Kemuliaan Moral dan Kebahagiaan Spirtual. Jakarta: Zaman, 2015, h. 57
[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 1998, h. 31
[4] Kuntowijoyo. Identitas Politik Umat Islam. Yogyakarta: IRCiSoD, 20218, h. 19


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.