Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tantangan Membangun Generasi Tangguh

Generasi Tangguh
Gambar: ChatGPT

Generasi muda hari ini tengah berada dalam situasi yang kompleks. Di pundaknya ditabur banyak harapan tentang nasib bangsa ke depan. Namun situasi keindonesiaan hari ini menyodorkan banyak masalah. Krisis keteladanan, praktik culas para pejabat, akses yang sulit terhadap kerja dan bumi yang mulai yang tak ramah adalah panorama sehari-hari yang biasa kita saksikan. Kesemua masalah itu membentuk psikologis generasi muda yang rapuh dan mudah goyah. Di satu sisi mereka diminta membangun negeri, namun di sisi lain mereka diwariskan berbagai problem mencekik yang jika tidak segera diurai, akan menjadi bom waktu yang menyengsarakan. 

Melihat masalah-masalah yang ada, maka satu pertanyaan wajib diajukan, usaha apa yang telah kita lakukan dalam melahirkan dan membentuk generasi tangguh dan siap berkontribusi membangun bangsa? Apakah generasi emas 2045 yang digaungkan telah menjelma slogan kosong yang nihil aksi? Situasi yang ada tidak menggambarkan usaha ke arah sana. Daripada mempersiapkan generasi, para pemimpin hari ini lebih memilih memainkan akrobat-akrobat politik yang meresahkan dan menjenuhkan. Bayangkan saja, belum apa-apa mereka telah berbicara tentang peta koalisi ke depan yang masih sangat jauh. Padahal generasi muda hari ini telah menunggu perhatian dan dukungan nyata dari mereka. Sebab, masa depan yang akan kita lahirkan adalah masa depan yang sangat membutuhkan andil generasi muda. 

Dilema Generasi Muda

Dalam banyak panggung, anak muda telah menjadi bahan diskusi dan perbincangan yang serius. Bonus demografi yang menjelaskan dunia ke depan akan diisi oleh generasi muda hari ini menyita banyak perhatian. Akhirnya berbagai program digelar untuk mengedukasi generasi muda agar siap menghadapi dunia kerja. Ada pelatihan kepemimpinan, UMKM, dan seminar-seminar tentang pentingnya kecakapan digital. Secara artifisial, program-program ini sangat menarik dan perlu diapresiasi. Akan tetapi yang diperlukan oleh generasi muda hari ini tidak sebatas itu. Mereka perlu kondisi lapangan yang mendulang. Apalah arti semua program itu jika akses terhadap lapangan kerja masih sulit. 

Baca Juga  Mencetak Generasi Tangguh: Telaah Surah An-Nisa Ayat 9

Penelitian terbaru merilis bahwa generasi muda hari ini cenderung takut menikah. Bukan tanpa alasan. Salah satu kekhawatiran mereka ketika menikah adalah tidak bisa memiliki rumah.[1] Darimana ketakutan ini muncul? Apakah ini murni kesalahan dan kelemahan mereka? Terlalu sederhana jika menyimpulkan demikian. Sebab dunia yang mereka hadapi, secara politik-ekonomi, sangat kompleks. Dunia yang rasa-rasanya sulit membuat mereka berani bermimpi. Mereka sempat menaruh harap pada pemerintah yang akan menggelar penyediaan rumah subsidi. Namun ternyata harapan tinggal harapan. Sebab hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa program itu akan berjalan maksimal.[2]     

Harus diakui memang ada masalah inheren yang melekat pada generasi hari ini. Paling mencolok ialah soal moralitas yang kian luntur. Kita telah hampir kehilangan kata-kata untuk menggambarkan fenomena yang satu ini. Pergaulan bebas, perundungan dan kekerasan seolah menjadi pemandangan biasa. Apa yang salah dengan pendidikan kita hari ini sehingga tidak mampu membendung perilaku semacam itu? Padahal seruan moral telah digaungkan di sekolah ataupun di mimbar-mimbar agama. Di sinilah pengaruh teknologi dan perkembangan digital tak terelakkan. Tanpa kontrol yang baik, pengaruh ini akan menumbuhkan sikap yang ganas dan serba liar bagi generasi muda.        

Komitmen Islam Membangun Generasi Tangguh

Islam sejatinya sangat berkomitmen pada pembentukan generasi yang tangguh. Komitmen ini bahkan sangat jelas dan terang. Perangkat-perangkat ajaran yang dikandungnya menegaskan bahwa masa depan suatu bangsa hanya akan cerah jika kita memperhatikan nasib generasi muda. Pada QS. An-Nisa ayat 9 misalnya, Tuhan mengingatkan manusia untuk mawas diri agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Perintah itu mawas diri itu bahkan disertai dengan perintah bertakwa dan berkata yang benar. Dalam pemahaman terbalik (mafhūm mukhālafah), ayat ini mengisyaratkan pentingnya mempersiapkan generasi tangguh. Anjuran bertakwa dan berkata benar adalah pondasinya. Tanpa ketakwaan dan tradisi berkata benar, maka mempersiapkan generasi tangguh hanyalah isapan jempol. Penegasan ini diperkuat oleh QS. Tahrim ayat 6 yang memerintahkan untuk senantiasa menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka. Termasuk di antara keluarga itu adalah generasi muda yang kelak melanjutkan estafet perjuangan. 

Baca Juga  Membaca Surat Ali Imran Ayat 92 Pendekatan Filsafat Bahasa Moore

Saat menafsirkan an-Nisa ayat 9, Muqatil bin Sulaiman[3] menekankan pentingnya menjauhkan kesengsaraan dan kemiskinan dari generasi yang akan ditinggal. Atas alasan inilah Allah dengan jelas melarang kita berwasiat lebih dari sepertiga harta yang dimiliki dan tidak memikirkan nasib yang ditinggalkan. Memikirkan nasib generasi yang ditinggal adalah prioritas utama. Kita mesti memastikan mereka tidak jatuh dalam kemiskinan atau terlantar. Hari ini tentu ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk dapat menyelamatkan generasi dari kemiskinan. Cara yang paling utama ialah melalui pendidikan. Berikan ia pendidikan yang layak dan memadai. Dengan pendidikan yang diberikan harapannya sebuah generasi akan tumbuh menjadi pribadi yang matang dan siap mengarungi hidup. Cara yang lain ialah membekalinya harta. Tentu cara ini adalah cara yang paling terakhir.  

***

Membekali harta dengan tujuan mencegah agar tidak jatuh dalam kemiskinan adalah hal yang sah-sah saja. Tapi hakikatnya yang paling penting ialah membekali mereka kemampuan mencari dan mengelola uang. Dalam hal ini kita tentu dapat belajar dari cara orang China melakukan kaderisasi atas anak-anaknya agar tumbuh menjadi pengusaha ulung dan handal. Mereka tidak hanya mewariskan usaha, tapi juga menyekolahkan mereka agar memiliki ilmu yang memadai tentang bisnis dan wirausaha. Kaderisasi seperti inilah yang perlu diteladani. Dengan melakukan tindakan demikian para generasi yang akan ditinggal terselamatkan dari kehinaan dan siap melanjutkan estafet perjuangan. Sebab, meminjam Ali bin Abi Thalib, kemiskinan itu sangat berbahaya. Dan bahayanya yang paling nyata adalah membawa seorang muslim pada kekufuran.   


[1] https://griya.id/2025/09/12/banyak-anak-muda-takut-menikah-karena-kesulitan-punya-rumah. Diakses 23 Desember 2025 pukul 15.43

[2] https://www.kompas.id/artikel/kesenjangan-yang-membayangi-3-juta-rumah. Diakses 23 Desember 2025 pukul 15.45

Baca Juga  Apakah Rasulullah Menafsirkan Seluruh Ayat Al-Quran? Berikut Penjelasannya!

[3] Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut: Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, 2002, h. 359-360