Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menghindari Bahaya Nifaq dengan Berkata “Aku Mukmin Insya Allah”

Nifaq
Gambar: https://bit.ly/3j8hooH

Nifaq telah dikenal dalam bangsa Arab, namun sebagai sebuah istilah Islam dengan makna khusus tidak dikenal oleh bangsa Arab. Karena istilah nifaq muncul setelah Islam hadir dengan kekuatannya yang besar yang mengancam kekufuran dan kemusyrikan di sekitarnya. Kata nifaq dalam bahasa Arab berasal dari kata nafaqa-yunafiqu-nifaqan.

Kata ini diambil dari kata nafiqa yang berarti salah satu lubang tikus. Jika dicari melalui satu lubang, maka tikus itu akan keluar melalui lubang yang lain. Begitu juga perumpamaan bagi orang yang berbuat nifaq

Nifaq adalah suatu sifat yang berbeda antara lahir dan batin atau dengan kata lain berbeda antara perkataan dan perbuatan. Pelakunya biasa disebut dengan munafik. Perilaku ini sangat dihindari dalam agama Islam, karena bisa menyebabkan murkanya Allah.

Telah disebutkan pada sebagian kitab kaum salaf tentang tidak disukainya seseorang mengucapkan “aku mukmin yang sebenarnya,”. Namun dianjurkan untuk mengatakan “aku mukmin insya Allah”. Demikian pula yang biasa diucapkan oleh kaum salaf tersebut. Berkata Imam Bukhari pada Kitab Iman di dalam kitab shahihnya, “Bab ketakutan seorang mukmin jika amalannya digugurkan sedangkan ia tidak menyadarinya.”

Dan berkata Ibrahim At-Taimi, “Tidaklah aku membandingkan perkataanku dengan amalanku. Melainkan aku sangat khawatir telah tergolong pendusta”. Dan berkata Ibnu Abu Mulaikah, “Aku mendapati tiga puluh sahabat Rasulullah, semuanya mengkhawatirkan nifaq atas diri-diri mereka. Tidak seorangpun diantara mereka yang mengatakan bahwa imannya sama dengan iman Jibril dan Mikail. Dan diriwayatkan dari Hasan Al Bashri, “Tidak ada yang takut kepada nifaq itu melainkan seorang mukmin. Dan tidak ada yang merasa aman darinya melainkan seorang munafik.”

Baca Juga  Pendidikan Masyarakat Berbasis Masjid: Mungkinkah?

Kekhawatiran Ulama Salaf Terhadap Nifaq

Disebutkan di dalam kitab Fathul Baari bahwasanya perkataan Hasan Al Bashri itu adalah sahih ditinjau dari sejumlah jalur periwayatan. Sedangkan dalam jalur periwayatan Al Mu’alli bin Ziyad dikatakan, “Aku mendengar Hasan Al Bashri bersumpah di dalam masjid ini. Yakni dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Tidak ada seorang mukmin pun, baik yang telah mati maupun yang masih hidup, melainkan terdapat dalam dirinya rasa khawatir terhadap nifaq. Dan tidak ada seorang munafik pun, baik yang telah mati maupun yang masih hidup melainkan merasa aman terhadap kenifakan dan pernah beliau berkata, “Barang siapa yang tidak takut terhadap nifaq maka ia adalah munafik.”

Dan di dalam jalur periwayatan Hisyam dikatakan, “Aku mendengar Hasan Al Bashri berkata, “Demi Allah, tidak ada seorang mukmin pun baik yang telah mati maupun yang masih hidup, melainkan ia merasa khawatir terhadap nifaq, dan tidak ada yang merasa aman darinya melainkan ia adalah seorang munafik.”

Lalu imam Bukhari memulai pembahasan bab yang dimaksud diatas dengan mengutip firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kamu, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al Hujuraat: 1-2)

Padahal seorang mukmin tidak akan terhapus pahala amalannya, sebagaimana firman Allah, “Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan hak- haknya.” (Qs. Thaaha: 112)

Baca Juga  Menafsir Ulang Kisah Kaum Nabi Luth Bersama Musdah Mulia

Cara Menghindari Perilaku Munafik

Dan firman-Nya, “Dan (ada pula) orang-or ang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs At-Taubah: 102)

Adapun amalan yang terhapus itu hanyalah amalan kaum kafir. Allah berfirman, “Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum islam) maka hapuslah amalannya dan ia dihari akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (Qs Al Maa-idah 5)

Dan Allah telah berfirman, “Orang-orang arab Badwi itu berkata, “Kami telah beriman” Katakanlah (kepada mereka). “Kamu belum beriman “Tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk “Karena iman itu belum masuk ke dalam hati kamu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul- Nya. Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalan kamu Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs Al Hujuraat 14)

Jika demikian keadaan orang-orang seperti itu, maka bagaimanakah lagi keadaan orang-orang yang telah beriman dan keimanan itu telah meresap di dalam hatinya?.

Adapun firman Allah, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia udak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat. Kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ” (Qs, Huud: 15).

Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan mengatakan “Aku mukmin yang sebenarnya”. Namun dianjurkan untuk mengatakan, “Aku mukmin insya Allah” agar terhindar dari bahaya nifaq.

Penyunting: Bukhari

Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hingga saat ini, domisili penulis di Yogyakarta yaitu di Ponpes Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Sedangkan, asal penulis yakni dari Madiun, Jawa Timur.