Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memperingati Kemerdekaan Melalui Surat Al-Baqarah Ayat 258

Sumber: https://barkogroup.or.id/

“Kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita rasakan hingga saat ini merupakan limpahan anugerah dan nikmat yang dititipkan Allah Swt dan wajib disyukuri. Di dalam Al-Qur’an pun banyak ayat dan berbagai kisah yang mengajarkan bagaimana kita mensyukuri sebuah kemerdekaan”.

Tidak terasa, sudah bertahun-tahun kita semakin beranjak menjauh dari masa penindasan yang dilakukan oleh para penjajah. Jutaan nyawa, literan keringat hingga darah yang dipertaruhkan pahlawan-pahlawan bangsa kita. Itu semua demi merebut suatu kemerdekaan dari tangan penjajah.

Atas izin Allah, kita tetap merasakan hirupan udara tanpa tercampur nafas penjajah. Kemerdekaan yang bertepatan pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945 merupakan anugerah besar. Maka dari pada itu sudah semestinya kita untuk mengisi kemerdekaan ini bukan hanya sekedar memperingatinya melainkan mensyukurinya.

Di dalam Al-Qur’an, ada berbagai kisah yang menceritakan bagaimana para nabi dan rasul berjuang keras untuk mendapatkan kemerdekaan. Misal, pada kisah nabi Ibrahim. Kisah tatkala perlawanan nabi Ibrahim yang menghancurkan berbagai bentuk berhala. Bahkan pernah dibakar oleh raja yang zalim lagi angkuh, yakni raja Namrud.

Kisah Nabi Ibrahim di Surat Baqarah Ayat 258

Kekuasaan, jabatan dan kekayaan yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada Namrud tidak menjadikannya sebagai hamba yang bersyukur. Bahkan menjadikannya sebagai orang yang sombong dan kufur. Hingga dalam sejarahnya, ia dikenal sebagai raja yang semena-mena. Di antaranya adalah menguasai sumber makanan ataupun minuman. Kemudian, di sisi lain memperkejakan rakyatnya dengan sistem paksa dan perbudakan.

Lebih parahnya lagi, Namrud menjanjikan akan memberikan upah kepada orang yang miskin dengan roti ataupun gandum. Namun dengan satu syarat, yakni mengakui dan menyembah dirinya sebagai tuhan. Setiap kali menghadap kepada Namrud untuk meminta makanan maka petugas kerajaannya menanyakan terlebih dahulu. “siapakah tuhanmu? apabila mereka menjawab bahwa tuhan mereka Namrud, maka ia boleh mendapati upah tersebut.

Baca Juga  Karakteristik Mutawalli Al-Sha’rāwī dalam Menafsirkan Al-Quran

Namun, berbeda dengan yang dilakukan nabi Ibrahim. Tatkala ia mendatangi Namrud, petugas menanyakan hal yang sama namun Nabi Ibrahim menjawab dengan “Tuhanku adalah Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan”. Mendengar hal tersebut naik pitamlah Namrud dan menantang nabi Ibrahim untuk berdialog. Kejadian tersebut diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 258 yang artinya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,”

“orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Tafsir Tentang Q.S Al-Baqarah ayat 258 

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir. Menjelaskan bahwa karena Namrud itu angkuh dan sombong. Maka ia pun mendebat Nabi Ibrahim kemudian didatangkan kepada Namrud dua orang. Satu di antaranya dia bunuh dan satunya lagi ia biarkan hidup. Seolah-olah ia bisa menentukan mati dan hidupnya manusia, Namun pemikiran Namrud sangat keliru karena yang dimaksudkan nabi Ibrahim yaitu Allah menciptakan kehidupan manusia dan kematian pada jasad seseorang.

Kemudian dari Tafsir al-Wajiz karya Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, kalimat dari ayat yang berbunyi “Sesungguhnya Allah menerbitkan mataharu dari arah timur dan membenamkannya di arah barat”. Itu merupakan hujjah yang tidak salah, lalu orang kafir itu heran dan terkejut. Dan Allah tidak menolong orang-orang kafir menuju jalan hidayah karena mereka sendiri yang menjauh dari jalan tersebut.

Tidak sampai disana saja, Nabi Ibrahim juga menentang Namrud dengan menghancurkan berbagai berhala. Hingga tidak sedikit orang yang mengikuti nabi Ibrahim dan banyak pula yang geram kepada Nabi ibrahim. Hingga Namrud pernah memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan kayu bakar yang begitu banyak untuk membakar nabi Ibrahim.

Baca Juga  Melihat Kesusastraan Arab Masa Pra Islam

Pada saat itu nabi Ibrahim hanya berdoa “Hasbunallah wa ni’mal wakil.” (Cukuplah Allah sebagai penolong Kami dan Dia lah sebaik-baik pelindung). Kemudian datang pertolongan Allah dengan menjadikan api tersebut menjadi sejuk. Kejadian tersebut di abadikan dalam Q.S al-Anbiya ayat 69 “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”

Hikmah Kemerdekaan dari Kisah Nabi Ibrahim

Dari kisah tersebut, kita mendapati pelajaran bahwa makna kemerdekaan ketika ia membebaskan dirinya dari orientasi asasi yang sangat keliru dalam kehidupan manusia. Ia berusaha melawan Namrud demi kemerdekaan. Lalu ia menyembah Allah dan lepas dari peraturan bodoh yang dibuat oleh Namrud.

Dari tauladan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim diatas, ketika ia mengajak umatnya untuk meninggalkan berhala dan menyembah kepada Allah. Sehingga, hancurnya kekuasaan Namrud yang Dzalim. Jika kita tarik kepada konteks keindonesiaan saat itu dapat dikatakan, setelah kekejaman penjajah yang telah terusir dengan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Maka sudah sewajarnya kita mengingat bagaimana perjuangan baik yang dilakukan oleh para utusan Allah maupun para pejuang bangsa. Mereka dapat merebut kemerdekaan versi nya masing-masing. Semua bentuk yang kita rasakan hingga sekarang, baik itu berupa kedamaian, kenyamanan dalam memperoleh hak dan lain sebagainya. Kita sangat pantas nya untuk bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberikan berbagai bentuk kemerdekaan.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho