Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Membiasakan Bersyukur Adalah Bagian dari Ketaatan

Sumber: istockphoto.com

Semua makhluk yang hidup di muka bumi ini bagian rezekinya telah ditanggung penuh oleh Allah Swt. Termasuk kita, manusia. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik Allah Swt sama sekali tidak pernah absen menyuplai rezeki kepada kita. Rezeki tidak melulu soal uang juga berupa kemewahan makanan dan pakaian. Mendapatkan Rezeki tidak mutlak terwujud seperti memiliki alat transportasi dan alat komunikasi kekinian. Rezeki bisa saja berbentuk kesehatan, kecerdasan, keluarga harmonis, hingga akhlak yang mulia.

Lantas bagaimana sikap kita atas rezeki yang telah kita terima dan gunakan? Ya, tidak ada cara lain kecuali hanya bersyukur dan selalu membiasakan rasa terima kasih kepada Sang Pemberi rezeki, Allah Swt. Dengan bersyukur kita akan selalu berhati-hati, waspada, dan penuh perhitungan. Kita tidak akan berlebih-lebihan mencari dan menggunakan harta yang telah dianugerahkan. Kita akan mudah mengingat sesama yang membutuhkan uluran tangan dan belas asih kita. Puncaknya, dengan bersyukur kita dapat membangun relasi ketaatan kepada Allah Swt.

Bersyukur dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an telah banyak membicarakan bersyukur sebagai media untuk menumbuhkan kualitas ketaatan kita. Di antaranya adalah Allah Swt berfirman dalam Q.S. Saba’/34: 15:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda di tempat kediaman mereka yaitu dua kebun di kanan dan di kiri. “Makanlah dari rezeki Tuhan kamu dan bersyukurlah kepada-Nya.”

Konteks awal ayat tersebut meski secara spesifik berkisah tentang kaum Saba’, namun pesan moral yang terkandung di dalamnya berlaku umum. Yakni bagi siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Dengan demikian, melalui bagian ayat itu Allah Swt memerintahkan kepada kita yang telah menerima rezeki agar membiasakan diri untuk bersyukur kepada-Nya.

Baca Juga  HAMKA dan Terciptanya Keauntetikan Insan Kamil

Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar mengungkapkan bahwa bersyukur hanya dengan lisan sama sekali tidak ada artinya jika tidak dibuktikan dengan perbuatan. Oleh karena itu, bagian ayat ini sesungguhnya memberikan instruksi bagi seluruh orang yang beriman bahwa beramal saleh adalah hakikat kesyukuran sejati. Buya Hamka lantas mencontohkan, semisal kita mendapat rezeki, maka hendaknya mensyukuri dengan membelanjakannya untuk perbuatan yang halal. Jika Allah memberi kita karunia ilmu pengetahuan, maka hendaklah syukuri dengan mengajarkannya kepada orang lain, agar dapat diambil kemanfaatannya. Jika karuniai harta berupa tanah, maka tanamilah dengan baik lalu keluarkan zakatnya (Al-Azhar, jilid 8, halaman 5832 dan 5838).

Membiasakan Bersyukur

Nah, jika kita benar-benar mampu membiasakan diri untuk bersyukur, maka Allah Swt telah bersumpah akan memberikan reward berupa pundi-pundi karunia kepada kita. Jika membangkang, Allah Swt tak segan-segan mengintimidasi kita dengan azab-Nya yang sangat pedih. Hal ini terekam jelas dalam Q.S. Ibrāhīm/14: 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan tatkala Tuhan kamu memaklumatkan: Sesungguhnya demi, jika kamu bersyukur pasti Aku tambah kepada kamu dan jika kamu kufur sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.”

Kesungguhan janji Allah Swt akan menambahkan nikmat dan anugerah-Nya kepada hamba-Nya yang bersyukur, dalam kenyataannya sangat sedikit sekali yang tergiur dengan surprise yang bersifat pasti itu. Begitu pula, ancaman siksa yang amat dahsyat bagi hamba-Nya yang kufur nikmat, juga tak selalu diindahkan. Atas dasar fenomena itulah, Allah Swt menyatakan dalam Q.S. Saba’/34: 13 bahwa sedikit sekali hamba-Nya yang bersyukur. Semoga kita masuk dalam kategori minoritas dengan senantiasa berikhtiar untuk bersyukur atas segala nikmat kehidupan yang telah diberikan. Amin.

Redaksi kulū min rizqi Rabbikum dalam Q.S. Saba’/34: 15, memberikan penjelasan bahwa kita telah dipersilahkan oleh Allah Swt untuk menikmati dan mengkonsumsi rezeki-Nya. Selepas memanfaatkan rezeki itu, lantas kita diperintah untuk bersyukur kepada-Nya. Firman-Nya berbunyi: wa usykurū lah. Ya, hanya bersyukur kepada-Nya. Melaksanakan perintah bersyukur dan kemudian membiasakan atau melanggengkannya merupakan manifestasi dari wujud ketaatan kita kepada Allah Swt. Wa Allāhu A’lam bi al-ṣawāb.

Editor: An-Najmi

Baca Juga  Menjalankan Sahur: Bentuk Ketaatan di Bulan Ramadan