Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Membaca Surat Ali Imran Ayat 92 Pendekatan Filsafat Bahasa Moore

Sumber: https://artuk.org/

Al-Qur’an diturunkan berangur-angsur kepada Nabi Muhammad untuk memproduksi nilai-nilai kemanusiaan yang bermoral dan berintelektual. Bahasa yang disampaikan Tuhan di dalamnya memuat banyak misteri-misteri yang tidak hanya bisa dipahami secara literatur. Akan tetapi sangat dibutuhkan telaah yang mendalam mengenai wahyu yang turun dengan menggunakan beberapa pendekatan. Terdapat pendekatan sejarah, bahasa, dan lainnya. Tentu saja tidak ada salahnya jika penulis menggunakan pendekatan filsafat bahasa Moore.

Filsafat Bahasa Moore

George Edward Moore, merupakan satu dari para penggagas dalam munculnya filsafat analitik. Pemikiranya hadir sebagai reaksi atas pemikiran kaum Hegelian yang berpaham idealisme. Aliran Idealismenya menghendaki adanya pandangan filsafat terhadap semua materi yang ada.

Sedangkan Moore menolak dengan beranggapan bahwa semua hal tidak perlu disikapi secara filosofis, melainkan cukup dengan penalaran akal sehat. Moore menawarkan pemakaian bahasa sehari-hari dalam kancah dunia perfilsafatan atau lebih dikenal dengan istilah Ordinary Language. Ini bertujuan agar masyarakat mampu menuai filosofi suatu materi tanpa terkendala dengan bahasa yang rumit dan berbelit-belit.

Pemikiran Moore menghendaki adanya suatu proposisi-proposisi elementer dari sebuah kalimat atau uraian. Metode analisis menjadi acuan bagi Moore dalam memecahkan suatu definisi atau hal lain yang masih bersifat ambigu. Sedangkan pada analisisnya, Moore akan selalu mengaitkan hal itu dengan akal sehat atau Common Sense.

Penerapan Filsafat Bahasa Moore

Untuk memahami kata yang hendak dijadikan proposisi, maka kata itu harus dimasukkan dalam struktur kalimat. Contohnya, untuk mengetahui makna “indah”, maka kata “indah” tersebut harus dimasukkan dalam tata kalimat yang utuh seperti, “Lautan di tepi kota itu gelombangnya sangat indah. “Indah” di sini berarti suatu gejala alam yang ada. Dalam kalimat lain, Indah adalah putri semata wayang raja Desa Sugiri. Sedangkan “indah” yang di masukkan di sini adalah manusia.

Baca Juga  Menyoal Permendikbudristek 30: Pembacaan Dekonstruksi Jacques Derrida

Kemudian, dari sini terdapat salah satu ayat yang relevan dengan contoh yang di atas untuk dikaji lebih dalam, yakni QS. Ali Imron ayat 92, yang berbunyi:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِه عَلِيْمٌ 

Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

Menelaah Penafsiran Filsafat Bahasa

Pada ayat di atas, tercantum beberapa kata kunci untuk memahami kalimat secara utuh. Maka, pemecahan atau proposisi elementer menjadi metode yang tepat dalam proses pemahaman hal tersebut. Kata لَنْ تَنَالُوا  berarti “kalian tidak akan mendapat”, yang mungkin sudah bisa dimengerti artinya secara literatur bahasa. Akan tetapi, dalam proses pencapaian hakikat makna atau makna, maka arti secara bahasa belum mampu menjelaskanya. Dalam kaidah Bahasa Arab, لَنْ تَنَالُوا berbentuk fi’il mudhori’ yang menujukkan suatu perbuatan yang dilakukan pada masa sekarang atau akan datang. 

Terjemahan ayat di atas adalah “Kalian tidak akan pernah mendapatkan”. Pada narasi tersebut, Allah menyampaikan kemustahilan manusia untuk mampu menggapai atau mendapatkan sesuatu. Narasi di atas masih menimbulkan kerancuan-kerancuan yang masih bisa dipertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

Lalu, pada kata selanjutnya Allah melanjutkan firman-Nya dengan lafadz الْبِرَّ yang berarti “kebaikan”. Tidak cukup di sana, maka dengan pemikiran Moore akan digali lebih dalam dengan pertanyaan seperti ini, “Apakah kebaikan itu?”

Sedangkan menurut Moore, arti dari suatu kata akan bisa dipahami apabila kata tersebut dimasukkan ke dalam barisan sebuah kalimat. Contoh, Saya telah beramal, maka saya akan mendapatkan kebaikan dari Tuhan.

Baca Juga  Makna Kata Nadhara: Telaah Makna Surat Ash-Shaffat ayat 88

Balasan Amal Perbuatan

Dari pemahaman ini dapat dipahami bahwa kebaikan adalah suatu balasan atas amalan yang telah dilakukan oleh seseorang. Tidak berhenti sampai sana, untuk menemukan makna dari الْبِرَّ  dari suatu barisan kalimat seperti di atas maka pertanyaan selanjutnya adalah, “kebaikan yang seperti apa yang didapat? Konkret atau asbtrak?

Selanjutnya, Allah menuangkan lafadz تُنْفِقُوا حَتَّىٰ yang berarti “sampai kalian menginfakkan. Di sini terdapat kata menginfakkan yang diambil dari kata dasar infaq, yaitu suatu konsepsi ajaran Islam yang mendorong muslim untuk mengasihi sesama (compassion) dan mewujudkan keadilan sosial.

Terakhir termaktub lafadz lain yaitu مِمَّا تُحِبُّونَ yang berarti “dari apa-apa yang kalian sukai”. Maka arti cinta yang dimaksud di sini adalah siapa yang menginfakkan apa yang dicintai maka ia akan mendapatkan kebaikan. Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa syarat mutlaq seseorang mampu mendapatkan kebaikan adalah rela memberikan kepada orang lain hal-hal yang dicintainya dengan ikhlas.