Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makna Kata Nadhara: Telaah Makna Surat Ash-Shaffat ayat 88

Ash-Shaffat ayat 88
Sumber: https://myislam.org

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Ayat-ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an ada yang bersifat muhkam dan ada yang bersifat mutasyabbih. Ayat muhkam adalah ayat yang sudah jelas maknanya, sedangkan ayat mutasyabbih adalah ayat masih membutuhkan penafsiran oleh para mufasir. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis berusaha mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat mutasyabih, yaitu dengan mengkaji sutu lafal.

Definisi Lafadz Nadhara

Dalam kamus lisanul ‘Arab lafadz nadhara  ini adalah bentuk fiil madhi dari kata Nadhar-yandhuru yang dapat dimaknai dengan arti melihat. Tetapi, dalam al-Qur’an maupun tafsir lafaz ini dimaknai dengan mengetahui, merenungkan, memikirkan, melihat, memendang, menentukan, memperhatikan, dan lain-lain. Dari beberapa makna yang telah dipaparkan maknalafaz nadhara yang sering digunakan adalah dengan makna melihat.

Maksud dari konteks melihat disini adalah kita sebagai umat muslim sebaiknya melihat ciptaan-ciptaan Allah SWT yang sangat indah. Kemudian dari melihat tersebut ciptaan-ciptaanya tersebut kita dapat merenungkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu itu dengan bentuk dan wujud yang sangat indah. Seperti halnya menciptakan matahari, bumi, bulan, manusia, hewan, tumbuhan, dan lain-lainnya. Dengan demikian, lafaz Nadhara ini memiliki makna yang sangat luas.

Mengkaji Lafal Nadhara dalam QS. Ash-Shaffat 88

Di dalam al-Qur’an lafal Nadhara ini disebutkan sebanyak dua kali, yaitu terdapat dalam Q.S. Ash-Shaffat ayat 88 dan Q.S. al-Mudatsir ayat 21. Dalam 2 ayat ini lebih memaknai lafal nadhara dengan melihat sekaligus merenungkan. Tetapi, di sini yang menjadi fokus pembahasan kita adalah Q.S. Ash-Shaffat ayat 88, yang memiliki munasabah dengan ayat sebelumnya dan setelahnya. Ayat tersebut berbunyi:

Baca Juga  Telaah Rasionalitas Pohon Zaqqum dalam Al-Qur'an

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿ ٨٧﴾ فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ ﴿ ٨٨﴾ فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ ﴿ ٨٩﴾

Artinya: Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam? Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata, “Sesunguhnya aku sakit”.

Dari tiga ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika Nabi  Ibrahim melihat ke arah langit, beliau melihat bintang-bintang yang sangat indah. Dengan melihat betapa indahnya bintang tersebut, mereka beranggapan bahwa kemungkinan bintang-bintang tersebut bisa dijadikan sebagai Tuhan alam semesta. Tetapi, Nabi Ibrahim menolak hal tersebut, karena layaknya sebagai Tuhan itu tidak akan pernah padam atau hilang. Bintang-bintang tersebut sewaktu-waktu bisa hilang dan kemungkinan juga tidak bisa memancarkan sinarnya. Hal tersebut yang menjadikan bahwasanya bintang-bintang tidak disebut sebagai Tuhan alam semesta.

***

Dari peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim hendak menghilangkan memberantas bentuk kemusyrikan-kemusrikan yang terjadi. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Taysir, bahwasanya Nabi Ibrahim mengibaratkan mereka menyembah bintang-bintang sam dengan menyembah berhala yang menyebabkan orang musyrik. Nabi Ibrahim ketika hendak menghancurkan bentuk-bentuk kemusyrikan tersebut, beliau mengambil kesempatan dimana mereka tidak bersamanya. Kesempatan yang diambil oleh Nabi Ibrahim adalah ketika hari raya. Pada saat itu, umatnya keluar tetapi beliau tidak kut dan berkata bahwasannya dia sakit. Hal tersebut dilakukan oleh Nabi Ibrahim dengan alasan agar dia tidak ikut dan bisa menghancurkan berhala-berhala tersebut.

Dalam sebuah hadis mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Ibrahim pernah berdusta 3 kali, yaitu ketika beliau berkata bahwasannya sakit, kemudian ketika beliau berkata bahwa sesungguhnya itu dilakukan oleh patung yang lebih besar, dan ketika beliau berdusta bahwa istrinya tersebut adalah saudara perempuannya. Hal tersebut dialkukan oleh Nabi Ibrahim agar dapat menjauhkan dari kemusyrikan-kemusyikan. Pada intinya adalah apabila melihat suatu bentuk kemungkaran atau kemusyrikan, sebaiknya kita menghilangkannya.

Baca Juga  Kata Ilmu Dan Derivasinya Dalam Al-Qur’an

Analisis Kontekstual Q.S. Ash-Shaffat: 88 dalam Kehidupan Sehari-hari

Analisis kontekstual adalah bisa dilakukan dengan mnerangkan asbabun nuzul nya,  maupun menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman pribadi yang telah dialami. Dalam mengkaji lafal Nadhara ini penulis menganilisis dengan menerangkan asbabun nuzul nya.

Sebab turunya ayat ini adalah pada saat sebulum datangya Islam maupun sesudah datangnya Islam banyak umat muslim yang berusaha mencari segala sesuatu yang bisa disekutan dengan Allah swt. Mereka beranggapan bahwa Tuhan alam semesta yang ada ini tidak hanya satu, melainkan banyak sekali. Meskipun demikian, orang Islam terus berusaha memberantas peristiwa-peristiwa tersebut, salah satunya adalah Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai peringatan kepada mereka.

Kesimpulan

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lafal Nadhara memilki makna melihat. Tetapi juga bisa diartikan dengan memikirkan, mengetahui, merenungi, dan lain-lain. Seperti yang disebutkan dalam Q. S ash-Shaffat ayat 88 yang menjelaskan bahwa makna lafal Nadhara ini berarti melihat sekaligus merenungkan ciptaan-ciptaan Allah SWT.