Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Melirik Isyarat Pembelajaran Perspektif QS. Al-Baqarah: 31

Sumber: istockphoto.com

Pembelajaran merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, yang di dalamnya terdapat materi yang ditransfer. Interaksi memuat pula pola dan cara transfer pengetahuan. Dari interaksi ini, peserta didik menjadi tahu dan dapat menampilkan pengetahuannya melalui keterampilan tertentu. Dengan interaksi ini, seseorang dapat memperoleh ilmu dari orang yang menyampaikan ilmu.

Dalam al-Qur’an, kata ilmu banyak disebutkan. Kita dapat menemukan beragam bentuk seperti ‘ilm, ‘alim, ‘allama, ‘alimtum, ya’lamu>na, ta’lamu>na, juga ‘ulama>. Setiap kata ini memuat makna yang beragam pula sesuai dengan bentuk kata dan pola kalimat yang digunakan. Namun, berujung pada sebuah makna yang beredar yaitu pengetahuan atau ilmu.

Kata Ta’lim dalam al-Qur’an

Pembelajaran atau learning sepadan dengan kata ‘allama (dengan bentuk tad’if) berpola fa’ala atau taf’il.  Kata ini diterjemahkan  menjadi mengajarkan. Makna pada pola ini biasanya bersifat muta’addi, yang subjeknya ketika mengerjakan sesuatu membutuhkan maf’u>l (objek). Apa yang dilakukan oleh subjek diarahkan pada objek yang harus menerima perlakukan dari perbuatan subjek. Kata ‘allama ditemukan pada beberapa tempat dalam al-Qur’an, seperti pada QS al-Baqarah:31, QS al-Rahman: 2 dan 4, dan QS al-‘Alaq :4 dan 5.

Pada QS. al-Baqarah: 31 terdapat penggalan ayat وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا, “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya”.  Penggalan ayat ini bersifat aktif, Allah sebagai subjek mengajarkan Adam (objek) pada nama-nama secara keseluruhan (objek kedua). Ayat ini menjelaskan tentang Allah yang mengajarkan nama-nama secara keseluruhan pada Adam sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana ayat sebelumnya.

Adam adalah manusia pertama, yang sebelumnya belum ada manusia yang mendidiknya. Dalam hal ini Allah Swt yang langsung mendidik dan mengajarkannya. Sebab, Adam dipersiapkan untuk menjadi khalifah. Dalam Tafsir Kementerian Agama RI (2019) dijelaskan bahwa Allah Swt mengajarkan Adam tidak seperti manusia biasa. Allah Swt mengajarkan secara langsung dan memberikan potensi berupa kemampuan berfikir yang memungkinkan mengetahui semua nama yang ada di hadapannya.

Baca Juga  Hakikat Pendidikan Islam: Orang Tua sebagai Pendidik

***

Peristiwa ini meneguhkan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat dididik atau bahkan harus dididik. Untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia harus mengetahui atau memahami apa yang tampak di hadapannya yang didalamnya termasuk nama-nama sesuatu. Sesuatu yang dikenal pasti harus terlebih diketahui.

Jangkauan untuk mengetahui adalah melalui nama-nama. Sebab, segala sesuatu yang tampak dalam jangkauan pengalaman manusia pasti memiliki nama.

Penggalan ayat ini menegaskan bahwa dalam proses pembelajaran terdapat beberapa komponen penting yang saling terkait. Di dalamnya terdapat subjek mengajar (Allah Swt), subjek yang diberi pelajaran (Adam), konten yang diajarkan (al-asma’), juga proses saling berkaitan antara subjek yang mengajar dan yang diberi pelajaran. Yang terakhir ini, dapat dipahami dari proses yang ada pada makna muta’addi antara Allah Swt, ‘allama, dan Adam.

Komponen penting Pembelajaran

Apa saja komponen pembelajaran sesuai isyarat penggalan ayat di atas? Merujuk pada beberapa kata yang ada pada frase وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا, dapat diuraikan beberapa hal.

Pertama, komponen pendidik. Komponen ini terdapat pada damir yang ada pada kata ‘allama yang kembali pada rabbuka (QS. al-Baqarah:30) ditunjukkan pada Allah Swt. Pendidik mengajari subjek lain dengan memberikan semua pengetahuan. Apa yang diberikannya adalah pengetahuan agar subjek lain dapat menjalani kehidupan berdasarkan pengetahuan dan potensi yang dapat dikembangkan.

Kedua, komponen subjek yang dididik. Komponen ini diwakili oleh kata Adam sebagai objek. Dalam hal ini, objek dikenai sesuatu dari apa yang dilakukan oleh subjek. Adam diberi pengajaran oleh Allah Swt, meskipun berbeda caranya dengan manusia biasa.

Hubungan antara subjek pendidik dan yang dididik mengisyaratkan adanya interaksi tertentu, seperti halnya fa’il yang berinteraksi dengan maf’ul.  Dua komponen penting menyatu dan dapat dipandang dalam proses pengajaran apabila keduanya saling berinteraksi. Interaksi pada frase ini adalah Allah Swt sebagai pendidik dan Adam sebagai manusia yang dididik.

Baca Juga  Pola Asuh Anak yang Ideal Menurut Al-Qur'an

Ketiga, sesuatu yang diajarkan. Pada frase ini, al-asma’  bentuk jamak dari ism (nama), menjadi materi yang diajarkan oleh Allah Swt kepada Adam. Bahkan diberi penguatan dengan kata kullaha> yang menunjukkan keseluruhan nama. Seolah tidak ada suatu nama pun di hadapan Adam yang tidak diajarkan oleh Allah Swt.

***

Layaknya pembelajaran, interaksi pendidik dan yang dididik berisi tentang sesuatu yang diajarkan dengan beragam cara. Penyebutan al-asma’ bukan al-‘ilm berada dalam ruang makna bahwa pengetahuan dibangun oleh pengalaman empiris. Apa yang tampak dalam lingkup empiris menjadi idrak, dari idrak menjadi pengetahuan yang menetap (al-‘ilm).

Boleh jadi, pengetahuan manusia secara umum mewujud setelah manusia berinteraksi dengan lingkungannya berkat pengamalan inderawi. Terkait hal ini, para mufasir sudah cukup banyak menyajikan penjelasan tentang makna al-asma’ kullaha. Suatu pengetahuan yang menetap menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah di muka bumi. Begitu pun dengan Adam pada frase ini yang dihubungkan dengan ayat sebelumnya.

Frase yang indah pada QS. al-Baqarah:31 ini dalam perspektif tafsir pendidikan bisa dijadikan dasar untuk menggali pesan Ilahi untuk pengembangan teori pendidikan. Al-Qur’an bukan kitab teori, namun di dalamnya memuat isyarat-isyarat yang dapat dijadikan dasar untuk pendidikan.

Seperti halnya pada frase ini, muatan komponen dan pemaknaannya meneguhkan sebuah pemahaman bahwa interaksi pembelajaran sejatinya dapat ditemukan melalui isyarat al-Qur’an.  Ini baru pada satu frase dalam ayat, belum lagi jika kata ‘allama digali pada ayat lain. Pembaca dan pemerhati pasti akan menemukan makna lain. Wallahu A’lam.

Penyunting: An-Najmi