Pada artikel sebelumnya yang berjudul, Makna dan Ragam Amanah di dalam Al-Quran telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya membahas terkait ibadah, melainkan juga tentang muamalah yang mencakup ahlak terpuji dan tercela. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas khianat beserta penafsirannya perspektif Quraish Shihab.
Pengertian Khianat
Khianat merupakan lawan kata dari amanah. Menurut Khairudin dan Abidin dalam Penafsiran Ayat-Ayat Amanah dalam Al-Quran, khianat berarti perbuatan tidak menjaga. Atau tidak melaksanakan apa yang menjadi amanah atas orang lain maupun Nabi dan Rasul-Nya.
Adapun khianat merupakan salah satu ciri orang munafik seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; apabila berbicara berbohong; apabila berjanji mengingkari; dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Muslim)
Dalil-Dalil yang Melarang Khianat
1. QS. Al-Anfal: 27
Di antara dalil yang melarang perilaku khianat adalah QS. Al-Anfal: 27 yang artinya, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul Muhammad dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui.”
Ayat di atas, menurut penafsiran Ibnu Katsir memiliki poin penting dalam ibrahnya. Yakni khianat yang dimaksud adalah dosa kecil maupun dosa besar yang disengaja maupun tidak sebisa mungkin harus berusaha untuk dihindari.
2. QS. Yusuf: 52
Dalil kedua yang mengisyaratkan pelarangan khianat terdapat dalam QS. Yusuf: 52 yang berbunyi, “Yang demikian itu agar Dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa, “Sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasannya Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat”.
Adapun makna dalil kedua ini adalah mengisahkan tentang Nabi Yusuf bahwa ia tidak akan pernah berani untuk mengkhianati Al-Aziz. Dijelaskan pula bahwa Allah SWT juga tidak akan meridai perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang-orang yang berkhianat.
Berdasarkan kedua penafsiran ayat Al-Qur’an di atas, maka dapat diketahui bahwa khianat telah dilarang oleh Allah SWT. Oleh karena itu, pelajaran yang dapat diambil sudah semestinya seseorang dapat selalu bersikap jujur dan amanah.
3. QS. Al-Hajj: 38
Terjemahan ayat ini, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.”
Dalam ayat di atas, merujuk pada Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir memiliki arti bahwa Allah SWT akan senantiasa membela dan melindungi orang-orang yang beriman dari tipu daya orang-orang musyrik. Sementara itu, Allah SWT juga memberi peringatan bahwa Allah SWT tidak suka dan sangat murka kepada orang-orang kafir dan mereka yang berkhianat.
Penafsiran Khianat Perspektif Quraish Shihab
Setelah memahami penjelasan di atas, kali ini penulis akan memaparkan pemahaman khianat menurut Quraish Shihab yang merujuk pada Q.S. At-tin: 4 yang artinya, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Berdasarkan ayat di atas, Quraish Shihab memahami kata “menciptakan” atau dalam bahasa Arabnya yakni “khalaqna” menunjukkan bahwa penciptaan manusia melibatkan pihak lain setelah Allah SWT yakni orangtua dari anak tersebut. Adapun maksudnya yakni bapak ibu dari seorang anak memiliki peran penting dalam faktor pembentukan kepribadian anak serta fisiknya.
Hal ini kemudian berhubungan dengan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari dimana jika ia bersumpah akan melakukan sesuatu maka ia harus melaksanakannya. Dengan kata lain, ucapan seseorang harus diiringi dengan bukti nyata dari tindakannya. Namun jika tidak seimbang, maka ia dapat dicap sebagai seorang yang berkhianat dengan perkataannya sendiri, dan sifat tersebut dapat muncul karena faktor gen maupun disebabkan oleh lingkungan sekitar yang berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.