Perdebatan mengenai filsafat tidak akan ada habisnya, satu golongan mengharamkan kemudian golongan lain membolehkan bahkan mewajibkan. Selain filsafat dipahami untuk memahami, filsafat juga harus diimbangi dengan iman. Masalah utama dari golongan yang mengharamkan filsafat bahwa rata-rata seorang filsuf itu ateis alias tidak mempercayai Tuhan.
Padahal itu hanya sekelumit filsuf, tidak semua filsuf itu ateis. Dosen saya pernah menyampaikan, saat kamu berbicara artinya kamu sedang berfilsafat. Saat kamu membaca artinya kamu sedang berfilsafat, dan saat kamu menulis pun kamu sedang berfilsafat. Karena hakikat filsafat adalah “paham.”
Bahkan Al-Quran sebagai rujukan utama dalam menentukan segala sesuatu baik hukum, muamalah dan lain sebagainya perlu untuk ditafsirkan secara baik, dan mendekati kebenaran secara nyata agar kita “paham” maksud ayat yang Allah firmankan kepada kita manusia. Seorang mufassir adalah orang yang paham gramatika bahasa Arab secara mendalam, paham fikih, paham ulumul Qur’an, selain itu soerang filsuf juga harus baik akal budinya dan jiwanya. Karena tidak mungkin seorang mufassir itu adalah orang gila.
Filsafat dalam Al-Quran
Di dalam Al-Quran sendiri memang tidak ditemukan kata filsafat. Karena Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sedang filsafat berasal dari bahasa Yunani. Al-Quran hanya banyak menyebut kata hikmah, yang berakar sama dengan sifat Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Jika Al Quran adalah wahyu yang diberikan khusus kepada Nabi dan Rasul, maka hikmah yang terdapat dalam Al-Quran tersebut diberikan kepada siapa saja yang di kehendaki-Nya (lihat QS Al-Baqarah: 269), dengan syarat apabila manusia tersebut mau dan mampu mengoptimalkan penggunaan akalnya dengan cara membaca dan memahaminya.
Salah satu contoh seseorang harus memahami menggunakan akalnya adalah tentang bagaimana memahami ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat yang jelas dan tegas maksudnya) dan ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat yang sulit dipahami) (lihat QS Ali Imran : 7). Ayat-ayat muhkamat mungkin mudah dipahami, tetapi ayat-ayat mutasyabihat menuntut pembacanya melakukan interpretasi, penafsiran atau takwil yang mana sangat dibutuhkan pemahaman yang mendalam atau berfikir filosofis.
Dalam ayat mutasyabihat yang perlu kita takwil untuk mengetahui maksudnya. Di sinilah fungsi dari filsafat berlaku, untuk mendukung ilmu gramatika bahasa Arab seorang mufassir dalam menafsirkan Al-Quran. Dalam tinjauan Al-Quran filsafat sendiri tidak dilarang bahkan menganjurkan untuk berfilsafat, misalnya dalam surat Ar-Rum ayat 8;
اَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُوۡا فِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَاۤ اِلَّا بِالۡحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىؕ وَ اِنَّ كَثِيۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمۡ لَـكٰفِرُوۡنَ
Artinya : “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.”
Al-Quran dan Ajakan Berfikir Mendalam
Ayat ini mengajak berpikir, karena pada ayat ini Allah mengajukan pertanyaan “dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?”. Bisa dipahami ketika ada suatu pertanyaan haruslah dipikirkan jawabannya. Apalagi itu pertanyaan langsung dari Allah, memikirkan jawabannya perlu alat bantu yang disebut filsafat. Dalam ayat lain misalnya surat Al-Baqarah ayat 164;
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَالۡفُلۡكِ الَّتِىۡ تَجۡرِىۡ فِى الۡبَحۡرِ بِمَا يَنۡفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنۡ مَّآءٍ فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيۡهَا مِنۡ کُلِّ دَآ بَّةٍ وَّتَصۡرِيۡفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّعۡقِلُوۡنَ
Artinya : “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang. Kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”
Pada ayat ini juga tidak jauh berbeda dengan ayat sebelumnya. Mengajak kita berpikir memaknai al-Quran atau ayat ini dengan jalan interpretasi, akal budi atau filsafat.
Penyunting: Bukhari































Leave a Reply