Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ahli Ibadah Ditolak Surga, Kok Bisa?? Ini Penyebabnya!

ahli
Sumber: laduni.id

Ada sebuah pertanyaan besar yang terbesit dalam benak penulis. Tatkala mendengar kisah yang disampaikan oleh seorang ustadz pada momentum hari raya fitri. Beliau menyinggung kisah seorang wanita ahli ibadah yang pernah hidup di masa Nabi Muhammad Saw. Dia tidak pernah melewatkan sholat tahajjud, sedekah, puasa, dsb. Akan tetapi, ketika para sahabat melapor sambil menyanjung wanita itu, Nabi mengatakan bahwa ia bukanlah ahli surga. Artinya, dia tak lain adalah penghuni neraka. How can it be?…

Usut punya usut, ternyata wanita yang dikatakan ahli surga tersebut memiliki kebiasaan buruk yang tidak patut kita teladani, yakni tidak mampu menjaga lisannya dari berkata buruk sehingga menyakiti hati tetangganya sendiri.

Pasalnya, hal tersebut seakan dianggap bukan sebuah masalah. Terlebih bagi manusia era moderen yang kerap kali mudah melontarkan kata-kata yang tidak mengenakkan. Entah lewat dunia nyata, ataupun dunia maya. Maka, mari kita belajar berfikir 1000 kali sebelum melontarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Kita tengok akibat di atas, imbalannya adalah siksa. (na’udzu billahi min dzaalik yaa rabb)

Masuk Surga Karena Rahmat, Nggak Usah Beramal Dong?

Kawan, mari kita belajar memahami bahwa syaithan itu tak pernah lelah untuk menipu daya. Termasuk membisikkan keraguan dalam hati manusia seperti pertanyaan di atas. So, yuk berusaha untuk selalu percaya bahwa sebenarnya akar masalahnya bukan terletak pada amal ibadahnya, melainkan kualitas dari amal ibadah yang dilakukan. Ada sebuah pembahasan menarik yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali terkait problema yang relevan dengan prolog di atas. Sekaligus termaktub dalam salah satu karya beliau yakni kitab Minhajul ‘Abidin. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa ibadah itu ada 2 bagian. Pertama, Iktisab,yaitu ibadah dengan melakukan suatu usaha sepertihalnya ibadah mahdhah. Kedua, Ijtinab, yaitu ibadah dengan menjauhi perbuatan maksiat dan berbagai bentuk keburukan dan dosa.

Baca Juga  Mengambil Pelajaran Rasa Kepo Kisah Nabi Adam dan Hawa di Surga

Sayangnya… dominasi suara mayoritas hanya terfokus pada iktisab namun mengesampingkan ijtinab. Padahal, bila dicermati lagi, 2 ibadah tersebut tidak terpisahkan. Andai kata dipisah, maka tidaklah menjadi sempurna. Sebagaimana contoh kisah wanita diatas. Ia memperbanyak iktisabdengan ibadah-ibadah ekstra. Namun, ia lupa ber-ijtinab dengan cara menjaga lisannya.

Mengutip dari ceramah yang disampaikan oleh al-Ustadz Adi Hidayat, beliau mengatakan bahwa sejatinya semua hamba mendapatkan apapun yang ada dalam kehidupan ini, tak lain adalah karena rahmatAllah Swt. Ikhtiar kita untuk mendapat rahmat Allah Swt. adalah dengan beramal shalih, maka rahmat Allah Swt. hakikatnya bisa diraih dengan melakukan amal shalih.

Ketika manusia merasa bahwa amalnya sudah cukup ataupun beranggapan bahwa dirinya sudah ahli dan baik, sejatinya hal itulah yang menyebabkan amal tersebut kurang baik dan menjadi tidak berkualitas di sisi Allah Swt. Bahkan, bisa jadi tidak termaktub sebagai amalan yang menempati derajat “shalih”. Sebab, amalan yang demikian tidak mendatangkan ridha dan rahmat dari Allah Swt.

Memahami Zahiriah Saja Itu Tidak Cukup!

Dari uraian di atas, penulis semakin menyadari bahwasanya segala amal yang diusahakan dan dipandang baik oleh manusia lain secara zahiriah saja, belum tentu bisa menjamin seorang  untuk mendapatkan tiket ahli surga. Ingat, bahwa dibalik syari’at itu ada hakikat. Di balik perkara zahir, ada perkara batin yang tak seorangpun mampu menjangkaunya dengan pemahaman sempurna kecuali Dzat yang Maha Tahu.  Rasulullah pernah bersabda:

إِنَّماَ نَحْكُمُ بِالظَاهِرِ وَاللهُ يَتَوَلَّى السَرَائِر

Kami dapat menghukumi dari sisi lahiriah, sedangkan Allah Swt. mengetahui yang tersembunyi.”

Oleh karenanya, hendaklah kita memiliki hati yang lapang nan tawadhu’. Bahwa, tak ada yang pantas disombongkan dari diri kita, atau semua amal baik yang kita lakukan.

Baca Juga  Ragam Penafsiran Makanan pada Kata Ṭa’am dalam Al-Qur’an

Sebagai penguat bahwa sebenarnya masuk surga itu bukanlah mutlak karena amalan manusia, tapi karena rahmat Allah Swt., maka mari simak sabda Rasulullah di bawah ini:

عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ ، وَلَا أَنَا ، إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Jabir berkata, aku mendengar Nabi Saw. bersabda, “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah Swt.” (HR Muslim).

Do’a Memohon Rahmat Allah Swt.

Begitu banyak cara yang dapat kita tempuh untuk mendapat rahmat dan ridha dari Allah Swt. Asalkan, cara yang kita lakukan benar-benar bermuara hanya kepada-Nya, bukan untuk selain-Nya. Dan menyadari betul akan betapa tak berdayanya manusia tanpa rahmat dari-Nya. Salah satu samudera kelapangan hati itu tersimbol dalam do’a dibawah ini:

رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا  فَا غْفِرْ  لَـنَا  وَا رْحَمْنَا  وَاَ نْتَ  خَيْرُ  الرّٰحِمِيْنَ

Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik.” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 109)

Maka, jangan pernah menyerah untuk berusaha menggapai rahmat Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt. telah memberikan motivasi bagi semesta manusia melalui risalah cinta-Nya, tepat pada QS. Yusuf ayat 87:

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Swt. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah Swt., melainkan kaum yang kafir.

Tulisan ini bukan sebatas kritik sosial terhadap fenomena diluar diri penulis. Melainkan,sebuah bahan perenungan tersebab kehampaan jiwa yang tengah melanda. Jiwa yang mudah goyah ketika diterpa ombak kehidupan, sehingga menimbulkan efek keputusasaan. Yang seringkali mendewakan amalan-amalan lantas mendiskreditkan haibah Islam. Dengan cara enggan menjaga lisan ataupun masih senang mendekati hal-hal syubhat yang mengundang gejolak kegelisahan.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Kahfi Ayat 13-14: Pemuda yang Dirindukan Surga

Wallahu Ta’ala A’lam… Hasbunallah…

Editor: An-Najmi