Istilah pendidikan karakter terdiri dari dua frase yaitu pendidikan dan karakter. Pertama, pada dasarnya pengertian pendidikan itu sendiri, menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang sangat diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut Ki Hajar Dewantara sendiri menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan fitrah yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai makhluk allah (manusia) dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan yang hakiki dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sedangkan, pengertian dari karakter itu sendiri merupakan seperangkat sifat yang berasal dari tingkah laku atau kebiasaan manusia serta tanda-tanda kebaikan dan kematangan moral seorang. Secara etimologi, istilah karakter berasal dari bahasa latin character, yang memiliki arti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, kebiasaan, budi pekerti, kepribadian serta akhlak seseorang.
Tantangan Pendidikan
Namun yang terjadi pada saat ini fenomena deislamisasi dan indoktrinasi serta westernisasi bukanlah isu dan pergerakan kekinian semata, sejak zaman buya hamka, polemik islam dengan kelompok anti Islam telah berlangsung, bahkan benih-benihnya telah ditanam sejak masa kolonial belanda masuk ke nusantara indonesia dengan semangat gold, glory, dan gospelnya. Lalu, sejak berakhirnya perang dingin antara barat dengan komunisme, Islam ditentukan sebagai musuh utama barat menggantikan komunisme, Clash of Civilization (Perang Peradaban) Antara Barat (Kristen) dan Timur (Islam) berdasarkan teori Samuel Huntington menjadi kenyataan.
Islam itu sendiri merupakan satu-satunya peradaban yang pernah menguasai barat dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu 7 abad atau 700 tahun, dan dianggap pula sebagai satu-satunya kekuatan yang sangat perlu diwaspadai dan harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya jika barat ingin tetap menguasai dunia.
Sehingga dengan melihat kenyataan tersebut, Barat pun tak segan-segan menggelontorkan dana jutaan dollar untuk program-program deislamisasi dan liberasi di negeri muslim, khususnya di nusantara indonesia, dalam segala bidang, mulai dari bidang pemikiran, pendidikan, sosial, budaya, dan politik, bahkan sampai ekonomi.
Tujuan deislamisasi dan liberalisasi ini adalah upaya untuk menjauhkan umat islam dari ajaran islam itu sendiri. Sebab umat islam akan menjadi semakin kuat dan tidak terkalahkan ketika ajaran yang berasal dari sang khalik yang disampaikan melalui baginda nabi muhammad shalallahu alaihi wassalam (islam) telah menyatu dalam hatinya, Saya tegaskan sekali lagi ketika ajaran islam itu sendiri telah menyatu dalam hatinya.
Dan melihat kenyataan ini sungguh mengkhawatirkan bagi masa depan peradaban generasi islam itu sendiri, Sehingga dampak nya begitu luar biasa menghantam citra islam dan esensi dari ajaran islam di mata dunia, Maka tak heran jika banyak dari kalangan umat islam yang telah menciderai esensi dari ajaran islam itu sendiri. Seperti kasus predator seksual yang pernah ramai di jawa barat dan kasus pencabulan sesama jenis/LGBT yang terjadi di pondok pesantren kuningan. Kasus tersebut menjadi pukulan telak bagi kita semua khusus nya umat islam di nusantara dan citra islam di penjuru dunia. Dan hal itu sangat beresiko melahirkan islamopobhia di nusantara.
Lalu pertanyaannya, Siapa yang perlu disalahkan? Tentu saja bukan ajaran islam yang dikambing hitamkan. Mari kita bahas sedikit penyebab dari kasus yang pernah di alami oleh para hafidz Qur’an tersebut. Pertanyaan yang terlintas pada masyarakat adalah bagaimana bisa seseorang yang kebiasaannya berinteraksi dengan al-Qur’an dan sepanjang harinya menghafal ayat suci al-Qur’an namun bisa melakukan hal yang sangat keji itu? Jawabannya adalah kedekatan mereka dengan al-Qur’an hanyalah sebatas kedekatan secara fisik bukan kedekatan secara qolbu/hati, Sehingga mereka sendiri tidak mampu untuk mengaktualisasikan isi kandungan dari kitab suci al-Qur’an kedalam karakternya.
Metode Pendidikan Karakter Perspektif Islam
Metode pendidikan yang terjadi saat ini, baik di dunia pendidikan formal maupun non formal hanya sebatas menyentuh ke ranah kognitif saja, sehingga ranah afektif dan psikomotorik kurang tersentuh. Akibatnya peserta didik cenderung memilih untuk memperindahkan akalnya dibandingkan hatinya. Sehingga ilmunya hanya sebatas sampai pada kerongkongannya namun tidak sampai ke hatinya. Dan itu menjadi akar dari rusaknya karakter seseorang.
Sedangkan, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda, ‘Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini pun merupakan dalil yang menegaskan bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di otak. Demikian yang disimpulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah.
Lalu apa yang dimaksud baiknya hati?
Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:
- Yang dimaksud baiknya hati adalah memiliki rasa takut pada Allah dan siksanya.
- Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat taqorrub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridho Allah.
- Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.
Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan dari guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, itu semua tergantung pada baiknya hati. Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Semoga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.”
Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala tho’atik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan). Wallahu’alam bishowwab.
Editor: An-Najmi





























Leave a Reply