Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memaknai ‘Jiwa yang Tenang’ dalam Tafsir & Psikologi

Jiwa nan Tenang
Sumber: pinterest.com

Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, arus informasi yang begitu cepat, serta tuntutan hidup yang semakin kompleks sering menjadi pemicu terjadinya kecemasan bagi banyak orang. Pesatnya perkembangan zaman bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi memberi kemudahan akses dalam banyak hal, namun di sisi yang lain membuka peluang derasnya persaingan, tekanan sosial, dan ketidakpastian di masa depan. Semua itu tampaknya membuat individu merasa terbebani. Begitu pula perubahan ekonomi dan sosial yang cepat; menuntut adaptasi terus-menerus yang tidak jarang menimbulkan rasa lelah pada mental.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 4% populasi global mengalami kecemasan. Artinya, ada sekitar 300 juta manusia di muka bumi berjuang dengan kecemasannya.[1] Modernitas menjadikan manusia semakin jauh dari nilai spiritual dan makna kehidupan. Kebahagiaan dan ketenangan adalah entitas yang manusia gadang-gadangkan. Lalu, sebenarnya apa makna tenang dan bahagia?

Makna Jiwa yang Tenang dalam Tafsir

Al-Qur’an telah menyinggung perihal ketenangan dengan memanggil ‘jiwa yang tenang’ dalam surah Al-Fajr 27 – 30. Ayat ini menggambarkan fase akhir perjalanan hidup seorang mukmin.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Menariknya, Allah memanggil jiwa tersebut dengan sifat ‘tenang’ (muṭmaʾinnah), bukan ‘bahagia’ (sa‘idah). Mengapa istilah ketenangan yang digunakan? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengkaji makna muṭhmaʾinnah dalam tafsir era modern dan menghubungkannya dengan konsep-konsep psikologi modern tentang kesejahteraan batin.

Baca Juga  Kelemahan Manusia dalam Al-Qur’an: Telaah Ayat Psikologi

Jika merujuk pada tafsir Ibnu ‘Ashur ketika menjelaskan يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ beliau menjelaskan seruan dalam ayat itu terjadi pada hari pembalasan. Ia menjelaskan bahwa kabar itu hadir sebagai bentuk berita gembira bagi orang-orang yang mendapatkan surga Allah. Karenanya, mereka memiliki hati yang tenang.

Lebih lanjut, Ibnu ‘Ashur memaparkan bahwa muthmainnah adalah isim fa’il dari ithmaanna yang berarti tenang, tidak gelisah, dan tidak terganggu. Maksud dari ketenangan di sini adalah tidak ragu akan nasibnya di dunia karena keyakinan yang benar. Yaitu, keyakinan akan janji Allah sehingga menjalani kehidupan dengan makna dan tujuan yang jelas.[2]

Kebahagiaan dalam Bingkai Psikologi

Dalam kajian psikologi, kebahagian memiliki beberapa bentuk, seperti kehidupan yang menyenangkan (pleasant life), kehidupan yang penuh keterlibatan (engaged life), dan kehidupan yang bermakna (meaningful life). Pembagian ini sejalan dengan dua pendekatan bahagia, yakni hedonic dan eudaimonic.

Pendekatan hedonic menekankan aspek bahagia dengan perasaan senang dan bebas dari penderitaan. Akar filosofis dari pendekatan bahagia model ini adalah pemikiran Hobbes, Locke, hingga Bentham dan Mill. Daniel Kahneman bahkan memperluas konsep bahagia dengan perasaan senang yang diukur secara real-time melalui experience.

Namun, banyak pemikir yang mengatakan bahwa bahagia tidak hanya dapat diukur dengan rasa senang. Di sinilah muncul pendekatan eudaimonic yang berakar pada gagasan Aristoteles dengan kehidupan yang baik, yang berjalan dengan kebajikan, kehati-hatian, rasionalitas, dan kontribusi. Eudaimonic bukan sekadar menikmati hidup, melainkan mengembangkan potensi diri, memiliki tujuan hidup, dan menjalani hidup yang bermakna.[3]

Dari penjelasan  di atas, konsep nafs muthmainnah lebih sejalan dengan konsep eudaimonic, yakni kebahagiaan yang mendalam dan tahan lama serta memiliki hubungan dengan makna dan tujuan hidup. Viktor Frankl menekankan bahwa manusia yang menemukan makna hidup mampu menghadapi penderitaan dengan tenang. Hal ini jelas selaras dengan konsep nafs muthmainnah.

Implikasi terhadap Kesehatan Mental

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan hidup berkorelasi dengan kesehatan mental yang baik, termasuk di dalamnya kecemasan yang rendah. Namun, realita modern membawa manusia kepada rasa cemas yang tinggi. Kecemasan adalah kondisi di mana perasaan dan pikiran gelisah, khawatir akan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan secara umum. Dampak kognitif dari kecemasan dapat mengurangi pola pikir optimis dan menyeluruh yang diperlukan dalam menjalani kehidupan.[4]

Baca Juga  Covid-19 dan Al-Quran Sebagai Sumber Ketenangan

Terdapat hubungan dua arah antara kecemasan dan tujuan hidup. Jika tujuan hidup lebih besar, maka tingkat rasa cemas lebih rendah. Kurangnya tujuan hidup dapat berperan secara kausal dalam meningkatkan risiko berkembangnya kecemasan atau depresi. Lalu pertanyaannya, bagaimana menentukan tujuan hidup?

Mengutip website satu persen–sebuah platform kesehatan mental yang mengutip dari David B.Feldman–bahwa menentukan tujuan hidup perlu melihat beberapa hal. Di antaranya: menentukan hal penting dalam hidup, tetapkan prinsip, tentukan secara jelas tujuan hidup, realistis dalam menciptakan tujuan, dan ciptakan tujuan yang dapat tercapai, bukan malah menghindarinya.[5]

Selain penjelasan David B. Feldman, penulis menambahkan satu aspek yang tak kalah penting sebelum menentukan tujuan hidup, yakni mengenali diri sendiri. Proses ini melibatkan penggalian mendalam terhadap diri dengan berbagai pertanyaan fundamental guna membangun konsep diri yang jelas. Pertanyaan tersebut mencakup: nilai-nilai transenden yang ia yakini, latar belakang keluarga yang membentuk diri, kesukaan dan hal yang tidak ia senangi, serta peran seperti apa yang membuat seseorang merasa menjadi dirinya seutuhnya. Dengan memahami jawaban ini, seseorang dapat memiliki dasar yang lebih kokoh dalam menentukan tujuan hidup.

Akhir Kata: Jiwa Tenang, Hidup Bahagia

Ketenangan yang tergambar dalam QS. Al-Fajr [89]: 27-30 menunjukkan bahwa konsep ketenangan adalah dengan meyakini janji Allah dan memiliki makna hidup serta tujuan yang jelas. Tafsir Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa jiwa yang tenang adalah jiwa yang bebas dari kegelisahan karena besarnya rasa percaya pada janji Allah.  Hal ini sejalan dengan konsep eudaimonic dalam psikologi modern; kebahagiaan yang mendalam, berbasis makna dan bertahan lama.

Dalam konteks modern yang penuh tekanan, manusia sering kali mengalami kecemasan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa menemukan makna dan tujuan hidup akan meningkatkan kesejahteraan batin. Mengenali diri sendiri dan beberapa proses yang David B.Feldman sebutkan merupakan langkah penting untuk menentukan tujuan hidup. Dengan begitu, konsep nafs muthmainnah dalam QS. Al-Fajr [89]: 27-30 yang sejalan dengan eudaimonic merupakan konsep yang relevan untuk menghadapi kecemasan dalam kehidupan modern.

Baca Juga  Mengatasi Anxiety dalam Kurikulum Islam: Resep Qurani

Daftar Pustaka

[1] https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anxiety-disorders

[2] Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir Tahrir al-Ma‘na as-Sadid wa Tanwir al-‘Aql al-Jadid min Tafsir al-Kitab al-Majid,Tunis: ad-Dar at-Tunisiyyah lin-Nasyr, 1984.

[3] M. Joseph Sirgy, The Psychology of Quality of Life; Hedonic Well-Being, Life Satisfaction, and Eudaimonia, New London: Springer Science+Business Media B.V, 2012.

[4] Ian D. Boreham and Nicola S. Schutte, “The Relationship between Purpose in Life and Depression and Anxiety: A Meta‐Analysis,” Journal of Clinical Psychology 79, no. 12 (2023).

[5] https://satupersen.net/blog/tujuan-hidup-memahami-dan-merencanakannya. Tanggal akses: 05 Agustus 2025.

Editor: Dzaki Kusumaning SM