Cinta Bukan Hanya Perasaan, tetapi Juga Sebuah Bahasa
Bahasa cinta atau cinta digunakan sebagai konsep dengan penggunaan praktis dalam memelihara rasa apresiasi dan kepedulian dalam hubungan di antara kaum muda. Ide ini dibawa oleh Gary Chapman dalam bukunya, The Five Love Languages. Namun, apakah kita tahu bahwa konsep bahasa cinta sebenarnya sudah lama menjadi bagian dalam ajaran Islam, terutama dalam mawaddah wa rahmah yang terdapat dalam Al-Qur’an?
Mawaddah wa Rahmah: Cinta yang Bertumbuh dan Menguatkan
Dalam QS. Ar-Rum ayat 21, Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan Anda dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini menjadi landasan utama dalam hubungan rumah tangga yang berlandaskan pada cinta dan kasih sayang. Mawaddah bermakna cinta yang aktif, bukan sekadar perasaan, tetapi cinta yang seyogyanya berwujud tindakan. Sementara rahmah adalah bentuk kasih sayang yang luas dan penuh pengorbanan, tidak terbatas pada kondisi atau balasan.
Para ulama memberikan penafsiran yang memperkaya makna ayat ini. Imam Fakhruddin al-Razi menyatakan bahwa mawaddah adalah cinta lahiriah yang terwujud dalam perbuatan, sedangkan rahmah adalah kasih sayang batin yang memunculkan toleransi dan sikap saling menanggung.[1]
Imam al-Qurthubi menafsirkan bahwa mawaddah dapat bermakna hubungan suami-istri secara fisik (jimak). Sementara itu, rahmah adalah anak atau bentuk keberlangsungan cinta yang lahir dari hubungan tersebut. Namun ia juga mengakui adanya makna spiritual dari kedua istilah tersebut.[2]
Imam al-Tabari mengungkapkan bahwa Allah menanamkan cinta dan kasih sayang dalam hati masing-masing pasangan agar mereka merasa tenteram satu sama lain, tidak gelisah meski dalam cobaan.[3]
Bahasa Cinta dalam Islam
Psikolog Gary Chapman pernah menyebutkan lima bentuk bahasa cinta: kata-kata penegasan, tindakan pelayanan, menerima hadiah, waktu berkualitas, dan sentuhan fisik. Menariknya, dalam tradisi Islam, bentuk kelima ini juga tercermin dalam praktik hidup Rasulullah Saw. bersama istri-istrinya.
- Word of Affirmation: Rasulullah Saw. sering memanggil Aisyah ra. dengan sapaan lembut, seperti “Humaira” (yang kemerah-merahan pipinya), serta tak segan memuji dan menyampaikan perasaan cintanya secara verbal.
- Acts of Service: Beliau juga membantu pekerjaan rumah tangga, menjahit bajunya sendiri, dan tidak segan meringankan beban istrinya.
- Menerima Hadiah: Rasulullah adalah orang yang gemar memberi hadiah dan bersabda, “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR.Bukhari)
- Quality Time: Beliau menghabiskan waktu berkualitas dengan istri-istrinya, mendengarkan cerita, bercanda, hingga ikut lomba lari bersama Aisyah.
- Sentuhan Fisik: Bahkan saat wudhu dari satu wadah udara bersama Aisyah, tangan mereka sering bersentuhan, menunjukkan kehangatan yang lembut dan penuh makna.
Komunikasi: Jembatan Cinta yang Tak Pernah Usang
Aspek komunikasi selalu berada di belakang setiap bentuk cinta. Banyak konflik rumah tangga terjadi bukan karena cinta memudar, tetapi karena kesalahan dalam menyampaikan dan menerima cinta. Pada akhirnya, konsep mawaddah wa rahmah hadir sebagai panduan spiritual psikologis sekaligus dalam membangun komunikasi pasangan.
Rahmah mengajarkan empati, pengertian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Sedangkan mawaddah menekankan ekspresi cinta yang konsisten. Pasangan yang memahami ini akan lebih mudah membaca kebutuhan emosional satu sama lain, tidak terjebak dalam prasangka atau ekspektasi yang tidak tersampaikan.
Rekonstruksi Makna Mawaddah dan Rahmah di Era Modern
Tantangan pernikahan masa kini jauh lebih kompleks. Pasangan harus menghadapi tekanan pekerjaan, peran ganda dalam keluarga, hingga godaan digital yang mengganggu fokus hubungan. Oleh karena itu, penting untuk merekonstruksi ulang konsep mawaddah wa rahmah agar relevan dalam konteks kekinian.
Tantangan untuk menikah, jika dibandingkan dengan masa lalu, kini terlihat lebih rumit atau kompleks karena berkaitan dengan pemenuhan aktivitas lain. Ditambah tekanan pekerjaan, peran ganda dalam keluarga, hingga call out digital yang merampas pojok fokus antara dua sejoli. Maka dari itu, rekonstruksi konsep mawaddah wa rahmah menjadi teramat penting agar dapat relevan dalam konteks kekinian.
Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Kenali bahasa cinta pasangan: Tidak semua orang nyaman menunjukkan cinta dengan kata-kata. Ada yang lebih suka memberi bantuan atau cukup merasa dicintai saat diajak ngobrol hangat tanpa gangguan.
- Bicara dari hati, bukan emosi: Komunikasi dalam semangat rahmah harus berangkat dari niat menyambung hati, bukan memenangkan debat.
- Jadikan agama sebagai inspirasi, bukan alat kontrol: Mengutip nasehat KH Husein Muhammad, “Cinta yang bertuhan tidak menindas.” Maka, nilai-nilai Islam harus menjadi cahaya, bukan bayangan yang menakutkan.
Islam yang Romantis dan Relevan
Konsep bahasa cinta dalam Islam bukanlah hal baru, namun sering terabaikan. Padahal, ajaran Islam menyimpan kekayaan nilai cinta yang hangat, egaliter, dan penuh kebaikan. Dengan merujuk pada mawaddah wa rahmah, kita diajak untuk membangun hubungan pernikahan yang sehat. Yaitu cinta yang tidak hanya manis di awal, tetapi juga menguatkan dalam perjalanan panjang kehidupan.
Sebagaimana yang al-Syatibi tegaskan dalam Maqashid Syariah-nya, pernikahan bertujuan menjaga keturunan dan jiwa (hifzh al-nasl dan hifzh al-nafs), maka mawaddah dan rahmah adalah instrumen penting untuk mewujudkan tujuan agung ini.[4]
Editor: Dzaki Kusumaning SM
[1] Fakhruddin al-Razi, Tafsir al-Kabir, (Beirut: Dar al-Fikr, Juz 25), hlm. 71.
[2] Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964), Juz 14, hlm. 16.
[3] Al-Tabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2000, Juz 21), hlm. 7.
[4] Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Usul al-Shari’ah, Riyadh: Dar Ibn ‘Affan, 1997, Juz 2, hlm. 16–18.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.