Hiruk-pikuk kehidupan manusia di era covid-19 menimbulkan gelombang kegelisahan yang membabi buta. Kepastian kepada ujung penantian yang dirasa butuh kesabaran begitu ekstra, menimbulkan akan masalah kejiwaan yang diselimuti kecemasan.
Obat mujarab yang menjadi sasaran seakan dicari-cari. Berangkat dari mengonsumsi obat-obatan terlarang, yang secara gamblang justru melanggar norma agama dan negara. Tidak ada obat mujarab di era covid-19 ini, selain daripada membaca kitab suci al-Qur’an. Bila perlu dibarengi dengan menelaah isi-isi kandungannya. Berikut uraian ringkas manfaat membaca kitab suci al-Qur’an bagi pelakunya:
Keilmiahan Al-Qur’an Sebagai Sumber Ketenangan
Seorang filsuf bernama William James berkebangsaan Amerika menuturkan bahwasanya terapi terbaik bagi seseorang yang dilanda kecemasan adalah ketauhidan atau keimanan kepada Tuhan. Hal seirama pun diutarakan A.A. Brill penganut psikoanalisis, beliau menuturkan bahwasanya pribadi yang berjiwa religius mustahil mengidap penyakit sakit jiwa. (Sarihat, 2021)
Dari sudut pandang ilmu tasawuf sendiri, hal-hal yang berkenaan dengan kekhwatiran, kegelisahan, serta kecemasan yang merembet kepada problem psikologis. Disebut sebagai penyakit jiwa yang umumnya terjadi di kalangan masyarakat modern yang modernis maupun hedonis. Serta selalu hanyut dengan kesibukan yang bersifat duniawi yang menjerumuskan. Yang pada ujungnya menjerumuskan pada keringnya keimanan. (Sarihat, 2021)
Dikisahkan bahwa ada sebuah klinik yang berlokasi di Florida Amerika Serikat, menelurkan penelitian yang digawangi oleh Dr. Al-Qadhi yang berhasil menghasilkan sebuah riset yang cukup energik. Yaitu sebuah pembuktian bahwasanya hanya dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an seseorang akan merasakan perubahan yang sifatnya fisiologis.
Di antaranya: penurunan depresi, kesedihan, serta ketenangan jiwa. Tak sampai disitu, ayat-ayat suci al-Qur’an juga dapat dijadikan tameng dalam menangkal penyakit-penyakit yang menghantui lainya. (Sarihat, 2021, p. 42)
Urgensi Ketenangan Bagi Manusia Beragama
Wahbah Az-Zuhaili memaknai ketenangan dengan ‘’sakinah’ yaitu nuansa diselimuti dan dipenuhi kekokohan hati dan atau at-tsahat dan at-tuma’ninah (ketenangan jiwa). Istilah jiwa sendiri yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an selalu disebut dengan nafs serta ditemukan sebanyak 297 kali, dengan berbagai frase seperti halnya dalam shigat (bentuk) mufrad (tunggal) 140 kali, dan shigat (bentuk) jama’ terdapat dua model kata, yaitu nufus yang terdapat sebanyak 2 kali, anfus 153 kali, serta shigat (bentuk) fiil (kata kerja) 2 kali. (Sarihat, 2021, p. 36)
Tak hanya itu, tokoh tafsir Muhammadiyyah HAMKA menuturkan bahwa melalui berdzikir, secara tidak langsung akan berimbas dengan sendirinya kepada ketentraman hati. Melenyapkan pikiran kusut, hilangnya rasa putus asa, kegelisahan, kecemasan, keragu-raguan serta perasaan duka cita lainya. Tatma’inul qulub (ketentraman hati) yaitu intisari dari ashihhah (kesehatan) jasmani maupun kerohanian. Sedangkan kegelisahan dan keragu-raguan merupakan aspek sumber dari segala penyakit. (Sarihat, 2021, p. 37)
Mahmud Yunus menuturkan bahwasanya qalbu (hati) orang-orang yang beriman itu tentram dan senang. Disebabkan mereka senantiasa selalu mengingat Allah SWT, dikala susah maupun senang. Kesusahan menimpa mereka disaat itulah mereka mengingat Allah SWT serta lekas insyaf. Serta memeriksa kekhilafanya, agar dirubahnya dimasa akan datang. Begitupun sebaliknya, dikala dikarunia nikmat, mereka tidak serta merta angkuh dan sombong. Namun, justru bersyukur mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT. (Yunus, 2003, p. 355)
Hal yang Sangat Urgen Diperhatikan Orang Beriman
Oleh karenanya qalbu (hati) orang-orang yang beriman selalu diselimuti ketentraman serta ketenangan. Baik dikala waktu lapang maupun kondisi sempit, kesenangan (qalbu) hati itulah kebahagiaan yang sebenarnya, pungkas Mahmud Yunus.
Namun, yang sangat urgen untuk diperhatikan bagaimana seorang mufassir Nusantara yaitu Mahmud Yunus menekankan pentingnya menegakkan sembahyang lima kali sehari semalam. Dikarenakan, kata Mahmud Yunus, sembahyang itulah perwujudan akan mengingat Allah SWT serta pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). (Sarihat, 2021, p. 355)
Selanjutnya Mahmud Yunus menyitir sabda Rasulullah SAW, yaitu bahwa sembahyang itu tempat ketenangan jiwanya dan kesenangan hatinya. Oleh karena itu orang-orang yang menunaikan sembahyang lima kali sehari semalam, seolah-olah telah mengingat Allah SWT malam dan siang, pagi dan petang. Maka, insya Allah senantiasa dilimpahi ketenangan jiwa dan senanglah hatinya mengarungi bahtera kesukaran di dunia ini’.
Inilah tutur beliau perbedaan mendasar antara orang-orang yang semabahyang dan orang-orang yang tidak sembahyang. Untuk itu, janganlah kita merasa berat hati menunaikan sembahyang. Dikarenakan ibrah (manfaat) akan kembali kepada pribadi kita sendiri, dan bukan untuk Allah SWT. Allah SWT maha kaya dari itu. (Yunus, 2003, p. 355) Wallahu’alam
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply